Tahukah Anda bahwa ada beberapa riset / studi yang menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kelebihan fisik menarik memiliki kesempatan lebih baik dalam urusan asmara, kehidupan sosial, bahkan urusan karir dan kepemimpinan?
Fenomena orang yang memiliki kelebihan fisik dan memiliki kesempatan lebih dalam ilmu psikologi disebut “lookism”.
Lookism disebut sebagai suatu istilah yang merujuk pada perlakuan diskriminatif kepada orang-orang berdasarkan penampilan fisiknya. Istilah ini pertama kali muncul pada satu tulisan di The Washington Post Magazine pada tahun 1987.
Lookism sering kali ditemui dalam urusan asmara, lingkungan sosial, bahkan lingkungan kerja yang kerap menyebutkan persyaratan paling awal adalah penampilan fisik yang menarik, termasuk tinggi badan.
Sebuah studi juga menyampaikan, bahwa masyarakat secara umum akan lebih memilih pemimpin politik yang lebih tinggi, dibandingkan dengan politikus yang pendek.
Beberapa pemimpin dunia yang cukup tinggi antara lain adalah Presiden Rusia Vladimir Putin dengan tinggi 170 cm. Presiden RRT Xi Jinping dengan tinggi mencapai 175 cm. PM Inggris Boris Johnson memiliki tinggi 175 cm. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memiliki tinggi 183 cm. Kemudian, PM Kanada Justin Trudeau dengan tinggi 188 cm termasuk pemimpin dunia yang tinggi. Hal ini juga berlaku untuk perempuan, seperti Angela Merkel (165 cm) dan PM Selandia Baru Jacinda Ardern (170 cm) . Sementara presiden Taiwan saat ini yaitu Tsai Ing-wen memiliki tinggi badan 164 cm dan kandidat presiden terpilih Lai Ching-te memiliki tinggi badan 168 cm.
Menurut Dr Gregg Murray dari Texas Tech University di Lubbock, Texas, membeberkan kandidat pemimpin dari Partai Republik dan Demokrat yang tinggi menjadi isu penting dalam setiap pemilu presiden pada 1789 hingga 2008. Faktor tingginya pemimpin berpengaruh terhadap 58% responden. Ketika ditanya, presiden mana yang akan dipilih, mereka cenderung memilih pemimpin yang tinggi.
Kenapa? “Nenek moyang kita tinggal di kelompok yang umumnya terlibat konflik dan kerap membutuhkan penyelesaikan secara fisik,” seperti diwartakanMurray dari Guardian.
“Jika kamu di dalam sebuah kelompok dan ada musuh yang datang dari sebelah bukit, tentunya kamu ingin orang paling tinggi untuk melihat musuh, sehingga mereka mengetahui kalau peperangan tersebut akan berjalan dengan berat,” katanya.
Menurut survei yang dilakukan terhadap 467 responden yakni mahasiswa AS untuk menggambarkan pemimpin nasional yang ideal. 64% responden mengungkapkan pemimpin ideal adalah mereka yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata penduduk. Sebagian besar responden yang terlibat adalah mahasiswa Amerika, hanya sebagian kecil dari Afrika, Asia, Eropa, dan Amerika Latin.
“Bisa jadi itu adalah faktor budaya,” kata Murray. “Namun, dia menemukan hasil kalau pemimpin tinggi diterima di semua budaya,” terangnya.
Selain itu, ada beberapa kajian mengungkapkan pemimpin yang tinggi juga berdampak positif terhadap kepemimpinan, terutama pria. Sebagian besar orang memandang pria yang tinggi cenderung persuasif, impresif, dan memiliki kemampuan di atas rata-rata.
Salah satu survei mengungkap CEO dari perusahaan yang masuk dalam Fortune 500 ternyata memiliki tinggi di atas rata-rata orang AS. Para CEO itu umumnya memiliki tinggi rata-rata mencapai 187 cm dan menariknya hal tersebut juga berpengaruh pada pendapatan tahunan rata-rata mereka.
Menariknya, beberapa pemimpin dunia ternyata memiliki tinggi badan yang tidak terlalu tinggi, seperti Napoleon Bonaparte (167 cm), Joseph Stalin (165 cm), Kaisar Hirohito (165 cm), Vladimir Lenin (165 cm), Mahatma Gandhi (162cm), Yasser Arafat (157 cm), dan Kim Jong-il (160 cm). Kim Jongil kerap digambarkan sebagai sosok bertubuh tinggi dan besar. Ia sadar akan kekurangan fisiknya, sehingga Kim Jong-il membuat rambutnya menggembung ke atas dan memiliki sepatu berhak 12 cm agar tampak lebih tinggi di hadapan publik.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 



