(Taiwan, ROC) -- Direktorat Jenderal Anggaran Akuntansi dan Statistik (DGBAS) Taiwan telah merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk tahun depan hingga 3,35%. Para peneliti menganalisis pada 29 November, bahwa siklus tingkat kenaikan suku bunga dari 2 ekonomi utama di Eropa dan Amerika Serikat (AS) sepertinya akan berakhir. TIdak hanya kenaikan suku bunga yang tidak akan naik di tahun depan, tapi kebijakan moneter juga akan berubah, di mana hal ini diharapkan dapat menstimulasi pemulihan permintaan di Eropa dan AS. Di saat yang sama, ekonomi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) juga diperkirakan akan kembali normal di tahun depan dan hal ini akan membantu ekspor Taiwan untuk kembali pulih. Permintaan ekspor diperkirakan akan meningkat secepatnya di bulan November. Dengan meningkatnya permintaan dalam negeri, ekspor yang meningkat di tahun depan, dan peningkatan upah rill pekerja manufaktur, konsumsi pribadi juga diharapkan dapat meningkatkan ekonomi di tahun yang akan datang, lebih baik dari tahun ini.
DGBAS telah merilis data terbaru pada 28 November dan memperkirakan bahwa pertumbuhan eknomi di tahun ini adalah 1,42%, lebih rendah 0,19% daripada perkiraan sebelumnya dan menjadi yang terendah dalam 14 tahun terakhir. Namun, perkiraan pertumbuhan ekonomi di tahun depan telah direvisi, meningkat 0,03 poin persentase menjadi 3,35%.
Darson Chiu (邱達生), peneliti dari Institut Penelitian Ekonomi Taiwan (TIER) menyampaikan pada 29 November, bahwa ekonomi di tahun ini lebih rendah daripada yang diperkirakan, sehingga menurunkan periode dasar. Dari perspektif permintaan eksternal, 3 permintaan utama dunia diperkirakan meningkat di tahun depan. Eropa dan AS saat ini sepertinya akan mengakhiri siklus kenaikan suku bunga. Tidak hanya ketiadaan kenaikan suku bunga di tahun depan, bahkan ada kemungkinan perubahan kebijakan moneter. Selain itu, juga ada kesempatan bahwa ekonomi RRT akan kembali ke jalurnya. Ia mengatakan, “kinerja Daratan Tiongkok di tahun ini tidak sebaik yang diharapkan, tapi beberapa lembaga ramalan internasional percaya bahwa, meskipun kemungkinan perubahan tidak terlalu signifikan untuk pemulihan di tahun depan, tapi ada kemungkinan ekonomi berjalan cukup normal. Tampaknya, permintaan di beberapa negara ekonomi utama akan meningkat di tahun depan. Pemesanan mulai meningkat di bulan November dan ekspor ada kemungkinan selanjutnya meningkat.”
Ia menyampaikan, bahwa ekonomi di tahun ini didukung oleh permintaan dalam negeri. Meskipun kinerjanyanya baik, tapi tidak diragukan telah meningkatkan periode dasar dan menekan pertumbuhan permintaan dalam negeri di tahun depan. Namun demikian, akibat ekspor yang rendah, cuti tanpa gaji diberlakukan dan upah terkait industri manufaktur terdampak. Saat ekspor meningkat di tahun depan, upah nyata juga diperkirakan akan meningkat, sehingga mendorong konsumsi pribadi dan meningkatkan permintaan dalam negeri. Oleh karena itu, secara keseluruhan ekonomi di tahun depan seharusnya lebih baik daripada tahun ini.
Namun, Chiu mengingatkan, meskipun perang Rusia-Ukraina dan konflik Israel-Hamas terus mendorong harga bahan mentah untuk naik, tapi dampaknya saat ini sepertinya hanya dalam jangka pendek. Resiko geopolitik global sendiri merupakan faktor yang tidak pasti, khususnya ketika hubungan antar selat tidak stabil. Hal tersebut dapat meningkatkan kemungkinan dana asing untuk menetap, sehingga mempengaruhi tren saham Taiwan.