(Taiwan, ROC) --- Ditemukan seekor babi yang terkena wabah Asfivirus di tepi pantai Kinmen, babi tersebut diketahui telah tidak bernyawa. Dewan Pertanian (COA) pada Kamis (3/1) memutuskan bahwa bangkai babi tersebut berasal dari Daratan Tiongkok, mengapung dan akhirnya terdampar di tepi pantai Kinmen. Hal ini tentu mengejutkan pemerintah. Perdana Menteri William Lai pada Jumat pagi (4/1) ketika menggelar rapat kedua di Badan Penanggulangan Bencana Asfivirus, mendapat kabar dari Dirjen Pengawasan Maritim (CGA), bahwa pada Jumat pagi (4/1) kembali ditemukan bangkai babi yang terdampar di tepi pantai kawasan Wuqiu, Pulau Kinmen. Berdasarkan investigasi di lapangan, tidak ditemukan adanya peternakan babi di kawasan setempat, diperkirakan bangkai hewan terdampar dan hingga saat ini masih dilakukan penyelidikan mendalam. Hingga saat ini, tim pencegahan epidemi telah mengisolasi kawasan terkait. Dikarenakan adanya pergerakan angin monsun timur laut, sehingga diperkirakan kiriman sampah dan bangkai dari Daratan Tiongkok, akan masih terus terjadi. Pemerintah menambahkan akan memperketat patroli dan memperluas langkah pencegahan epidemi.
PM Lai mengemukakan jika ditilik dari keadaan saat ini, dapat diketahui bahwa kasus wabah Asfivirus Daratan Tiongkok sangatlah serius. Daratan Tiongkok dinilai tidak menerapkan langkah pencegahan yang serius, sehingga jumlah kematian pada hewan ternak babi terus meningkat. Selain itu, yang lebih menghawatirkan lagi adalah bangkai babi yang terdampar pada Kamis (3/1), diperkirakan berasal dari kawasan Sungai Jiulong, Daratan Tiongkok. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah, kawasan Sungai Jiulong sebelumnya tidak dilaporkan ke Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE). Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan Taiwan terkena wabah Asfivirus.
Dalam rapat, Perdana Menteri menetapkan tiga langkah, meliputi meningkatkan pencegahan di pemerintah pusat, daerah dan diharapkan pengusaha ternak babi dapat bekerja sama satu sama lain untuk memperketat pengawasan. Di saat yang sama, juga akan mempercepat kinerja penanggulangan. Terutama harus dapat menyelesaikan peresmian pusat penanggulangan bencana di daerah dalam kurun waktu 4 hari, kemudian merancang simulasi tanggap bencana, dan sesegera mungkin melaporkannya kepada pusat. PM Lai menambahkan dengan diadakannya simulasi, baru dapat merealisasikan pencegahan bencana wabah Asfivirus.
Perdana Menteri William Lai mengatakan, “Beberapa pemerintah di daerah, diketahui telah meresmikan Pusat Penanggulangan Bencana ini. Masih ada beberapa lagi, yang akan segera diresmikan. Selain itu, masih terdapat beberapa kawasan yang belum menentukan tanggal peresmiannya. Terkait akan tempat, waktu dan isi dari simulasi sigap bencana itu sendiri, hingga hari ini belum ada 1 kawasan pun yang memberikan keputusan. Oleh karena itu, saya himbau kembali untuk mempercepat implementasi dari pencegahan epidemi”.
William Lai kembali menekankan perlu diadakannya perluasan langkah pencegahan epidemi, meliputi patroli di laut dan darat. Selain itu, Biro Perlindungan Lingkungan (CGA) sudah seharusnya membantu pemerintah di daerah untuk menangani kiriman sampah dari Daratan Tiongkok. PM Lai kembali menambahkan penting adanya untuk melakukan kerja sama dengan dunia internasional. Beliau juga meminta kepada Pemerintah Beijing untuk membuka jalur informasi terkait penyebaran epidemi ini. Selain itu, William Lai juga menghimbau kepada negara tetangga untuk dapat bekerja sama dan mengurangi dampak yang dibawa oleh Asfivirus. Ia kembali menekankan, bahwa hal ini merupakan tanggung jawab Daratan Tiongkok.