History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Terdampak Perang Dagang AS dan Tiongkok, Industri Makanan Taiwan Bidik Pasar Halal Malaysia

  • 21 September, 2024
  • 許秀玉
Terdampak Perang Dagang AS dan Tiongkok, Industri Makanan Taiwan Bidik Pasar Halal Malaysia
Terdampak Perang Dagang AS dan Tiongkok, Industri Makanan Taiwan Bidik Pasar Halal Malaysia / foto: CNA

(Taiwan, ROC)— Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok belum mereda, sehingga para pelaku industri makanan Taiwan secara bertahap beralih ke Malaysia untuk mengincar peluang besar pasar halal Muslim. Menurut para peserta pameran, memperoleh sertifikasi halal adalah langkah awal untuk memasuki pasar Muslim.

Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) 2024 dibuka pada 17 September, menarik peserta dari berbagai negara termasuk Jepang, Korea, Indonesia, Taiwan, India, Singapura, Palestina, dan Tiongkok, sehingga menjadikannya pameran industri halal terbesar di kawasan Asia Tenggara. Taiwan juga tak ketinggalan mendirikan paviliun untuk berpartisipasi dan bersaing dengan negara lain dalam merebut peluang pasar halal Muslim.

Populasi Muslim mencakup sekitar 1/4 dari total populasi dunia. Dari perspektif bisnis, jumlah penduduk yang besar ini memberikan potensi keuntungan yang sangat signifikan. Pasar Muslim terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2016, Taiwan mendorong “Kebijakan Baru ke Arah Selatan” (NSP), yang khususnya menargetkan pasar Muslim di negara-negara seperti Malaysia dan Indonesia.

Steve Eng, seorang pelaku industri pariwisata, berpendapat bahwa lebih dari 60% dari 34 juta penduduk Malaysia adalah Muslim. Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) sangat ketat dalam sertifikasi halal, dan memastikan bahwa makanan halal bebas dari kontaminasi bahan yang tidak halal dari proses produksi hingga ke meja makan. Sertifikasi halal dilakukan melalui metode pengujian ilmiah untuk memastikan makanan memenuhi hukum Islam.

Sertifikasi halal tidak sesederhana "tanpa babi". Seorang wanita Muslim yang bekerja di sektor swasta, Iwani, mengatakan kepada CNA bahwa jika Taiwan ingin memasuki pasar Malaysia, sebaiknya terlebih dahulu memperoleh sertifikasi halal sebelum mencoba langkah pemasaran berikutnya.

Dia menunjukkan bahwa setelah berhasil mendapatkan sertifikasi halal, semua produk Taiwan dapat diperkenalkan kepada konsumen lokal Malaysia, seperti CU Mart dan Family Mart yang sedang tren, atau minimarket lainnya. Taiwan dapat memanfaatkan kedua minimarket untuk mempromosikan produk mereka kepada generasi muda Muslim karena toko-toko ini adalah salah satu jaringan minimarket terbesar di Malaysia.

Iwani menambahkan, "Jenis produk apa yang bisa digunakan dan yang tidak bisa digunakan" adalah detail yang harus diperhatikan oleh non-Muslim, dan ini adalah proses yang rumit. Misalnya, desinfeksi jalur produksi adalah salah satu contoh detail kecil yang perlu diperhatikan.

Tu Shu-jing (凃淑靜), seorang produsen minyak teh Meishan, percaya bahwa Taiwan berusaha keras untuk memasarkan produk berkualitas ke luar negeri, dan pasar Muslim menawarkan peluang tak terbatas bagi Taiwan. Negara-negara ASEAN memiliki potensi demografi Muslim yang besar, dan Taiwan hanya perlu mendapatkan sertifikasi halal sebagai kunci untuk memasuki pasar makanan halal yang luas.

Lu Gen-tian (陸根田), seorang produsen saus, menekankan bahwa sertifikasi halal adalah bukti yang sangat ketat. Pabrik produksi harus memenuhi standar Muslim, dan lembaga pemeriksa akan datang ke pabrik untuk meninjau proses produksi. Jika ingin meraih peluang bisnis Muslim, tanpa sertifikasi halal, sulit untuk memasuki pasar Muslim.

Komentar

Terbarumore