(Taiwan, ROC) --- Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan akan menerapkan pembatasan perdagangan yang lebih ketat guna mencegah Tiongkok memperoleh teknologi chip canggih dari Jepang dan Belanda.
Perkembangan ini, ditambah dengan pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang menuduh "Taiwan mencuri bisnis chip". Akibatnya, Indeks Semikonduktor Philadelphia (PHLX Semiconductor Sector) mengalami penurunan signifikan sebesar lebih dari US$500 miliar (sekitar NT$16,2 triliun) pada penutupan perdagangan hari ini.
Berdasarkan laporan Reuters, indeks PHLX ditutup melemah 6,81%, mencatatkan penurunan satu hari terbesar sejak gejolak pasar global yang dipicu oleh pandemi COVID-19 pada tahun 2020.
Bloomberg melaporkan bahwa pemerintah AS telah menginformasikan kepada Jepang dan Belanda, yakni dua sekutu dekatnya, mengenai rencana penerapan pembatasan perdagangan yang lebih ketat jika perusahaan-perusahaan seperti Tokyo Electron Limited dan ASML Holding NV, produsen peralatan manufaktur semikonduktor asal Belanda, melanjutkan pasokan teknologi semikonduktor canggih ke Tiongkok.

圖/聯合報
Di tengah rencana pemerintah Amerika Serikat untuk memperketat pembatasan ekspor teknologi chip ke Tiongkok, pernyataan kontroversial muncul dari mantan Presiden AS Donald Trump.
Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg Businessweek, Donald Trump mengklaim bahwa Taiwan telah "mencuri bisnis chip" dan seharusnya membayar biaya perlindungan kepada Amerika Serikat.
Perkembangan ini semakin memperburuk sentimen pasar semikonduktor global. Saham ASML, produsen peralatan manufaktur semikonduktor asal Belanda yang tercatat di bursa saham AS, anjlok sebesar 12,74%.
NVIDIA, perusahaan terkemuka di bidang chip kecerdasan buatan (AI), mengalami penurunan hampir 7%, mengakibatkan penurunan nilai pasar lebih dari US$200 miliar.
Perusahaan-perusahaan besar lainnya di sektor semikonduktor juga tak luput dari aksi jual besar-besaran. Saham AMD dan Arm masing-masing merosot sekitar 10%, sementara Micron turun 6,27% dan Broadcom melemah hampir 8%.