(Taiwan, ROC) - Upah reguler rata-rata di Taiwan naik 2,22 persen dari tahun sebelumnya pada Agustus 2019, lebih rendah dibandingkan peningkatan tahunan 2,49 persen yang tercatat Juli, menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja lokal telah merasakan sejumlah dampak dari pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, demikian berdasarkan data yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Bujet, Akuntansi dan Statistik (DGBAS) pada hari Selasa, 15 Oktober.
Menurut data, upah reguler rata-rata untuk Agustus adalah NT$42.135 (US$1.333), naik NT$915, atau 2,22 persen dari tahun sebelumnya; sedangkan untuk pertumbuhan bulanan, upah reguler Juli rata-rata juga naik 0,43 persen.
Pendapatan rata-rata yang diperoleh, yang termasuk gaji tetap ditambah bonus, upah lembur dan penghasilan tidak teratur lainnya, juga naik NT$1.326, atau 2,67 persen, dari tahun sebelumnya menjadi NT$51.040 pada Agustus, kata DGBAS.
Dalam delapan bulan pertama tahun ini, upah reguler rata-rata adalah NT$41.760, naik 2,32 persen dari tahun sebelumnya, sementara pendapatan rata-rata yang diterima juga tumbuh 1,94 persen menjadi NT$55.706.
Namun, setelah penyesuaian inflasi, upah reguler rata-rata secara riil hanya naik 1,78 persen dari tahun sebelumnya dalam periode delapan bulan, dan pendapatan riil rata-rata hanya naik 1,40 persen.
Pan Ning-hsin (潘寧馨), wakil direktur departemen sensus DGBAS, mengatakan kepada wartawan bahwa naiknya upah tetap rata-rata pada Agustus menunjukkan pasar kerja yang stabil di Taiwan, namun pertumbuhan yang dicatat telah melambat pada saat ekonomi lebih lesu.
Selain itu, pertumbuhan pendapatan tahunan rata-rata 1,94 persen selama delapan bulan pertama adalah kenaikan terendah dalam sekitar tiga tahun, jelas merupakan hasil dari lesunya ekonomi, tutur Pan.
Menurutnya, ekonomi yang lebih lemah memperlambat aktivitas manufaktur sehingga kebutuhan jam kerja lembur di sektor ini juga turut berkurang.
DGBAS memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Taiwan akan menjadi 2,46 persen pada tahun 2019, dibandingkan dengan kenaikan 2,63 persen pada tahun 2018 karena eksportir Taiwan merasakan dampak dari perang perdagangan global.