(Taiwan, ROC) --- Indikator ekonomi yang dirilis oleh Dewan Pembangunan Nasional (NDC) pada bulan Juli menunjukkan penurunan, yakni bergeser dari lampu merah (ekonomi menghangat) kembali ke lampu kuning-merah (perhatian). Kemarin (28/8), para pakar menganalisis bahwa skor penilaian komprehensif sinyal kebijakan ekonomi untuk bulan Juli hanya mencapai batas bawah dari kategori warna merah, dan tidak stabil di zona lampu merah, sehingga harus kembali ke lampu kuning-merah.
Kunci untuk kembali ke lampu merah terletak pada kinerja ekspor. Namun, ekspor saat ini menghadapi dua risiko utama, yaitu penurunan daya beli di Amerika Serikat dan potensi gelembung AI. Diperkirakan akan sulit bagi indikator untuk kembali ke lampu merah.
Skor penilaian komprehensif sinyal kebijakan ekonomi NDC turun 3 poin dari bulan sebelumnya menjadi 35 poin pada bulan Juli. Dengan kata lain, warna gejolak ekonomi turun dari lampu merah kembali ke lampu kuning-merah, yang mana ini memerlukan perhatian.
Direktur Eksekutif Taiwan Economic Center di National Central University, Wu Da-ren (吳大任), menyatakan bahwa saat ini, permintaan domestik di Taiwan masih kuat, dan ekspor didukung oleh permintaan AI.
Namun, industri tradisional belum pulih sepenuhnya, sehingga kinerja ekspor belum meningkat secara signifikan, yang menyebabkan perubahan lampu indikator ekonomi pada bulan Juli.
Paruh kedua tahun ini memasuki musim puncak elektronik konsumen. Kunci untuk mengembalikan indikator ke lampu merah terletak pada kemampuan ekspor.
Wu Da-ren juga memperingatkan dua risiko utama yang perlu diperhatikan dengan seksama terkait ekspor pada paruh kedua tahun ini. Pertama, pangsa pasar AS dalam ekspor Taiwan yang terus meningkat dalam beberapa tahun belakangan, dari 10% menjadi 28%.
Saat ini kelebihan tabungan di AS mengalami pertumbuhan negatif, utang kartu kredit terus meningkat, dan tingkat pengangguran telah melonjak menjadi 4,3%, yang semuanya dapat secara signifikan mengurangi daya beli di AS dan pasti akan memengaruhi kinerja ekspor Taiwan.
Kedua, krisis pasar saham global pada bulan Agustus menimbulkan risiko bubble pada sektor AI. Jika ini terjadi, maka dapat merugikan daya ekspor Taiwan dan memengaruhi indikator ekonomi.
Wu Da-ren mengatakan, "Jadi, jika mereka tidak mengalami krisis atau dampaknya sangat kecil, setidaknya kita masih dapat mempertahankan tingkat ekspor saat ini, tetapi akan sangat sulit untuk menjadi lebih baik. Kembali ke indikator ekonomi, jika kinerja ekspor kita tidak baik, maka akan sulit untuk kembali ke lampu merah, meskipun permintaan domestik relatif baik. Mempertahankan lampu kuning-merah seharusnya menjadi pencapaian yang patut diapresiasi."
Mengenai pernyataan beberapa pejabat Federal Reserve AS yang mengindikasikan kemungkinan penurunan suku bunga pada bulan September, Wu Da-ren percaya bahwa masih perlu mengamati seberapa besar penurunan suku bunga yang akan dilakukan oleh The Fed.
Saat ini, suku bunga di AS terbilang cukup tinggi, dan beberapa data ekonomi telah menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Jika suku bunga hanya diturunkan sebesar 25 basis poin, maka efek stimulus pada ekonomi akan terbatas. Mungkin perlu upaya yang lebih besar dan frekuensi yang lebih sering untuk memungkinkan ekonomi AS pulih secara bertahap.
Selain itu, masih terdapat jeda waktu antara dimulainya penurunan suku bunga dengan dampak yang dibawanya terhadap keseharian masyarakat. Diperkirakan, efeknya mungkin baru akan terlihat pada tahun mendatang.