(Taiwan, ROC) -- Dalam laporan yang dimuat majalah “The Economist” Inggris menuliskan, seiring dengan dunia barat semakin meningkatkan kewaspadaannya akan kebangkitan dari Tiongkok, pihak Beijing juga semakin berharap dapat meningkatkan hubungan komersial lintas selat. Tetapi ada 3 penyebab yang membuat masa kejayaan dari pebisnis Taiwan yang berkembang di Daratan Tiongkok menjadi hilang dan tidak kembali lagi.
Guna menarik pebisnis Taiwan datang, pemerintah Daratan Tiongkok selain mengeluarkan kebijakan yang memberikan fasilitas bagi Taiwan pada tahun 2018 dan 2019, bahkan pada Mei tahun ini juga mengeluarkan kebijakan pemberian fasilitas “perlakuan sama seperti perusahaan Daratan Tiongkok” pada 10 bidang usaha Taiwan yang menanamkan investasinya di Daratan Tiongkok. Namun dalam laporan mengungkapkan, hasil yang dicapai dari berbagai upaya yang dilakukan pemerintah Beijing sangat terbatas, sejak tahun tahun 2015 hingga sekarang, nilai penanaman modal pebisnis Taiwan di Daratan Tiongkok telah berkurang 50%, perusahaan-perusahaan Taiwan yang mengembangkan usahanya di Daratan Tiongkok mulai memperlambat langkahnya.
The Economist membeberkan, banyak orang Taiwan yang melihat jelas bahwa tujuan Daratan Tiongkok menjalin hubungan komersial antara pebisnis lintas selat adalah untuk menghalangi Taiwan independen. Untuk itu dibandingkan dengan perusahaan asing lainnya, Beijing memberikan perlakuan khusus pada pengusaha Taiwan seperti kebijakan inovasi otonom, tetapi hal ini malah meningkatkan kewaspadaan dari orang Taiwan. Selain itu pemerintah Amerika Serikat menerapkan sanksi penambahan tariff pajak bagi serangkaian produk Daratan Tiongkok sehingga banyak pabrik Taiwan yang hengkang dari Daratan Tiongkok
Berdasarkan sebuah survey yang dilakukan akhir-akhir ini, 40% dari pebisnis Taiwan yang sudah atau akan “transformasi” pabriknya di Daratan Tingkok untuk dipindahkan ke Asia Tenggara. Tidak hanya itu saja, perusahaan teknologi raksasa seperti Huawei milik Daratan Tiongkok dimasukkan dalam daftar hitam oleh pemerintah Washington DC, hal ini juga menyulitkan perusahaan Taiwan untuk berkembang di Daratan Tiongkok. Untuk itu TSMC yaitu perusahaan semikonduktor raksasa Taiwan yang 15% dari pendapatannya dari Huawei, telah menyisihkan dana sebesar US$3,5 milyar dan bersiap-siap menempatkan pabriknya di Arizona, Amerika Serikat.
Pertarungan kedua bagi perusahaan Taiwan adalah lingkungan persaingan yang ketat seperti yang diungkapkan oleh pengusaha Taiwan di Shanghai, meskipun pemerintah Beijing memberikan kebijakan fasilitas bagi Taiwan, tetapi ini sebagai penopang “Red Supply Chain” (pasokan rantai merah) Daratan Tiongkok, kebanyakan dari perjanjian kontrak berada di tangan pengusaha Tiongkok. Huang Shen-chao Ketua Asosiasi Pebisnis Taiwan di Ningbo juga membeberkan, anggota mereka ada 300, hingga sekarang ini belum ada 1 perusahaan Taiwan yang berhasil mendapatkan tender besar. Meskipun demikian bukan berarti adanya diskriminasi terhadap perusahaan Taiwan melainkan persaiang yang semakin lama semakin ketat ditambah semakin kreatifnya perusahaan Daratan Tiongkok.
Alasan ketiga adalah menurunnya kehangatan bursa saham penanaman modal perusahaan Taiwan yang ada kaitannya dengan transformasi generasi, sebagai contohnya Perusahaan Uni Royal yang kebanyakan dari pemimpin dan kepala bagian warga Taiwan sudah berusia mendekati pensiun, tetapi karena generasi muda tidak berkeinginan menanggung beban berat mengelola pabrik di Daratan Tiongkok, masalah “tidak adanya penerus” kerapkali terdengar dari mulut pengusaha Taiwan di Daratan Tiongkok.