(Taiwan, ROC) --- Dalam beberapa tahun terakhir, ada banyak nelayan Taiwan yang harus kehilangan nyawa mereka saat melaut. Salah satu faktor penyebab terjadinya kejadian nahas tersebut, dikarenakan para nelayan tidak mengenakan jaket pelampung.
Dewan Perikanan (COA) menyampaikan, jika jaket pelampung yang disediakan oleh pihak kapal sangat tidak efisien. Bentuknya yang tidak kondusif dan berat saat dikenakan, membuat para nelayan enggan menggunakannya.
Di samping itu, jaket pelindung jenis “tiup” yang harganya lebih tinggi, dinilai rentan terhadap gesekan.
Semenjak bulan Oktober tahun lalu, COA telah menggelar pertemuan dengan Kementerian Ketenagakerjaan (MOL), Biro Pelabuhan, Institut Penelitian Teknologi Industri dan Asosiasi Para Nelayan; guna membahas penggunaan jaket pelampung saat beroperasi di laut lepas.
Dalam wawancara eksklusif dengan Radio Taiwan Internasional pada tanggal 24 Agustus 2020, Ketua COA – Chang Chih-sheng (張致盛) menyampaikan, pihaknya telah meminta lembaga perguruan tinggi untuk merancang jaket pelampung yang sesuai dengan kebutuhan para nelayan.
Pihak juga telah mengundang asosiasi nelayan, ABK Taiwan dan ABK asing untuk mencoba menggunakan jaket tersebut.
Jaket yang dirancang tersebut dinilai memiliki fitur keamanan yang tinggi, serta dapat mengembang otomatis saat menyentuh permukaan air. Namun demikian, pihaknya masih akan mengembangkan fitur kenyamanannya. Mengingat jaket pelampung dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang, tanpa mengganggu aktivitas para nelayan.
Di akhir wawancara, Chang Chih-sheng menyampaikan, jika dirinya berharap dapat menyelesaikan proyek ini pada akhir tahun.
Chang Chih-sheng mengatakan, “ Saya berharap proyek ini dapat terealisasikan pada tahun ini. Yakni dengan menemukan jaket keselamatan yang cocok digunakan oleh nelayan kita. Pelaku industri yang terlibat dalam proyek ini juga menyampaikan, jika jaket yang tengah kita kembangkan tidak hanya cocok bagi nelayan domestik, tetapi dapat diperkenalkan kepada dunia internasional. Karena keselamatan adalah nilai terutama yang harus dimiliki para nelayan saat berada di laut lepas.”
Di tengah kecamuk wabah COVID-19, nilai ekspor produk pertanian Taiwan diberitakan juga terkena dampaknya. Menanggapi hal tersebut, Chang Chih-sheng menyampaikan, sebelum masa epidemi, kapal penangkap ikan Taiwan dapat menurunkan muatan mereka di setiap pelabuhan dunia.
Namun, di tengah kecamuk virus korona, kapal-kapal tersebut hanya dapat menjual hasil tangkapan mereka ke Taiwan. Hal ini membuat produk perikanan domestik meningkat pesat. COA sendiri juga telah mendorong daya konsumsi terhadap produk perikanan dalam negeri, yang membuat nilai konsumsi domestik meningkat 20% hingga 30%.
Chang Chih-sheng mengimbau para masyarakat luas untuk berwisata mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di dalam negeri. Jumlah pelabuhan di Taiwan mencapai 220, yang mana setiap pelabuhan memiliki pemandangan dan sajian kuliner khas masing-masing. Diharapkan warga Taiwan dapat memanfaatkan waktu luang mereka dengan berwisata di pelabuhan-pelabuhan ikan dalam negeri.