History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Jurnal Maria 週記Sindrom Bakti Dadakan Anak Perantauan

  • 17 February, 2025

 Baca Buku讀書會 天邊孝子症候群Sindrom Bakti Dadakan Anak Perantauan

 

Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Liburan tahun baru imlek sudah berlalu, aktivitas kembali normal dan ternyata dalam 9 hari liburan, muncul suatu fenomena lucu dan memusingkan kepala para dokter jaga, dan mereka mengatakan telah muncul sebuah sindrom di masa liburan nah, namanya apa, mari kita simak bersama.

hari ini saya mengajak Anda baca buku kehidupan yang saya beri judul 天邊孝子症候群“Sindrom Bakti Dadakan Anak Perantauan”"Distant Filial Syndrome" atau "Remote Filial Piety Syndrome"

 

Istilah ini menggambarkan bagaimana anak-anak yang merantau dan jarang pulang tiba-tiba menunjukkan kepedulian secara mendadak saat kembali ke rumah. Mereka merasa perlu "menebus" waktu yang hilang dengan membawa orang tua ke dokter atau rumah sakit, meskipun kondisi mereka tidak darurat.

Fenomena ini terjadi karena:
Rasa bersalah karena jarang merawat orang tua secara langsung.
Tekanan sosial dan budaya untuk menunjukkan bahwa mereka masih berbakti.
Kurangnya pemahaman tentang kondisi kesehatan orang tua yang sebenarnya.
Keterbatasan waktu, sehingga mereka ingin menyelesaikan semuanya dalam kunjungan singkat.

Namun, bakti tidak seharusnya hanya ditunjukkan saat mudik, tetapi melalui perhatian yang konsisten, seperti komunikasi rutin, membantu kebutuhan orang tua dari jauh, dan memastikan mereka mendapat perawatan yang diperlukan sebelum kondisi memburuk.

 

 

Anak-anak orang Taiwan yang tinggal jauh dari orang tua yang merantau di LN tiba-tiba menunjukkan kepedulian berlebihan saat pulang ke rumah, sering kali dengan menyalahkan anggota keluarga yang merawat orang tua sehari-hari dan membawa mereka ke rumah sakit, meskipun kondisi mereka tidak darurat.

 

Libur Tahun Baru Imlek yang berlangsung selama sembilan hari yang baru saja berlalu di Taiwan, menyebabkan ruang gawat darurat (UGD) di berbagai rumah sakit penuh sesak. Mayoritas pasien mengalami gejala mirip flu dan gangguan pencernaan.

 

Ruang Gawat Darurat Penuh saat Imlek, Dokter Ungkap Fenomena “Sindrom Anak Berbakti di Perantauan” “Sindrom Bakti Dadakan Anak Perantauan”

Libur Tahun Baru Imlek yang berlangsung selama sembilan hari menyebabkan ruang gawat darurat (UGD) di berbagai rumah sakit penuh sesak. Mayoritas pasien mengalami gejala mirip flu dan gangguan pencernaan.

 

Dokter jaga di masa tahun baru imlek menjelaskan bahwa di antara pasien yang datang ke UGD, ada fenomena yang disebut “Sindrom Anak Berbakti di Perantauan.” “Sindrom Bakti Dadakan Anak Perantauan” Fenomena ini terjadi ketika seseorang yang bekerja jauh dari rumah baru kembali saat tahun baru, lalu menyalahkan anggota keluarga yang merawat orang tua sehari-hari karena dianggap tidak merawat dengan baik. Untuk menunjukkan rasa bakti, mereka membawa orang tua mereka ke UGD, meskipun kondisi mereka tidak darurat.

Dr. Li yang mengungkapkan kemunculan sindrom ini menambahkan bahwa setelah kembali ke rumah, anak-anak ini menemukan bahwa orang tua mereka telah mengalami nyeri pinggang selama dua hingga tiga bulan atau bahwa penyakit kronis mereka tidak membaik. Mereka pun bersikeras membawa orang tua ke UGD selama liburan Imlek, meskipun kondisi tersebut telah berlangsung lama dan tidak memerlukan penanganan darurat.

Selain itu, UGD menerapkan sistem triase, di mana pasien dengan kondisi lebih serius akan diprioritaskan. Ini berarti pasien dengan keluhan ringan harus menunggu lebih lama, sehingga meningkatkan risiko paparan infeksi di rumah sakit.

Penyiar

Komentar