Bacabuku 讀書會 渺小一生 A Little Life I
《渺小一生》的童話世界,以及其中的美麗與哀愁
渺小一生(上、下)
A Little Life
作者:柳原漢雅(Hanya Yanagihara)
Bacabuku 讀書會
Mari bacabuku kembali, sebuah buku yang super tebal, terbagi menjadi buku kesatu dan kedua ditulis oleh Hanya Yanagihara. Judul bukunya A little life, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa mandarin. Buku novel tentang kehidupan yang penuh suka dan duka.
Buku ini unik sekali, ketika kita membuka lembaran kedua, terlihat sebuah judul dengan sebuah tempelan kertas notes berisikan pesan: “Hai, aku harap sampai detik ini kau lancar-lancar saja. Buku ini tebal sekali, menakutkan bukan, dan juga berat, tetapi kau kan sudah membaca sampai di lembaran ini, maka kau pasti bisa menyelesaikan baca buku ini. Dan hasilnya akan sangat memuaskan dan sungguh patut kau baca, saya jamin deh.”
Banyak orang mengatakan seumur hidupmu jangan lewatkan membaca buku ini. Maka saya turuti dan saya baca. Ini adalah sebuah buku novel yang ditulis warga AS keturunan Jepang pada Maret 2015, penulisnya bernama Hanya Yanagihara.
Sebetulnya buku ini tidak dipandang oleh penerbitnya, karena terlalu tebal mencapai 700 an halaman, dan setelah diterjemahkan ke mandarin malah tambah tebal mencapi 932 halaman. Hanya Yanagihara sendiri juga semula tidak menduga bukunya menjadi best seller. Tetapi siapa mengira, buku A Little Life kemudian diwartakan Washington Post sebagai buku best seller yang melejit di luar dugaan. Mengapa penulis dan penerbit tidak menaruh harapan terhadap buku ini, karena beberapa faktor, pertama karena bukan buku pertama dari penulis, dan penulisnya sudah tidak muda lagi, dan juga tidak mempunyai latar belakang pendidikan menulis secara akademisi tingkat pasca sarjana. Mereka memberikan waktu 6 pekan untuk hidup mati buku ini, dan lewat batas waktu ini, penulis dan penerbit akan lepas tangan dan tidak mempromosikan buku ini lagi, alias kandas. Jadi Hanya Yanagihara mengenang kembali perasaanya di masa lalu, ia dan penerbit berharap ada segelintir orang membaca bukunya, tidak terlalu banyak cukup 5000 buku saja semoga bisa terjual. Maka tidak ada promosi besar-besaran dan komentar media atas buku ini juga terbatas. Tetapi tidak diduga sama sekali, pembaca sendiri memperkenalkan buku ini, mereka merekomendasikan kepada masyarakat, maka toko buku pun juga memajang buku di tempat yang ideal agar terlihat pengunjung, apalagi buku ini menjadi sangat viral setelah ada yang mengedarkan buku ini di twitter. Jadi pembaca sendiri yang menyukai buku ini dan diviralnya di twitter. Dan lucu sekali, penulis buku Hanya Yanagihara hanya punya Instagram, sama sekali tidak punya twitter, dan malah Hanya Yanagihara mencanangkan bahwa akun Facebook dan Twitter atas namanya itu semua akun palsu.
Tampaknya buku ini secara diam-diam memupuk energi sendiri, dan mendobrak segala rintangan dan menjadi best seller, luar biasa bukan? Pembaca sendiri yang memviralkan dan membuat buku ini menjadi best seller. Penulis dan penerbit sama sekali tidak menduganya. Karena mereka tidak menaruh harapan pada buku A Little Life ini. Komentar positif atas buku ini semakin banyak dan bergulir terus, dan resmi masuk ke barisan buku terlaris di Inggris.
Mari kita membaca secuplik isi buku ini, mengapa begitu menarik pembaca sampai dipromosikan sendiri oleh pembaca di twitter.
Diceritakan...... Ada 4 mahasiswa yang bertemanan akrab sekali, setelah lulus mereka mengadu nasib ke kota New York, tentu mereka mengalami banyak suka dan duka歐
Dalam apartemen no. 11 hanya ada sebuah lemari pakaian, dan sebuah pintu kaca dorong yang menghubungkan ruangan ke teras kecil. Dari teras ini Willem melihat seorang lelaki di seberang sedang merokok, meskipun sekarang sudah memasuki bulan ke sepuluh, orang itu hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek saja. Willem melambaikan tangannya menyapa orang itu, tetapi tidak ada respon dari lelaki seberang.( Jude, William, JB, Malcolm.)
Di dalam kamar tidur, Jude membuka dan menutup pintu lemari pakaian, pada saat ini Willem masuk ke kamar. “Hanya ada sebuah lemari pakaian saja.” Kata Jude. “Tidak mengapa.” Jawab Willem “Aku juga tidak punya barang untuk disimpan di sana.” “Aku juga.” Kedua nya saling melihat dan tersenyum. Manager apartemen masuk ke kamar melihat kedua calon penyewa ini. “Kami mau menyewanya.” Jude berkata kepada manager wanita itu. Tetapi ketika mereka kembali ke kantor manager apartemen, mereka diberitahu bahwa mereka tidak bisa menyewanya. “Kenapa tidak boleh?” tanya Jude. “Pendapatan kalian tidak cukup untuk melunasi uang sewa selama 6 bulan, lagipula pula deposito kalian terlalu sedikit.” Begitu jawab manager yang tiba-tiba berkata-kata dengan kalimat singkat. Rupanya ia sudah memeriksa kondisi kredibilitas dan akun bank mereka, dan terjawab sudah mengapa sejak awal manager merasakan ada keanehan dari diri 2 lelaki ini, yang hanya berusia 20 an, dan bukan berupa pasangan, tetapi ingin menyewa apartemen berkamar satu di jalan no. 25 yang sepi tapi mahal. “Apakah kalian ada orang yang bisa menjadi penjamin? Atasan? Atau orang tua?” “Orang tua kami sudah meninggal” jawab Willem dengan cepat. Manager dengan putus asa mengatakan “Kalau begitu saya sarankan kalian menurunkan persyaratan saja, dengan kondisi keuangan seperti ini, apartemen yang bagus tidak mungkin akan disewakan kepada kalian.” Manager kemudian berdiri dan dengan pandangan mata tegas melihat ke arah pintu.
Willem dan dan Jude ketika menceritakan hal ini kepada Malcolm, diubah menjadi cerita lelucon : “Lantai apartemen itu penuh dengan kotoran tikus, dan lelaki di seberang rumah berpakai sedikit sekali, sampai hampir terlihat bagian tubuhnya yang terlarang, dan juga manager apartemen tidak senang karena naksir Willem tapi tidak digubris Willem.” “ Jadi kesimpulannya, siapa yang mau tinggal di apartemen jalan no.25 seperti itu.” Begitu tanya JB. Mereka sedang berada di sebuah restoran Vietnam di Chinatown, ini adalah tempat mereka berempat berkumpul makan malam sebulan dua kali. Restoran Vietnam itu tidak begitu nyaman, karena Pho nya terlalu manis, jus lemonnya seperti bau sabun, dan setiap usai makan di sana, salah satu diantara mereka berempat pasti ada seorang yang sakit, tetapi mereka tetap berlangganan berkumpul di sana. Mungkin karena sudah terbiasa atau terpaksa. Karena tarif menu di restoran vietnam itu murah sekali, dan porsinya besar, maka setengah porsi yang tidak habis dimakan bisa mereka bawa pulang untuk dimakan keesokan harinya, jadi irit sekali kalau makan di sana. Hanya saja Malcolm tidak pernah menghabiskan makanannya dan juga tidak pernah dibungkus sisanya, setiap ia sudah merasa kenyang, ia akan meletakkan piringnya yang sisa separuh ke tengah meja, dan dihabiskan oleh Willem dan JB yang selalu merasa kelaparan.
Dengan sabar Willem menjelaskan “Kami tentu tidak mau tinggal di area persimpangan jalan no. 25.” “Tapi JB, kami sebenarnya juga tidak ada jalan lain lagi. Jangan lupa ya, kami kan tidak punya uang.” Malcolm menimpali “Aku heran, kenapa kalian tidak tinggal sana di tempat semula.” Saat ini ia meminggirkan jamur dan tahu ke sisi piring, walaupun menu ini selalu ia pesan setiap makan di sana, tahu dan jamur yang dimasak merah dengan saus pekat. Willem dan JB memelototi piring Malcolm, “Ya, tidak ada jalan lain sih.” Willem berkata “Kau lupa apa?” sebab selama 3 bulan ini ia sudah menjelaskan puluhan kali kepada Malcolm. “Kan pacar Meridith mau pindah masuk, jadi aku harus pindah keluar.” “Tapi kenapa kau yang harus pindah?” “Karena yang menandatangani surat kontrak sewa adalah Meridith!” jelas JB. “Oh” Malcom menjawab. Ia selalu lupa akan hal yang menurutnya tidak penting. Dan Malcolm juga tidak tersinggung ketika orang lain kesal atas kelupaannya. “Ohya,” sambil menyodorkan piring yang masih berisi jamur dan tahu ke tengah meja. “Tapi kau Jude” “Aku tidak mungkin selamanya tinggal di tempatmu Malcolm, ayah ibumu pasti akan mengusirku suatu saat.” “Orang tuaku menyukaimu.” “terima kasih atas kebaikanmu, tetapi kalau aku tidak cepat pindah, mereka akan menjadi tidak suka lagi padaku.” Malcolm adalah satu-satunya dari mereka berempat yang masih tinggal di rumah orang tua. Dan seperti yang sering dikatakan JB, kalau saja ia punya rumah seperti rumah orang tua Malcolm, ia juga pasti betah tinggal bersama orang tua. Sebenrnya rumah Malcolm tidak terlalu mewah, malah sudah tua, tidak begitu terawat, pernah suatu kali Willem hanya bersandar pada pagar tangga, tanganya tertusuk kayunya. Tetapi rumah itu besar sekali. Kakak perempuan Malcolm yang lebih tua 3 tahun darinya Flora baru saja pindah keluar dari ke lantai dasar rumahnya, itulah sebabnya Jude tinggal di rumah Malcolm, menjadi tempat tinggal sementaranya. Tapi suatu hari, orang tua Malcolm pasti akan menarik kembali basement tsb.
Begitulah cuplikan cerita buku yang diviralkan pembaca, berisi cerita keseharian dari 4 mahasiswa yang bersahabat, sampai mereka lulus dan terjun ke dunia masyarakat.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 