History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Jurnal Maria 週記Baca Buku貧困危機2 Krisis Kemiskinan2

  • 24 March, 2025

Baca Buku 讀書會 困危機2 Krisis Kemiskinan2

Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto瑪麗亞週記, hari ini saya melanjutkan baca buku yang telah saya bacakan di Jurnal Maria pekan lalu, buku tentang Krisis Kemiskinan yang ditulis pengarang Jepang Fujita Takanori

judul buku Krisis Kemiskinan—Lapisan Terbawah Masyarakat Jepang

Buku ini saya baca karena fenomena kemiskinan yang dibahas dalam buku ini mirip dengan fenomena yang tengah dihadapi Taiwan. Dan banyak negara di atas dunia ini tengah mengalami fenomena yang sama pula. Jadi mengapa tidak, kita simak baik-baik buku ini dan sekarang mari kita lanjutkan baca buku bagian kedua.


《貧困危機日本最底層社會》

Judul Buku: Kemiskinan—Lapisan Terbawah Masyarakat Jepang
 Penulis: Fujita Takanori

 

Beberapa orang berpendapat bahwa di negara-negara Asia Tenggara masih ada anak-anak yang hidup di kawasan kumuh, tidur di jalanan, dan jika dibandingkan dengan kondisi di tempat-tempat tersebut, Jepang masih bisa dikatakan sebagai negara yang makmur. Tampaknya di bagian prakata, penulis tidak setuju dengan pandangan sebagian orang Jepang bahwa mereka masih tergolong makmur karena masih banyak negara yang jauh lebih miskin.

 

Fujita Takanori mengatakan : Saya menentang pandangan seperti itu. Dalam buku ini, saya akan menjelaskan secara mendalam bahwa kemiskinan memiliki dua jenis: kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Kondisi di mana seseorang benar-benar terpaksa hidup di jalanan dalam keadaan yang sangat menyedihkan disebut sebagai kemiskinan absolut. Berbeda dengan itu, kehidupan yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti kesehatan, martabat, dan kesejahteraan sosial disebut sebagai kemiskinan relatif.

Di Jepang, kemiskinan relatif terus menyebar dengan cepat, mempengaruhi berbagai kelompok usia—mulai dari anak muda, orang dewasa yang seharusnya berada dalam masa produktif, hingga para lansia, tanpa memandang gender. Sebuah masyarakat yang kehilangan harapan, di mana keyakinan seperti "Meskipun hidup saya belum makmur sekarang, selama saya bekerja keras, saya akan memiliki masa tua yang bahagia" sudah tidak lagi berlaku, mungkin belum mencapai titik kemiskinan absolut, tetapi tetap berada dalam krisis kemiskinan yang mengkhawatirkan dan penuh tekanan.

 

Teman-teman, sebelum melanjutkan kata pengantar sang penulis, mari kita dengarkan bagaimana ulasan dan kesan Jurnalis Taiwan tentang isi buku ini.

 

Teman-teman Jmers, berikut ini adalah kesan dan ulasan seorang JurnalisTaiwan setelah membaca buku ini. Ia mengatakan:

Setelah membaca buku Krisis Kemiskinan—Lapisan Masyarakat Terbawah di Jepang karya Fujita Takanori, saya merasa sangat terkejut sekaligus terenyuh.

Buku ini tidak terlalu tebal dalam hal jumlah kata, tetapi memiliki "bobot" yang sangat besar. Meskipun latar belakangnya adalah kondisi sosial di Jepang, kenyataan yang diungkap dalam buku ini juga mencerminkan situasi serupa yang terjadi saat ini atau dalam waktu dekat di Taiwan.

Fujita, yang merupakan lulusan program magister Antropologi Manusia dari Universitas Luther Gakuin dan profesor tamu di Universitas Seigakuin, sekaligus direktur organisasi nirlaba Hotplus, telah lama berkecimpung dalam pekerjaan sosial dan memiliki pemahaman mendalam mengenai berbagai aspek kemiskinan.

Sejak awal, buku ini langsung menyoroti permasalahan utama dengan tajam:
"Kemiskinan di Jepang terus menyebar dengan kecepatan yang mencengangkan. Ia mendekat selangkah demi selangkah, dan saat Anda menyadarinya, mungkin Anda sudah tidak bisa bergerak lagi."

Pernyataan ini bukanlah berlebihan atau menakut-nakuti, melainkan gambaran nyata dari kondisi yang terjadi.

Biasanya, ketika berbicara tentang kemiskinan, orang cenderung membayangkan seseorang yang tidak memiliki tempat tinggal dan kesulitan mendapatkan makanan. Namun, di negara yang dianggap makmur, kemiskinan jenis baru tidak hanya sebatas "kemiskinan absolut"—yaitu mereka yang benar-benar tidak memiliki tempat tinggal dan kesulitan bertahan hidup—tetapi juga mencakup "kemiskinan relatif". Kemiskinan relatif adalah kondisi di mana seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya dengan cara yang sehat dan bermartabat.

Banyak kondisi kemiskinan yang nyata tetapi kurang mendapat perhatian atau diabaikan begitu saja, sehingga mereka yang mengalaminya harus bertahan dalam kondisi yang terus menghancurkan kehidupan mereka secara perlahan.

Misalnya:

  • Anak-anak yang seharusnya mengenyam pendidikan formal tetapi tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah;
  • Mereka yang telah menerima pendidikan dasar tetapi tidak dapat menikmati masa kanak-kanak seperti teman-teman sebayanya;
  • Orang-orang yang memiliki rumah tetapi tidak bisa menjalani kehidupan yang layak dan cukup makan;
  • Lingkungan kerja yang buruk dengan jam kerja panjang dan gaji rendah, di mana para pekerja dieksploitasi oleh perusahaan tanpa perlindungan hak yang memadai;
  • Orang-orang yang harus berhenti bekerja demi merawat orang tua mereka, sehingga akhirnya kehabisan tabungan dan jatuh ke dalam kemiskinan;
  • Mereka yang karena rasa malu atau kurangnya informasi, tidak berani mencari bantuan sosial yang sebenarnya tersedia;
  • Kurangnya keterampilan khusus yang membuat seseorang sulit mendapatkan pekerjaan baru setelah kehilangan pekerjaannya;
  • Perempuan muda yang, karena kesulitan ekonomi, terpaksa masuk ke industri hiburan malam atau pekerjaan yang tidak layak.

Dari masa kecil yang penuh kesulitan, mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang penuh keputusasaan, hingga akhirnya menjalani masa tua yang menyedihkan—sebuah siklus buruk yang terus berulang.

Bagi mereka yang belum pernah mengalami kondisi ini, sulit memahami mengapa seseorang bisa jatuh ke dalam jurang kemiskinan seperti ini. Bahkan, banyak yang menganggap orang miskin sebagai orang yang malas atau gagal karena kesalahan mereka sendiri. Tentu saja ada beberapa kasus seperti itu, tetapi tidak semua orang mengalami kemiskinan karena kesalahan pribadi.

Perubahan besar dalam struktur sosial dan keluarga, kondisi ketenagakerjaan yang memburuk dengan cepat, serta ketidakstabilan ekonomi dan inflasi yang melonjak adalah faktor-faktor utama. Namun, mereka yang masih memiliki kondisi ekonomi stabil sering kali sulit memahami atau berempati dengan situasi ini, termasuk para orang tua atau anggota keluarga mereka sendiri. Banyak masyarakat kelas menengah yang membayar pajak bahkan merasa tidak puas dengan bantuan sosial yang diberikan pemerintah kepada mereka yang membutuhkan.

Mengatasi masalah ini tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi tetap merupakan tanggung jawab negara yang tidak bisa dihindari. Di era yang disebut sebagai "abad perpecahan" ini, di mana setiap kelompok masyarakat saling bersaing untuk mempertahankan kepentingannya masing-masing, ketakutan akan kehilangan membuat kemiskinan semakin memburuk.

Untuk menemukan solusi, kita harus mulai dengan menjembatani kesenjangan sosial. Diskusi harus melibatkan orang-orang dari berbagai kelompok usia dan latar belakang ekonomi, karena kemiskinan adalah masalah yang dapat berdampak pada semua generasi dan bahkan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selain mencari strategi untuk mencegah kemiskinan di masa depan, yang lebih mendesak saat ini adalah segera membantu mereka yang sudah berada dalam kondisi sulit.

Jangan hanya memikirkan keamanan dan kenyamanan diri sendiri, karena kebahagiaan yang berlandaskan kepedulian terhadap sesama justru dapat memberikan harapan yang lebih besar bagi banyak orang!

Bagi siapa saja yang tertarik atau peduli terhadap dinamika sosial, saya sangat merekomendasikan buku ini.

Buku ini terdiri dari lima bab utama:

  • Bab 1: Kemiskinan di kalangan anak muda (usia 10–20 tahun) – Mengapa banyak anak muda sulit mempertahankan pekerjaan? Mengapa mereka tidak berani menikah? Apakah mereka benar-benar malas?
  • Bab 2: Kemiskinan di kalangan orang paruh baya (usia 40-an) – Ketika sistem kerja seumur hidup mulai runtuh, mereka yang menjadi tulang punggung keluarga menghadapi tekanan yang semakin besar. Ada juga fenomena hikikomori (orang yang mengurung diri) dan mereka yang masih bergantung pada orang tua.
  • Bab 3: Kemiskinan perempuan – Kesenjangan gender di dunia kerja, upah yang lebih rendah dibanding laki-laki, serta perjuangan para ibu tunggal yang menjadi kelompok paling rentan dalam kemiskinan.
  • Bab 4: Kemiskinan lansia – Mereka yang tidak memiliki tabungan, tempat tinggal, atau menderita penyakit, bahkan masih harus menanggung anak-anak mereka yang belum mandiri secara finansial.

 

Lanjutan kata pengantar sang penulis buku:

Bersama rekan-rekan di organisasi nirlaba hotplus, saya telah lama berupaya menyelenggarakan serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan bantuan bagi kelompok masyarakat miskin, dengan berbasis di Kota Saitama, Prefektur Saitama. Dalam 15 tahun terakhir, kelompok masyarakat miskin yang tampak jelas—seperti mereka yang mengalami kelelahan fisik akibat kerja berlebihan hingga terpaksa meninggalkan apartemen mereka dan akhirnya hidup di jalanan—perlahan mulai menghilang. Hal ini juga berkaitan dengan keberadaan lembaga sosial yang menyediakan tempat tinggal sementara serta meningkatnya jumlah kafe internet (net cafés) yang tersebar di seluruh Jepang.

Namun, yang semakin mengkhawatirkan adalah bertambahnya jumlah orang yang tidak dapat melihat atau mengakui betapa buruknya kondisi kehidupan mereka. Mereka menutup diri, tidak meminta bantuan kepada siapa pun, dan akhirnya terjebak dalam jalan buntu. Kesadaran "Saya tidak ingin mengakui bahwa saya miskin" justru membuat kemiskinan semakin sulit untuk terlihat.

Untungnya, hotplus menangani lebih dari 500 kasus konsultasi setiap tahunnya, memungkinkan kami sebagai pemberi bantuan untuk melihat kemiskinan dengan jelas. Saya berharap dapat menyampaikan realitas kemiskinan ini kepada masyarakat, meskipun hanya sebagian kecil, agar semakin banyak orang yang menyadari adanya krisis kemiskinan serta memperoleh kemampuan untuk menghadapi dan mengatasinya sejak dini.

Penyiar

Komentar