(Taiwan, ROC) – Presiden Amerika Donald Trump pada hari Jumat tanggal 11 Oktober waktu setempat mengumumkan bahwa pihak Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok telah berhasil mencapai beberapa kesepakatan babak pertama dalam rapat negosiasi penyelesaian masalah perang dagang. Selama lebih dari 18 bulan lamanya, rapat negosiasi terus dilakukan, dan pada akhirnya Presiden Donald Trump berhasil memenangi babak pertama dalam rapat negosiasi tersebut. Informasi kemenangan ini tentu juga turut mendongkrak nilai bursa saham setempat, dan untuk indeks bursa saham Dow Jones berhasil nai 300 poin.
Setelah melalui masa negosiasi selama satu hari penuh, pada hari Jumat tanggal 11 Oktober, pihak Amerika Serikat berhasil memenangi rapat negosiasi tahap pertama dari pihak Daratan Tiongkok. Namun Wakil Menteri Luar Negeri Daratan Tiongkok, Liu He pada hari Jumat tanggal 11 Oktober petang hari waktu setempat, saat meninggalkan Gedung USTR atau Gedung perwakilan perdagangan Amerika, wajahnya terlihat kurang senang tanpa senyuman sama sekali. Saat meninggalkan gedung setempat, karena tengah sibuk-sibuknya melanjutkan percakapan dengan perwakilan negosiasi perdagangan Amerika, Robert Lighthizer, kakinya nyaris terselip di antara tangga, untungnya ada ajudan di sampingnya yang segera mengangkat Liu He, sehingga tidak terjatuh. Selanjutnya setelah ia melihat sekilas warga Tiongkok yang tengah melakukan aksi demo di depan gedung, Liu He segera menaiki mobil dan meninggalkan lokasi gedung.
Presiden Donald Trump pada hari Jumat tanggal 11 Oktober menyambut kedatangan Liu He di Gedung Putih nya. Pihak Amerika Serikat berhasil meminta pihak Daratan Tiongkok untuk menghormati kebijakan akan masalah hak cipta bidang intelegensi, pelayanan perbankan dan jual beli perdagangan produk pertanian. Pihak Daratan Tiongkok memenuhi permintaan untuk membeli produk pertanian senilai US$ 40-50 milyar dari pihak Amerika, selain itu kedua belah pihak juga mencapai kesepakatan dalam hal nilai tukar mata uang ke dua belah pihak.
Pada waktu yang bersamaan, pihak Daratan Tiongkok juga berhasil mendapatkan kelonggaran tentang penundaan batas waktu pemberlakuan penambahan pajak produk barang, yang awalnya akan segera diberlakukan pada tanggal 15 Oktober mendatang, senilai lebih dari US$ 250 milyar. Hal ini tentu akan memberikan banyak keringanan waktu bagi pihak Daratan Tiongkok. Namun program kenaikan pajak sebesar 15% untuk produk impor asal Daratan Tiongkok ke Amerika, yang ditetapkan akan diberlakukan pada pertengahan bulan Desember nanti, masih belum diketahui nasibnya, yang mana nilai produk impor tersebut sebesar US$ 156 milyar.
Pada tanggal 11 Oktober diumumkan bahwa perang dagang yang telah dimulai sejak bulan Maret tahun lalu antara pihak Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok, pada akhirnya berhasil mencapai tahapan “Gencatan senjata” untuk periode pertama. Presiden Donald Trump juga tidak diragukan, mendapatkan kemenangan dalam rapat negosiasi penyelesaian masalah perang dagang kali ini. Karena adanya kemenangan ini, tentu telah turut memberikan efek dampak posistif terhadap perkembangan bursa saham setempat, yang mana bursa saham Dow Jones pada hari Jumat tanggal 11 Oktober kemarin berhasil naik sebanyak 319,92 poin, atau 1,21% menjadi 26.816,59 poin.
Rapat negosiasi penyelesaian masalah perang dagang antara pihak Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok telah digelar selama lebih dari 13 kali. Presiden Donald Trump secara optimis mnyampaikan bahwa dirinya akan menghadiri langsung dan melakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama dengan pemimpin Daratan Tiongkok Xi Jin-ping, berkenaan dengan waktu penandatanganannya berkemungkinan akan diselenggarakan bersamaan dengan waktu penyelenggaraan Konferensi APEC yang akan digelar di negara Chili pada bulan November mendatang.
Meskipun demikian, Presiden Donald Trump juga tetap mempertimbangkan adanya berbagai perubahan yang berkemungkinan terjadi dalam kurun waktu beberapa pekan mendatang sebelum penandangatangan MOU kesepakatan secara resmi digelar. Oleh sebab itu, pihaknya juga tetap mempersiapkan berbagai langkah antisipasi jika terjadi perubahan yang memberikan pengaruh terhadap hasil rapat negosiasi tahap awal tersebut, sembari mengambil contoh adanya pemboikotan mendadak dari pihak Daratan Tiongkok pada bulan Mei kemarin.
Walaupun telah ada penandatanganan MOU kesepakatan tahap pertama, namun untuk rapat negosiasi tahap kedua dan ketiga, diyakini masih banyak kendala yang harus dihadapi, serta membutuhkan perhatian ektra terkait adanya berbagai kondisi teknis yang berkemungkinan terjadi, misalnya dalam hal transfer teknologi, dana subsidi untuk perindustrian dan lain sebagainya, dimana semua hal tersebut berkategori sangat sensitif dan cukup pelik untuk dibahas.