History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Kenal Istilah PUA, yang Berbeda dengan Emotional Blackmail, Kenali 5 Jebakan PUA

  • 12 January, 2025
Men’s Talk
Kenal Istilah PUA, yang Berbeda dengan Emotional Blackmail, Kenali 5 Jebakan PUA 圖: PEXELS

(Taiwan, ROC) --- "PUA" (Pick-Up Artist) menjadi topik yang hangat diperbincangkan dalam beberapa tahun belakangan ini. Baru-baru ini, seorang pria tertangkap melakukan pendekatan secara acak kepada mahasiswi yang sendirian di sekitar kampus. Dia bahkan diam-diam memotret target dan memamerkan "hasil buruannya" di grup kursus online teknik PDKT (pendekatan).

Percakapan grup tersebut tersebar ke forum publik, dan terungkap bahwa grup tersebut memang merupakan komunitas "PUA". Kejadian ini menuai banyak kritik dan kecaman dari netizen yang menganggapnya menjijikkan.

"PDKT" yang membuat orang lain tidak nyaman sebenarnya bisa dikenakan sanksi hukum. Menurut media TVBS, jika tindakan PDKT membuat orang lain merasa tidak nyaman, maka hal tersebut bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual dan dapat dikenakan denda antara NT$10.000 hingga NT$100.000.

Jika seseorang tetap mengikuti targetnya meskipun sudah ditolak, maka hal ini bisa melanggar UU Anti Penguntitan dan Pelecehan Pasal 18, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 1 tahun dan/atau denda hingga NT$100.000.

Mengambil foto tanpa izin dan menyebarkannya juga dapat melanggar Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.
PUA (Pick Up Artist) berarti "seniman PDKT", awalnya mengacu pada cara membantu pria yang tidak mahir bersosialisasi untuk mendekati orang yang mereka sukai melalui teknik dan aplikasi psikologi.

Namun kemudian berkembang menjadi sekelompok orang yang berdedikasi untuk mempelajari dan menerapkan strategi dan taktik psikologis tertentu untuk mengejar lawan jenis, termasuk merendahkan target, bersikap panas-dingin dan cara-cara lain, yang akhirnya bertujuan untuk menipu dalam hal seksual dan finansial.

 

Perbedaan Antara "PUA" dengan Pemerasan Emosional (Emotional Blackmail)

Perilaku PUA yang paling umum adalah mengkritik dan membuat target berpikir, "Memang ada yang salah dengan diri saya?", sehingga secara perlahan menciptakan hierarki status antara kedua pihak.

Pada akhirnya, pihak yang dikritik akan terkontrol tanpa syarat seperti telah dicuci otak.

Sementara itu, Doktor Psikologi Susan Forward dalam bukunya "Emotional Blackmail (Chantaje Emocional)" menyebutkan bahwa pemerasan emosional mencakup "strategi FOG", yang berusaha membuat target merasakan Fear (ketakutan), Obligation (kewajiban) dan Guilt (rasa bersalah), untuk mencapai tujuan mereka.

Dibandingkan dengan PUA yang menciptakan perbedaan status, pemerasan emosional lebih sering terjadi dalam situasi di mana hubungan sudah dekat.


Asal Usul PUA dan Cakupannya yang Luas

Pada tahun 2005, penulis Amerika Neil Strauss menerbitkan buku "The Game" yang menjadi sangat populer, dan konsep PUA pun menyebar ke seluruh dunia.

Awalnya, PUA berfokus pada cara mendekati wanita, tetapi seiring waktu, topiknya meluas ke masalah hubungan antara pria dengan wanita.

Beberapa orang bahkan menyebut diri mereka sebagai "guru cinta" atau "ahli PDKT", menggunakan konsep PUA untuk menawarkan kursus online mahal yang menargetkan pria lajang yang ingin berkenalan dengan wanita, yang kemudian menimbulkan berbagai masalah keamanan sosial.
Seiring perkembangan budaya PUA, praktik merendahkan harga diri orang lain tidak lagi terbatas pada hubungan pria dengan wanita.

PUA bisa terjadi dalam berbagai gender dan hubungan, termasuk antara pria dengan pria, atasan dengan bawahan, dan bahkan banyak netizen yang membagikan pengalaman mereka mengalami PUA dari orangtua terhadap anak.
 

5 Jebakan PUA yang Umum

Platform konsultasi psikologi "Just A Moment" mengidentifikasi lima jebakan PUA utama, meliputi keingintahuan, eksplorasi, pesona, penghancuran, dan penganiayaan.

Proses ini dimulai sejak awal perkenalan, di mana korban bisa terjebak oleh kata-kata manis, hingga akhirnya merasa terpuruk karena fitnah dan kritik, yang mana sepenuhnya masuk dalam jebakan manipulasi.

1. Jebakan Keingintahuan

Pelaku menciptakan "persona palsu yang sempurna", seperti pengusaha sukses, tokoh masyarakat terkemuka, atau anak orang kaya, untuk menurunkan kewaspadaan korban.

2. Jebakan Eksplorasi

Pelaku sengaja menunjukkan kelemahan, menciptakan kontras dengan persona mereka untuk membangkitkan empati korban dan membuat korban merasa "spesial".

3. Jebakan Pesona

Setelah korban menunjukkan kepercayaan dan ketertarikan, pelaku akan memancing korban untuk menyatakan perasaan, tetapi tidak pernah secara aktif mengakui atau memperjelas hubungan mereka.

4. Jebakan Penghancuran

Setelah hubungan intim terjalin, pelaku akan bersikap panas-dingin, membuat korban merasa harus "melakukan apa saja untuk menyenangkan mereka", yang mengarah pada perilaku merendahkan diri dan terjebak dalam hubungan yang menyakitkan.

5. Jebakan Penganiayaan

Pelaku akan menyiksa korban secara verbal atau fisik, termasuk makian, intimidasi, pencemaran nama baik atau kekerasan pasif, bahkan KDRT dan pelecehan seksual, semua untuk mengendalikan korban sepenuhnya dan memuaskan keinginan pribadi mereka.
 

Penyiar

Komentar