(Taiwan, ROC) – Demi menarik para wisatawan, Thailand pun membuka kebijakan bebas visa bagi Daratan Tiongkok, Taiwan, dan India baru-baru ini. Menteri Budaya, Olah Raga, dan Pariwisata Vietnam, Nguyen Van Hung mengusulkan agar kebijakan bebas visa jangka pendek diberlakukan bagi pasar-pasar utama dan potensial, seperti Daratan Tiongkok dan India, untuk menarik wisatawan.
Media online VnExpress melaporkan bahwa Menteri Nguyen Van Hung menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pengembangan pariwisata pada 15 November. Ia juga mengusulkan agar pemerintah Vietnam memperluas cakupan pembebasan visa unilateral untuk menarik para wisatawan dari negara-negara yang memiliki tingkat perkembangan dan daya beli tinggi, seperti Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan beberapa negara Uni Eropa.
Menteri Nguyen juga mengusulkan visa dengan masa berlaku 3-5 tahun sebagai uji coba untuk menarik para turis kelas atas atau para pensiunan.
Ia pun beberapa kali telah mengungkapkan harapan agar pembebasan visa diperluas untuk mempromosikan pariwisata. Berdasarkan laporan terkait, berbagai negara Asia Tenggara saat ini tengah menggunakan kebijakan bebas visa untuk menarik para turis internasional. Contohnya adalah Malaysia, Singapura, dan Filipina yang menawarkan akses bebas visa bagi ratusan negara. Thailand telah menawarkan kebijakan bebas visa bagi lebih dari 60 negara, sementara Vietnam hanya menawarkan kebebasan visa bagi 20-an negara.
Vietnam telah membuka aplikasi visa elektronik (e-visa) bagi seluruh negara dan wilayah di pertengahan bulan Agustus tahun ini. Namun, ada berbagai masalah pada sistemnya dan masyarakat terus mengeluh. Menteri Nguyen meminta proses aplikasi visa untuk disederhanakan, laman situs yang mudah dioperasikan, dan waktu spesifik untuk memberitahukan wisatawan bagaimana hasil peninjauannya.
Dalam 10 bulan pertama di tahun ini, Vietnam telah menerima hampir 10 juta turis internasional, dengan peningkatan 4,6 kali lipat secara tahunan, melampaui target dengan jumlah 8 juta wisatawan di tahun ini. Bagaimanapun, jika dibandingkan dengan jumlah pengunjung sebanyak 18 juta orang sebelum pandemi COVID-19, perjalanan ini masih cukup panjang.