(Taiwan, ROC) -- Topik kenaikan tarif listrik Taiwan rata-rata 11% tetap terus menjadi perbincangan hangat, Perdana Menteri Chen Chien-jen ketika mengikuti acara makan pagi bersama yang digelar oleh The Chinese National Association of Industry and Commerce, Taiwan (CNAIC) pada pagi hari Kamis ini (30/3) menegaskan bahwa bahan bakar internasional mengalami kenaikan sejak peperangan antara Rusia dan Ukraina berlangsung, tiap-tiap negara menaikkan tarif listrik, sehubungan dengan sebagian dari sumber daya listrik Taiwan bergantung pada impor, sehingga tidak mau tidak mau mengambil keputusan untuk menyesuaikan tarif listrik. Namun pemerintah tetap mempertimbangkan untuk melindungi rakyat, manufaktur, serta lainnya, untuk itulah menggunakan cara penyesuaian rata-rata dengan harapan melalui penyesuaian bersama dari pemerintah, masyarakat, dan pengusaha, untuk dapat menghadapi terpaan kenaikan bahan bakar global.
The Chinese National Association of Industry and Commerce, Taiwan (CNAIC) pada tanggal 30 Maret pagi mengelar kegiatan makan pagi bersama, mengundang Perdana Menteri Chen Chien-jen berserta rombongan kabinetnya untuk melakukan diskusi tertutup terkait pembangunan ekonomi, dan ini merupakan pertemuan makan pagi bersama pertama sejak Chen Chien-jen menjabat sebagai perdana menteri dan Thomas Wu menjadi ketua eksekutif CNAIC.
Dalam pidatonya, Chen Chien-jen menyampaikan, untuk menanggapi perubahan ekonomi global, kabinet baru pemerintahan Presiden Tsai Ing-wen melaksanakan 4 tugas utama yaitu “Meringankan beban rakyat, menstabilkan harga barang kebutuhan rakyat, penyesuaian industri, mempertahankan kemampuan ekonomi”. Yuan Eksekutif juga telah memulai untuk memperkuat ekonomi Taiwan secara keseluruhan, meningkatkan pertahanan sosial dan kemampuan beradaptasi masyarakat, serta berbagi pencapaian ekonomi kepada seluruh rakyat dengan mendistribusikan uang tunai sebesar NT$6.000 surplus pendapatan pajak untuk mendongkrak kebutuhan dalam negeri, meningkatkan dan memperkuat usaha kecil dan menengah dalam negeri, memperluas pemberian subsidi transportasi umum untuk meningkatkan daya tarik wisatawan manca negara datang ke Taiwan, memperkuat infrastruktur pertanian dan lainnya. Berdasarkan perkiraan Direktoral Jenderal Budjet, Akuntansi dan Statistik (DGBAS), setelah penerapan subsidi pasca pandemi, pertumbuhan ekonomi Taiwan untuk tahun ini bisa mencapai 25%.