(Taiwan, ROC) - Jumlah pekerja di Taiwan yang ditempatkan pada program cuti atau cuti tanpa upah meningkat sedikit pada paruh pertama bulan Agustus karena beberapa pengusaha di sektor ekonomi lama melaporkan penurunan pesanan ekspor, demikian menurut data terbaru dari Kementerian Ketenagakerjaan (MOL).
Data MOL menunjukkan, jumlah pekerja yang dirumahkan di Taiwan meningkat menjadi 4.617 pada tanggal 15 Agustus, naik 180 dari 4.437 pada akhir bulan Juli, sementara jumlah pengusaha yang menerapkan program cuti tanpa upah juga meningkat dari 20 menjadi 268 pada kurun waktu yang sama.
Wakil kepala Divisi Kondisi Tenaga Kerja dan Kesetaraan Pekerjaan MOL, Wang Chin-jung (王金蓉) menerangkan, peningkatan jumlah pekerja yang dirumahkan sebagian besar terjadi setelah dua pengusaha di industri logam dan mesin listrik menempatkan lebih banyak karyawan pada program cuti tanpa upah.
Menurutnya, ini bukan pertama kalinya kedua pemberi kerja tersebut melaporkan program cuti mereka ke MOL.
Juga dilaporkan bahwa gempa bumi dahsyat yang melanda Hualien di Taiwan timur pada awal April terus menimbulkan dampak pada industri pariwisata di sana. MOL melaporkan, jumlah pekerja yang dirumahkan di daerah tersebut hingga tanggal 15 Agustus meningkat sebanyak 61 menjadi 560 orang, dan jumlah pekerja yang terlibat program cuti tidak dibayar meningkat sebanyak 12 orang menjadi 56 orang.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Anggaran, Akuntansi, dan Statistik (DGBAS) juga telah menurunkan sedikit perkiraannya terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Taiwan untuk tahun ini dari 3,94% menjadi 3,90%, dengan alasan pemulihan permintaan global yang tidak merata.
DGBAS mengatakan bahwa dalam hal pemulihan, industri ekonomi lama tertinggal dari rekan-rekan teknologi mereka, yang telah mendapat dorongan signifikan dari teknologi baru seperti aplikasi kecerdasan buatan dan perangkat komputasi berkinerja tinggi.