Bacabuku Huang Shan Liau讀書會 黃山料的書
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto 歡迎收聽瑪麗亞週記
Mari bacabuku, saya membaca Anda mendengarkannya. Buku yang saya baca hari ini berjudul 《心很小 裝喜歡的事就好》 “Hati ini kecil, jadi cukup untuk menyimpan yang menyenangkan saja.” Sebenarnya, buku ini dijual bersamaan dengan buku lainnya, jadi kalau membeli sekaligus dua buku. Tetapi hari ini saya baca buku satu saja yaitu yang berjudul “Hati ini kecil, jadi cukup untuk menyimpan yang menyenangkan saja.”
Beberapa pembaca memberikan komentar seperti ini setelah membaca buku Huang shan Liau: Saya sungguh kagum dan iri dengan kepiawaian gaya diksi Huang Shan Liau. Sebuah buku yang membahas hubungan antara anggota keluarga, bisa ditulis dengan diksi yang mengusik hati. Buku ini tidak hanya menjadi buku pelipur, juga sekaligus menjadi cacatan isi hati penulis, yang menautkan hati para pembacanya untuk terbenam dalam nuansa plot cerita.
Pembaca yang sekaligus adalah seorang psikolog ini tergugah oleh sebuah frasa dalam buku ini: “Gaya hidup yang terbaik adalah seseorang bisa menikmati kesendiriannya dengan nyaman, dan lugas ketika berada dalam dunia kehidupan orang lain.” Nuansa hati seperti ini sangat didambakan orang banyak.
Bagaimana isi cerita buku ini? Alur cerita kehidupan ini mengulas nasib seorang anak gadis bernama Xiao En, yang dibesarkan dalam keluarga yang pilih kasih, mementingkan anak laki-laki dan mengabaikan anak perempuan,. Xiao En bertumbuh dalam keluarga seperti ini, meskipun prestasinya di sekolah sangat bagus, ia tetap tidak memperoleh perhatian orang tuanya, betapa ia berupaya keras, tetap tidak pernah mendapatkan perhatian dari ayah dan ibunya.
Sampai suatu hari, pabrik kimia yang dikelola keluarganya terbakar, dan kakak laki-laki nya tewas dalam ledakan kebakaran pabrik tsb. demikian pula, dalam sehari, usaha keluarganya hangus menjadi arang. Sejak saat itu, ayahnya meninggalkan rumah, tidak pernah pulang, sedangkan ibunya bergelut dengan gangguan mental bipolar. Setiap kali penyakit ibunya kambuh, ibunya akan menusuk nusuk punggung Xiao En dengan jarum, sambil menusuk sambil berkata “Kalau seandainya aku tidak melahirkanmu, alangkah baiknya.”
Hingga Xiao En menginjak usia 18 tahun, di hari ulang tahunya ia meninggalkan rumah dengan hati kecewa, benci dan tidak rela. Ia bersekolah ke Taipei. Tetapi Xiao En tidak bisa menikmati masa kuliahnya dengan baik-baik, karena dalam hatinya selalu terngiang-ngiang tekad untuk mencari uang. Ia bercita-cita, kalau ia sudah mencapai tabungan uang yang cukup, maka akan diberikan kepada orang tuannya, membayar biaya menghidupinya selama 18 tahun. Ia bertekad asalkan ia melunasi biaya hidupnya itu, maka ia bisa memisahkan diri secara tuntas dengan keluarganya. Dan sejak saat pelunasan terjadi, maka mereka sudah saling tidak berutang lagi.
Akhirnya, Xiao En setelah berjuang dengan gigih begitu lama, depot minuman yang dikelolanya semakin laris. Tetapi ia pun menyadari masalahnya, yaitu ia terlalu menginginkan perhatian dan pengakuan orang lain, sedangkan dalam hati kecilnya, ia sangat tidak percaya diri, dan ini menjadi kendala besar baginya menjalin hubungan relasi dengan orang lain. Ia tidak tahu harus bagaimana bergaul dengan orang lain, karena dalam hatinya ada sebuah lubang. Dan setiap ia menghadapi isu ini, punggungnya akan nyeri sakit. Luka di hati, semua diingat oleh tubuhnya. Setelah meninggalkan rumah selama 7 tahun, Xiao En akhirnya sudah mengumpulkan tabungan yang cukup, tetapi malang sekali, ibunya malah menyudahi hidupnya. Kepergian ibunya ini barulah membuat Xiao En berkesempatan mengenal kembali dirinya lagi, selama 7 tahun apa saja yang dialami orang tuanya dan bagaimana perasaan mereka. Ternyata, apa yang diduga selama ini, tidak sama dengan kenyataan, ketika ia berkesempatan untuk menjajaki lagi, maka ia kembali merasakan cinta kasih dalam keluarganya. Karena ternyata selama ini, semua anggota keluarganya hidup sengsara, tetapi masing-masing memilih sebuah cara terbaik untuk berhadapan sama sama lain.
Buku ini seperti hendak mengisyaratkan kepada pembaca untuk menerima dan menyayangi orang-orang yang dekat dengan kita, tetapi dalam plot ceritanya, mengandung nilai penjajakan atas garis batas relasi antar manusia. Pada saat kita mendambakan hubungan intim yang akrab dengan orang lain, tetapi kita tidak ingin terikat oleh hubungan ini. Kita berharap bisa mendapatkan cinta kasih dari hubungan itu, dan bukan sesuatu hambatan yang menyesakkan hati. Maka bagaimana kita menimbang rasa, agar bisa tetap bebas dalam hubungan cinta kasih ini, kita harus pandai mengelola garis batas ini, kita menjaga baik-baik garis batas itu, sementara tidak lupa untuk menghormati garis batas orang lain pula. Tentu saja, untuk begini tidaklah mudah. Alias sulit.
Antar sesama kita bisa saja saling berpelukan ketika kita meminta maaf atas kesalahan yang kita perbuat. Meskipun sudah klise, karena terlalu sering dilakukan setiap bersalah, tetapi tetap mempan cara ini. Karena kita saling menghargai dan memperhatikan satu sama lain, maka tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi dengan sebuah pelukan, kalau ada maka mari berpelukan sekali lagi. Buku ini mengatakan, kalau kita menekan perasaan kita untuk membahagiakan orang lain, maka ini adalah tindakan salah, merugikan, sebab kalau kita gagal menyenangkan orang lain, kita tidak punya siapa-siapa lagi. Kita kehilangan orang itu, juga diri kita sendiri.
Maka kita menjadi diri kita sendiri adalah hal yang terbaik, sebab meskipun kita dibenci nantinya, paling tidak kita masih punya diri kita sendiri.
Tidak kontak lagi, bukan tidak cinta lagi, melainkan kita saling menyadari, tidak lagi berjumpa, tidak ada lagi rasa sakit, dan ini adalah rasa cinta terbaik.
Buku yang ditulis berdasarkan cerita sesungguhnya ini, melukiskan Xiao En yang dibully dalam ikatan kekeluargan, ia meninggalkan rumah dengan segerobak rasa sedih dan marah, dan dalam proses perjuangan hidup di perantauan, bermunculan hal-hal baik dan buruk, yang membuatnya bertumbuh dewasa tapi juga membunuh kehangatan hatinya. Dan sebelum ia ditelan oleh ambisi metropolitan, Xiao En berhsil menguak luka di hati nya, ia melihat sebuah rahasia yang terselubung dalam luka yang membusuk.
Rasa sedih tidak patut dibanding-bandingkan, karena kau tidak pernah tahu, kenyamanan yang kau alami, mungkin adalah kesengsaraan bagi orang lain.
Penulis mengatakan “Kita tidak perlu harus merasakan setiap hal, tidak perlu mempunyai reaksi atas setiap emosi, karena waktu kita tidak banyak, rasa lembut di hati juga sangat terbatas, maka berikan 10% kesedikitan itu untuk orang yang tepat, dan sisanya 90% untuk diri kita sendiri.
Huang menggiring pembaca untuk menyadari potensi manusia, ketika bersedih jangan melupakan rasa bahagia, kita menengadah ke atas melihat langit ketika kita di titik nadir. Dan kita harus yakin bahwa hal yang buruk akan berlalu walau perlahan, dan yang baik sedang mendekati kita secara perlahan-lahan.
Hati ini kecil, maka isilah dengan hal yang menyenangkan saja, dengan berbekal harapan dan tekad, maka kau akan melaju ke kehidupan yang lebih baik. Penulis menyapa pembaca di akhir cerita, sebagai penutup. Hai pembaca apa kabar, saya Huang Shan Liau. Terima kasih telah selesai membaca cerita Saya dan Xiao En. Kita memang tidak bisa memilih siapa saja yang akan kita temui dalam hidup ini, sebab itu takdir, tetapi kita bisa memilih orang yang bagaimana yang bisa berada dalam kehidupan kita. Banyak orang mengeluh hidup ini susah, mengecewakan, banyak kendala, tidak ada cinta, tetapi hidup kita tidak sepatutnya menunggu vonis orang lain, kitalah yang menentukan, kehidupan yang bagaimana yang kita butuhkan.
Skenario kehidupan kita, bukanlah cerita bersambung dari orang tua kita, mereka bukan cerita jilid pertama kita, kita bukan pemeran pembantu, terlebih-lebih bukan figuran dalam lingkungan pertemanan. Sebab setiap orang adalah pemain utama dalam kehidupan masing-masing.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 