History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Pendidikan Vokasi Taiwan Bisa Jadi Solusi Kekurangan Tenaga Kerja Ahli di Asia Tenggara

  • 21 October, 2023
  • 許秀玉
Pendidikan Vokasi Taiwan Bisa Jadi Solusi Kekurangan Tenaga Kerja Ahli di Asia Tenggara
Pendidikan Vokasi Taiwan Bisa Jadi Solusi Kekurangan Tenaga Kerja Ahli di Asia Tenggara

 (Taiwan, ROC) – Dalam rangka meningkatkan pemahaman tentang isu sumber daya manusia Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di berbagai kalangan di Taiwan dan meningkatkan pertukaran dengan Asia Tenggara, Universitas Pendidikan Nasional Taipei (NTUE) dan Institut Penelitian Ekonomi Chung-Hua (CIER) telah berkolaborasi dalam penyusunan buku berjudul "Pasar Tenaga Kerja dan Prospek Tenaga Kerja Industri di ASEAN".

Mereka mengadakan peluncuran buku baru dan seminar pada 18 Oktober. Sejumlah pakar dan akademisi yang hadir juga membagikan hasil penelitian mereka mengenai empat negara, yaitu Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Tujuan dari acara ini adalah untuk memberikan panduan dalam perumusan kebijakan Taiwan terkait dengan inisiatif Kebijakan Baru ke Arah Selatan (NSP).

Sebagai perwakilan dalam peluncuran buku baru, Lektor Kepala Program Magister Manajemen Wilayah Asia Tenggara NTUE Zhang Yi-jie (張義杰) mengatakan, negara-negara di ASEAN sedang menghadapi tantangan transformasi industri, seperti digitalisasi. Selain itu, munculnya industri baru, seperti teknologi informasi, perawatan kesehatan, semikonduktor, dan komunikasi di wilayah ASEAN telah mengubah kebutuhan tenaga kerja. Namun, pendidikan vokasional dan teknis di wilayah tersebut belum dapat mengikuti tuntutan industri sehingga mengakibatkan kekurangan tenaga kerja yang berkualifikasi di bidang-bidang tertentu.

Contohnya saja Vietnam. Zhang Yi-jie mencatat bahwa Vietnam memerlukan sekitar 800.000 insinyur perangkat lunak, tetapi kekurangan tenaga kerja mencapai nyaris 200.000 orang. Namun, pada saat yang sama, banyak warga Vietnam mencari pekerjaan di luar negeri, dan mayoritas memilih bekerja di Jepang dan Taiwan. Proporsi pekerja migran asal Vietnam yang memilih untuk bekerja di Taiwan mencapai 40,3%. Sementara itu, di Taiwan, sekitar 35% pekerja migran berasal dari Vietnam. Zhang Yi-jie berpendapat, pemerintah seharusnya mempertimbangkan cara untuk memperkuat kemitraan dengan Vietnam.

Selain menganalisis kondisi pasar tenaga kerja di negara-negara ASEAN, para akademisi dan peserta juga tertarik pada bagaimana cara mempertahankan siswa asal Asia Tenggara yang datang belajar di Taiwan. Direktur Pusat Studi Negara-negara ASEAN Hsu, Kristy Tsun Tzu (徐遵慈) menekankan, sebenarnya jurusan yang dipilih oleh siswa memiliki dampak yang relatif kecil, yang lebih penting adalah kemauan mereka. Mengenai visa kerja, dia berpendapat bahwa aturan visa sebenarnya telah dilonggarkan dalam dua tahun terakhir, tetapi permasalahannya terletak pada sikap majikan.

Hsu, Kristy Tsun Tzu juga mengingatkan, berdasarkan penelitian yang disajikan dalam buku "Pasar Tenaga Kerja dan Prospek Tenaga Kerja Industri di ASEAN", Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Malaysia, belum memiliki sistem pendidikan yang mampu untuk memenuhi kebutuhan seluruh industri lokal. Ada kesenjangan besar antara lulusan yang dihasilkan oleh sistem pendidikan dengan apa yang dibutuhkan oleh industri. Ini sebenarnya menciptakan peluang pasar yang besar bagi pendidikan teknis dan vokasional Taiwan. Melatih tenaga kerja secara langsung di negara-negara tersebut dapat membantu mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja yang dihadapi oleh perusahaan Taiwan yang beroperasi di sana.

(foto: 陳念宜)

Komentar

Terbarumore