(Taiwan, ROC) -- Radio Free Asia (RFA) mewartakan, otoritas Biro Statistik Nasional Tiongkok pada tanggal 15 Agustus 2023 mengumumkan bahwa mereka akan menangguhkan publikasi perihal tingkat pengangguran untuk golongan muda berusia 16 hingga 24 tahun yang berdomisili di perkotaan.
Penangguhan tersebut kemudian menimbulkan kekhawatiran dan keraguan di tengah masyarakat setempat.
Pihak instansi yang merilis data bersangkutan menyampaikan, bahwa penangguhan publikasi tersebut diakibatkan karena tidak adanya kesepakatan mengenai standar dan ruang lingkup pengumpulan data.
Namun hal di atas diyakini sebagai upaya untuk menutupi kondisi sebenarnya, yakni situasi perekonomian Tiongkok yang kian tergerus akibat ancaman resesi dan proporsi pengangguran yang semakin meningkat.
Juru bicara Biro Statistik Nasional Tiongkok, Fu Ling-hui (付淩暉) mengumumkan, pihaknya akan menangguhkan publikasi perihal tingkat pengangguran untuk golongan pemuda berusia 16 hingga 24 tahun yang berdomisili di kawasan perkotaan.
Menurut penjelasan di situs resmi, golongan pemuda yang berada di rentang usia 16 hingga 24 tahun, mayoritas adalah pelajar sekolah. Hal tersebut dinilai akan memunculkan kontroversial jika menyertakan kelompok ini ke dalam perhitungan statistik.
Salah seorang pakar media senior menyampaikan, alasan yang diutarakan oleh pihak berwenang sangatlah tidak mendasar. Diperkirakan ada sekitar 80% lulusan perguruan tinggi akan menghadapi kemungkinan menyandang status pengangguran.
Mantan editor senior dari media Southern Weekly mengutarakan, “Fakta yang ada sekarang adalah 80% mahasiswa akan menyandang status pengangguran. Kebijakan seperti ini rasanya tidak ada manfaatnya untuk dibahas.”
Beberapa profesor di universitas menuturkan, di bawah tekanan dari otoritas berwenang, membuat pihak universitas atau perguruan tinggi terpaksa harus memalsukan data mereka, guna meningkatkan tingkat lapangan pekerjaan. Data yang dipalsukan tersebut mungkin sangat bertolak belakang dari situasi sebenarnya.
Pengumuman penangguhan tersebut juga sempat trending di platform media social Tiongkok, yakni Weibo. Dalam satu hari, sudah ada 210 juta pengguna yang membaca pengumuman tersebut dan berhasil menduduki peringkat kelima topik terviral.
Tidak membutuhkan waktu lama, topik bersangkutan pun akhirnya hilang dari daftar pencarian 50 topik terpopuler di Weibo. Pihak berwenang diduga sengaja melakukan penyaringan atau penghapusan wacana yang terkait penangguhan pengumuman tersebut.
Keputusan Biro Statistik Nasional Tiongkok tersebut telah menimbulkan pertanyaan tentang niat dari pejabat Tiongkok untuk menyembunyikan situasi ekonomi setempat yang sebenarnya.