(Taiwan, ROC) - Institut Penelitian Ekonomi Taiwan (TIER) hari Jumat merilis prakiraan pertumbuhan ekonomi terbarunya dan menurunkan prakiraan angka pertumbuhan ekonomi domestik untuk tahun 2025 menjadi 2,91%, lebih rendah 0,51% dibandingkan prakiraan yang disampaikan pada bulan Januari.
TIER menerangkan, penyesuaian berulang kali yang dilakukan pemerintahan Donald Trump terhadap kebijakan tarif untuk mendorong manufaktur Amerika telah menyebabkan meningkatnya ketegangan perdagangan global. Namun, permintaan domestik untuk AI kuat, dan diselesaikannya banyak transaksi perdagangan lebih awal untuk mengantisipasi ketidakpastian tarif AS, telah mendorong ekspor, produksi dan pesanan ekspor, yang semuanya tumbuh secara signifikan pada bulan Maret dibandingkan bulan sebelumnya.
Ini, menurut TIER, menyebabkan peningkatan signifikan dalam proporsi produsen yang optimistis terhadap ekonomi bulan itu, dan membuat TIER memperkirakan bahwa ekonomi Taiwan pada tahun 2025 akan menunjukkan pola pertumbuhan "tinggi di awal dan rendah di akhir tahun", sementara prakiraan angka pertumbuhan ekonomi setahun penuh untuk 2025 diperkirakan sebesar 2,91%, 0,51% lebih rendah dari perkiraan bulan Januari.
Presiden TIER Chang Chien-yi (張建一) mengetengahkan, strategi negosiasi Trump mirip dengan "PUA" yang bertujuan memanipulasi psikologi manusia. Taiwan, sebagaimana halnya banyak negara, seharusnya mengikuti jalannya sendiri dan tidak perlu terlalu memedulikan kebijakan Trump yang terus berubah.
Sementara itu, Direktur Pusat Perkiraan Makroekonomi TIER Sun Ming-te (孫明德) memperingatkan, mengamati kebijakan ekonomi presiden-presiden AS sebelumnya, setiap perang tarif biasanya disertai dengan perang mata uang. Perang tarif saat ini hampir berakhir, dan langkah selanjutnya mungkin adalah perang mata uang, terutama terhadap Jepang, Taiwan, Vietnam, dan Thailand.
Sun Ming-te mengatakan, "Jadi yang harus kita waspadai adalah, perang tarif dari 20 Januari hingga 20 April mungkin sudah hampir selesai, medan perang akan dibersihkan dan hasilnya akan dipanen. Langkah selanjutnya adalah perang mata uang, dan berusaha memanen sekali lagi dan meraup keuntungan melalui apresiasi mata uang di negara-negara seperti Jepang. Inilah dampak selanjutnya yang harus kita waspadai."
Sun juga mengingatkan dampak kuat dari perang mata uang yang tidak boleh diremehkan. Ia mencontohkan, apabila tarifnya sekarang 10% dan jika Dolar Taiwan mengapresiasi sebesar 10% lagi, berarti biaya produksi akan naik hingga 20%.
Namun, Sun juga menyebutkan bahwa jika Jepang dapat menghalangi perang ini, AS mungkin tidak akan terlalu menuntut terhadap Korea Selatan dan Taiwan, tetapi persiapan mental untuk perang mata uang harus dituntaskan.