(Taiwan, ROC) --- Otoritas Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tiba-tiba melarang impor buah nanas Taiwan. Hal ini tentu sangat mengecewakan bagi pihak Taiwan, yang selama ini mengekspor buah nanas ke kawasan RRT.
Pemberitaan ini juga menarik perhatian dari warga Jepang. Dalam sebuah laporan media setempat, dapat terlihat antusias warga Negeri Sakura yang beramai-ramai membeli buah nanas Taiwan. Hal ini jelas menjadi bukti akan dukungan dari Jepang terhadap warga Taiwan.
Selaku Ketua Perwakilan Republik Tiongkok (ROC) di Jepang, Hsieh Chang-ting (謝長廷) menyampaikan, buah-buahan Taiwan memiliki banyak masalah struktural, sehingga dibutuhkan perencanaan jangka panjang, guna menyelesaikan akar permasalahannya.
Pada tanggal 8 Maret 2021, Hsieh Chang-ting mendiskusikan persoalan ekspor buah nanas dengan salah satu perwakilan media Taiwan di Jepang. Ia menerangkan, produksi buah nanas Taiwan per tahunnya mencapai 430.000 ton. 90% nya dikonsumsi oleh pasar domestik, sedangkan 10% nya diekspor ke RRT, dan sekitar 90%nya dijual ke Negeri Tirai Bambu.
Pengumuman tiba-tiba yang diputuskan oleh RRT pada akhir Februari kemarin, ternyata mendatangkan reaksi tersendiri di Jepang. Banyak warga Jepang yang merasa kecewa dan antusias untuk membeli lebih banyak lagi buah nanas Taiwan.
Politikus berusia 74 tahun tersebut melanjutkan, buah-buahan Taiwan memiliki banyak permasalahan struktural yang panjang, terutama pisang dan nanas. Dengan kata lain, banyak petani kecil lokal yang tidak dapat merasakan kestabilan pasokan pasar.
Musim panen buah nanas adalah bulan Maret hingga Juni. Di satu pihak, kini mereka terus berfokus pada pemesanan, tetapi di lain pihak, belum ada produk yang dipanen.
Ia mencemaskan jika jumlah pemesanan nantinya akan melebihi total produksi yang ada. Dan jika tahun mendatang, RRT membuka kembali pintu mereka, maka dicemaskan kapasitas nanas dalam negeri akan menjadi sangat sedikit.
Ia melanjutkan, ekspor buah nanas Taiwan membutuhkan perencanaan matang jangka panjang. Jika tidak, maka buah nanas Taiwan ditakutkan akan kalah bersaing dengan Filipina.
Apalagi Filipina membebaskan pajak untuk produk buah-buahan mereka yang dijual di Jepang. Taiwan termasuk salah satu negara maju di dunia, sehingga tidak mungkin terbebas dari kewajiban pajak.
Apalagi, Filipina akan memperoleh tawaran menarik dari Regional Comprehensive Economic Partnership RCEP di masa mendatang, yang akan semakin membebaskan tarif pajak mereka.
Hsieh Chang-ting percaya produk buah nanas Taiwan memiliki kualitas prima, terutama untuk nanas “Tainung No. 17” (台農17號). Otoritas RRT juga diberitakan telah menanamnya.
Jika tidak ada perencanaan jangka panjang, maka RRT sebagai anggota RCEP akan membandingkan produk buah nanas “Tainung No. 17” dengan nanas Pulau Hainan. Dan hal tersebut akan berdampak negatif bagi Taiwan.
Menanggapi promosi buah nanas Taiwan di Jepang, Hsieh Chang-ting mengatakan, Jepang akan menjadi tuan rumah pelaksanaan pentas akbar Olimpiade pada musim panas tahun ini.
Kantor Perwakilan ROC di Jepang akan memanfaatkan momen tersebut, guna menghadirkan rangkaian kegiatan promosi pada bulan April dan Mei, misal memperkenalkan profil atlet Taiwan, meluncurkan video promosi wisata dan kebudayaan, serta produk pertanian dalam negeri.
Mengingat buah nanas Taiwan akan memasuki masa panen pada bulan April hingga Mei, maka kegiatan promosi akan dilakukan pada bulan Juni mendatang.