Baca Buku Kau Menjagaku dalam Diam
Hari ini kita tidak terlibat lagi dengan gurita yang pintar, tapi saya ingin mengajak teman-teman menyimak sebuah cerita. Bukan tentang pahlawan besar, bukan tentang kemenangan luar biasa. Tapi tentang seorang manusia biasa, yang memilih untuk peduli—meskipun ia bisa saja tidak.
Ini adalah kisah tentang Weng Zhenyi, seorang hakim muda dari Taiwan, yang tidak hanya menjalani pekerjaannya, tapi juga merekam jejaknya dalam tulisan. Ia tidak berbicara lantang, tapi justru lewat keheningan dan ketulusan, ia menyampaikan sesuatu yang dalam—tentang hukum, tentang hidup, tentang rasa kemanusiaan.
Dan di balik kisah ini, mungkin kita bisa melihat cermin untuk diri kita sendiri—tentang apa arti menjaga, mengenang, dan menjadi terang… dalam diam.
Siapa pengarangnya:
Nama Pengarang : 翁禎翊Weng Zhenyi
Judul Buku: 你在暗中守護我Kau Menjagaku dalam Diam
KAU MENJAGAKU DALAM DIAM
Berdasarkan karya Weng Zhenyi (翁禎翊)
Pada suatu masa, ada seorang anak muda yang lahir di Taipei, Taiwan, tahun 1995. Namanya Weng Zhenyi. Seperti banyak anak lainnya, ia tumbuh besar di tengah perpindahan: pernah tinggal di Miaoli, menyelesaikan wajib militer di Chiayi, menjalani magang di Tainan, dan menulis tentang Kaohsiung. Kini ia tinggal di Taoyuan dan bekerja di Hsinchu. Tapi bukan itu yang membuat hidupnya istimewa.
Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana ia melihat dunia. Bagaimana ia mendengarkan. Bagaimana ia meresapi kehidupan yang tak banyak orang sempat perhatikan.
Ia pernah menjadi mahasiswa hukum, lalu lulus dan menjadi seorang hakim. Tapi jauh sebelum itu, ia hanya seorang anak muda biasa yang menyimpan satu pertanyaan di hatinya:
"Seberapa pedulikah aku terhadap kehidupan orang lain?"
Pertanyaan itu bukan basa-basi. Pertanyaan itu terus membayanginya—bahkan setelah ia duduk di kursi kehakiman, memegang palu sidang, dan mengenakan toga hitam yang kaku. Di balik kewenangan yang diberikan negara, ia tetap seorang manusia yang merasa harus memikirkan manusia lainnya.
Zhenyi menyadari satu hal: sebagian orang dihormati karena jabatan yang mereka miliki. Tapi yang lebih berharga, adalah mereka yang tetap layak dihormati setelah jabatannya dilepas. Mereka yang, walaupun bisa menutup mata, tetap memilih untuk melihat.
Dalam buku ini, Zhenyi tidak hanya menuliskan perjalanannya dari kampus ke ruang sidang. Ia menulis tentang setiap orang yang datang padanya—orang-orang yang hanya berbicara sebentar, sepuluh menit, dua puluh menit, tapi dalam waktu yang singkat itu membawa seluruh hidup mereka masuk ke ruang kecil itu. Ruang di mana nasib dipertaruhkan, keputusan dibuat, dan hati sering kali diuji.
"Kalian telah bertukar kehidupan denganku," tulisnya.
"Ingatlah setiap orang yang melangkah ke ruang sidangmu."
Karena bagi Zhenyi, setiap perkara bukan sekadar dokumen hukum. Di balik setiap kasus, ada luka, ada cinta, ada kegagalan, harapan, penyesalan. Ada sisi kemanusiaan yang tidak bisa dinilai dengan angka atau pasal-pasal.
Ia tahu, menjadi hakim bukanlah tentang menjadi sempurna. Ini bukan drama televisi. Dalam kehidupan nyata, sidang tidak selalu berakhir dengan keadilan mutlak. Kadang justru berakhir dengan hati yang berat.
Dan di situlah, ia memilih untuk tetap peduli.
Zhenyi tidak menulis dengan nada tinggi. Ia menulis dengan kejujuran. Ia tidak menjual cerita sensasional. Ia justru membuka dirinya—ia yang diam-diam pernah merasa iri pada orang lain, yang sering menangis tengah malam, yang merasa takut dan rapuh di balik toga yang tampak tegas.
Ia pernah merasa seperti planet kecil yang hanya memantulkan cahaya dari orang lain. Tapi kini, ia mulai belajar untuk bersinar sendiri—dengan caranya sendiri. Bukan cahaya yang menyilaukan, tapi cahaya yang hangat. Seperti bintang sejati di langit malam.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 