(Taiwan, ROC) Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Arsjad Rasjid menerima wawancara dan menyampaikan, berharap Taiwan dapat berinvestasi di Indonesia, KADIN akan menjembatani pemerintah dan perusahaan, bagi perusahaan yang menghadapi masalah bisa menghubungi KADIN, Ia mengatakan “asalkan Taiwan bersedia memberikan pelatihan dan dana, untuk legalisasi dokumen dan lahan serahkan kepada pihaknya”.
Arsjad Rasjid menyampaikan, pemerintah Indonesia saat ini sangat mementingkan ekonomi dan perdagangan, tak heran negara adidaya RRT adalah salah satu mitra dagang Indonesia, ia berterus terang bahwa apabila ekonomi RRT melemah maka akan berimbas pada Indonesia, maka dari itu wajib melindungi pasar dan menekankan Indonesia “tidak ingin hanya mengandalkan satu negara”, maka saat ekspor produk ke RRT sekaligus mencari pasar lainnya.
KADIN terbentuk pada tahun 1968 yang didirikan oleh perusahaan swasta Indonesia, koperasi dan BUMN menjadi organisasi non-pemerintah, tugas utama adalah mengoordinasikan semua pengusaha Indonesia dan mempromosikan kerja sama dagang, sangat berpengaruh terhadap berbagai kebijakan pemerintah Indonesia.
Arsjad Rasjid selain menjabat sebagai Ketua Umum KADIN, baru-baru ini penanggung jawab tim kampanye capres Ganjar Pranowo partai PDIP, sementara izin cuti untuk jabatan sebagai ketua umum KADIN untuk berkonsentrasi untuk kampanye.
Ia mengatakan, hubungan Indonesia dan Taiwan semakin akrab, hubungan antar masyarakat juga semakin erat, tahun lalu menteri investasi Indonesia ke Taipei, saat itu masih dalam masa pandemi, hanya dapat beraktivitas dalam kamar hotel.
Arsjad Rasjid mengatakan, Taiwan memiliki kemampuan teknologi yang sangat tinggi mencakup teknologi pertanian, “pasar Taiwan lebih kecil, akan tetapi Indonesia sangat besar dan kaya akan sumber daya, jika melakukan kerja sama, seharusnya menjadi salah satu bagian dari rantai pasokan industri global.”
Selain menjabat sebagai Ketua Umum Kadin, Arsjad Rasjid selaku Presiden Direktur Indika Energy, membawa perusahaannya bekerja sama dengan Foxconn Indika Motor (FIM) pada tahun lalu, pada periode pertemuan G20 di Bali, menyumbangkan 5 buah bus umum listrik.
Arsjad Rasjid membeberkan, “pihaknya dan perusahaan FoxConn berkonsentrasi memberikan layanan kendaraan listrik, terutama untuk kendaraan umum.” Ia mengemukakan, metode kerja sama yang diambil dari kedua belah pihak adalah BOL ( build operate and localize), yang menekankan kerja sama lokal. Ia mengatakan, sangat menyukai metode kerja sama ini, namun tidak memberikan detailnya.
Arsjad Rasjid mengimbau agar Taiwan melakukan investasi di Indonesia, dan mengharapkan dapat menyaksikan semakin banyak pengusaha di Indonesia. Ia menekankan, “Taiwan dapat menyediakan lapangan kerja, teknologi dan dana serta pelatihan pengembangan SDM, sementara hal lainnya seperti lahan, legalisasi dokumen dapat ditangani oleh KADIN.”