(Taiwan, ROC) - Academia Sinica (AS) hari Senin meninggikan perkiraan tingkat pertumbuhan ekonomi Taiwan menjadi 4,23% untuk tahun ini dan 3,10% untuk tahun depan, dan mengingatkan bahwa kebangkitan unilateralisme Amerika Serikat dan masih adanya tantangan pemulihan ekonomi Daratan Tiongkok akan menjadi variabel penting dalam pertumbuhan ekonomi global dan Taiwan tahun depan.
AS menunjukkan bahwa perdagangan komoditas global terus memanas seiring dengan meluasnya penerapan kecerdasan buatan (AI) pada tahun 2024, namun pemulihan industri manufaktur yang tidak merata telah memperlambat pertumbuhan perekonomian global.
Menurutnya, terdorong oleh permintaan akan aplikasi teknologi baru, ekspor Taiwan meningkat dan pertumbuhan investasi pada paruh kedua tahun ini lebih baik dari perkiraan, sehingga perkiraan tingkat pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2024 telah direvisi naik dari perkiraan bulan Juli menjadi 4,23%.
Mengenai prospek untuk tahun 2025, AS percaya bahwa didorong oleh pemulihan permintaan akan produk-produk terkait elektronik dan aplikasi teknologi baru seperti komputasi berkecepatan tinggi dan AI, serta penyesuaian terhadap kebijakan ekonomi dan perdagangan Tiongkok, investasi diharapkan dapat melanjutkan keunggulan yang ada dan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 3,10% untuk tahun depan.
Kontribusi permintaan domestik dan permintaan bersih luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi masing-masing sebesar 2,62% dan 0,48%, yang menunjukkan bahwa permintaan dalam negeri merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi dan perekonomian akan terus bergerak maju.
Periset AS Lin Chang-qing (林常青) mengatakan, “Prospek keseluruhan untuk tahun 2025 adalah pemanfaatan peluang untuk terus bergerak maju. Tahun depan adalah tahun imlek ular. Ketangkasan dan kecerdasan ular sebenarnya dapat membantu kita melakukan beberapa transformasi dan mencapai kemajuan yang stabil ketika kita menghadapi berbagai titik balik. Untuk Taiwan, perkembangan berbagai rantai pasokan perangkat keras pada tahun 2024, khususnya dalam aplikasi terkait AI, mungkin menjadi tren yang sangat penting di masa depan.”
Dalam segi harga barang, AS berpendapat, akibat dua kali kenaikan harga listrik tahun ini, masih perlu waktu untuk tercermin dalam penyesuaian harga, sementara kenaikan gaji pokok dan upah tentara, pegawai negeri dan guru, serta tidak rendahnya kisaran kenaikan harga konsumen yang diharapkan, maka tekanan inflasi masih akan sedikit lebih besar sehingga indeks harga konsumen (IHK) diperkirakan mencapai 2,02% pada tahun 2025.