Bacabuku讀書會人生難免會有傷 Swapulih Untuk Diri yang terbaik
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.
Masih ingatkah dengan buku di jurnal Maria pekan lalu, berjudul The Mountain is you, dan itu adalah salah satu buku yang direkomendasikan teman. Katanya bagus dan cocok untuk diceritakan kepada pendengar saya. Rupanya, teman-teman saya juga sangat antusias dengan isi acara saya, dan kalau ada buku bagus, mereka akan segera teringat pada saya dan mengirim judulnya. Ya, sejauh ini belum ada yang mengirim buku untuk saya. Hm, tidak juga karena sudah ada satu teman, teman grup baca buku beberapa tahun lalu. Ia selesai membaca, bukunya dihadiahkan ke saya. Atau ia meminjam buku ke perpustakaan, agar rumahnya tidak sarat dengan buku.
Berbicara tentang buku, terutama koleksi buku-buku yang semakin menumpuk dari tahun ke tahun, sudah ada sebagian yang saya sumbangkan, tetapi masih tetap saja ada banyak di rak dan sampai ada yang bertumpukkan di lantai, karena tidak muat. Dan di rak virtual, koleksi buku di perpustakaan elektronik saya sudah ada seratus lebih. Bayangkan kalau tidak ada e-book, maka bagaimana rupa studio baca saya. Sekarang pun sudah berantakan sekali. Penuh dengan buku-buku, tetapi bagi saya yang duduk mengamati mereka, mendapatkan semacam ketenangan hati, buku-buku itu adalah teman karib yang begitu setia menemani saya membaca, menulis, melulis, bahkan menonton video. Bahkan berdoa pun mereka ikut nimbrung dalam kebisuannya.
Nah, buku apa hari ini untuk teman-teman? Judulnya Manusia sulit untuk tidak terluka hatinya, tetapi ada 6 kiat untuk mengantisipasi. Atau bisa saya buatkan judul Indonesianya yaitu : Swapulih Untuk Diri yang terbaik. Nama penulisnya Huang Shuwen. Diterbitkan 4 tahun yang lalu, jadi bukan buku baru lagi tetapi isinya sangat bermanfaat bagi kita dengarkan. Beberapa tahun belakangan ini, semakin banyak buku-buku yang berbau psikolog bermunculan, mungkin masyarakat dunia semakin membutuhkan pedoman yang bisa memenuhi kekurangan batin mereka. Buku ini mengatakan, dalam kehidupan kita tak luput dari luka baru dan lawas, dan semua ini patut kita sadari, kita terima, kita lepaskan dan kita mengobati diri kita agar pulih. Setelah itu kita menjadi sosok yang lebih kuat lagi. Jadi setiap orang yang jiwa nya penuh luka lama dan baru, asalkan menemukan kiat dan keberanian untuk menjajakinya, maka kehidupan kita menjadi lebih cemerlang.
Bagaimana dengan teman-teman? Kalau bagi saya, pasti ada luka lama dan luka baru, dikatakan, kalau kita sering kehilangan arah, dan mudah putus asa, maka kita akan menjadi terpuruk. Karena luka-luka lama dan baru ini jika ditumpuk maka akan berdampak bagi jiwa kita, dan bahkan akan menyerempet orang-orang yang berada di sekitar yang kita cintai. Maka bagaimana caranya memutar balikkan fakta dari penderita menjadi orang yang mendapatkan berkah? Bagaimana kita swa healing untuk membentuk kepribadian baru? Maka mari kita melangkah maju melakukannya bersama-sama.
Cerita penulisnya juga sangat menarik, ia pada usia 20 tahun sudah mulai sering galau, kalut dan kedua faktor ini sering melandanya. Sehingga di masa kuliahnya ia harus berkonsultasi rutin ke seksi pembimbing yang disediakan sekolah, Huang Shuwen sang penulis kemudian menyadari bahwa kegalauan yang sering melandanya itu adalah ungkapan dari suara hatinya sendiri, hingga usia 35 tahun, ia mulai melepaskan belenggu berupa harapan orang lain atas dirinya, ia mulai mengejar impiannya, barulah rasa galau dan kalut menghilang dari kehidupannya. Begitu pula dengan penyakit kulit seperti alergi yang sudah diidapnya selama 30 tahun, juga menghilang karena ia mulai menggali keluar kasus yang membuatnya trauma di masa kecil, dan ia mengobati jiwanya dengan cara yang ditemukan sendiri. Jadi buku ini adalah rangkuman intisari pengalamannyaa dalam mengantisipasi trauma di masa lalu dan berhasil keluar menjadi sosok yang lebih kuat.
Huang sang penulis merasa yakin apabila kita sudah menghealing diri kita sendiri dan berhasil, maka kita baru bisa mencintai orang lain dengan sepenuhnya.
salah satu bab dalam bukunya, menuliskan tentang pengalamannya mengatasi trauma yang dialami sejak kecil. Ketika itu, ia dipekerjakan sebagai buruh kanak-kanak di sebuah pabrik setiap akhir pekan, ada suatu kali, ia terkena debu dalam pabrik, debu menempel di tubuh kecilnya yang panas karena pabrik pengab sekali, dan ia pun merasa gatal-gatal sekujur tubuhnya dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit oleh ayahnya. Ketika berobat, entah dokter yang menanganinya itu kemasukan apa, dokter menertawakannya, mencibir penulis yang masa itu masih anak gadis kecil, Huang merasa terluka hatinya dan merasa terhina oleh sikap dokter yang tidak menghargainya. Tetapi ayah yang diharapkan bisa memprotes sikap dokter ternyata hanya terfokus pada kondisi Huang, sama sekali tidak terusik oleh sikap dokter yang meremehkan pasien. Luka di hati tidak pernah diutarakan kepada siapapun dan sejak saat itu, ia menderita penyakit alergi pada kulit, sering gatal-gatal sekujur tubuh, garukan telah membuat kulit tubuhnya berdarah dan menjadi bekas. Ia sering menutupi bekas luka garukan dengan baju. Selama 30 tahun alergi kulit gatal setengah mati tidak ada yang bisa mengobati. Sampai suatu hari, Huang dalam suatu kesempatan belajar untuk mengantisipasi trauma di masa lalunya. Dengan melukis menggambar, dan berimajinasi kembali ke masa lalu, dan menyapa anak gadis kecil yaitu dirinya sendiri 30 tahun lalu. Memberikan uluran tangan sebagai perhatian. Ia menyadari, ia bukan kembali ke masa lalu untuk membalas dendam, melainkan untuk membetulkan sesuatu yang salah. Ia berimajinasi, ada sebuah sinar yang menyapu anak gadis kecil dirinya sendiri, dan berjanji kepadanya akan mensyukurinya membuatnya bisa bangkit kembali menjadi anak gadis kecil yang berkulit bersih, hati penuh riang gembira, seketika sinar menimpa kulit anak gadis kecil dan hilang semua bekas luka, bagaikan trauma masa kecil tiba-tiba kena hapus dalam sekejap. Huang berdoa dan ia merasa tidak lagi membenci orang tuanya, ia tidak lagi mendendam karena dipekerjakan di pabrik, dan mengakibatkan ia sakit kulit. Kepulihan gadis kecil, membuatnya tersadar bahwa ia harus berterima kasih. Karena dari trauma masa kecil ia diberi hikmah untuk mencintai orang lain. Untuk pertama kalinya, Huang sang penulis ingin mengucapkan syukur kepada orang tuanya, healing dengan berimajinasi kembali ke masa lalu, berkawan dengan diri sendiri yang masih kecil. Memperbaiki trauma. Ia mulai merasa sangat percaya diri kembali, ia telah belajar dari pengalaman ini apa itu cinta. Dan ia menyadari tenaga dari healing itu sendiri sebenarnya datang dari diri kita sendiri. Memang secara permukaan, Huang telah terlepas dari trauma 30 tahun lalu. Penyakit kulit akibat trauma masa lalu adalah mengajarkan penulis untuk mencintai dirinya sendiri.
Buku ini selain memberitahu kepada pembaca, melalui gambar lukisannya bercerita akan pengalamannya. Juga telah membenahi beberapa kiat untuk mengantisipasi traumanya. Ada enam :
Ketika menghadapi pukulan atau ketidaknyamanan, berhentilah dan mencoba merenung.
Belajar menerima, kembali ke masa lalu ketika kita sedang bersedih, mengakui perasaan di saat itu, dan menerima bentuk asli dari kita sendiri.
Belajar melepaskan, kita keluarkan emosi yang kita pendam
Belajar menghapus, mengatur kembali konsep tentang kehidupan
Karena mengantisipasi trauma adalah tanggung jawab kita sendiri. Hendak kita memberikan dorongan dan instrospeksi terhadap diri sendiri. Kita belajar untuk menggambar momen saat itu, lalu kita hapus, mencoretnya.... merobeknya. Kita mencintai diri kita sendiri, dengan cara yang berbeda dari masa lalu, kita menyambut kehidupan ini. Kalau tidak bisa kita hapus, maka bagian itu untuk sementara kita simpan saja. Belajar memaafkan, bertobat, membersihkan batin kita dan melepaskan diri dari kungkungan emosi. Dan percaya bahwa semuanya akan ada solusi terbaik.
Berpikiran positif dan memulai hidup dengan skenario baru. Dan sewaktu-waktu kita mencatat untuk mengingatkan diri sendiri. Kita belajar bertanya kepada diri sendiri, melalui menggambar, mengamati dan meditasi, kita menunggu jawabannya. Berimajinasi kita akan segera menjadi baik, sinar imajinasi dan kata-kata positif dan kita yang sehat jiwa dan raga, menjadi sebuah motor mendorong perubahan dalam diri kita.
Buku ini sangat cocok untuk orang yang sudah siap menghealing dirinya sendiri. Untuk menjadi lebih baik. Semoga teman-teman menjadi lebih baik dengan bertemu dengan saya setiap pekan di acara ini. Salam sehat selalu
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 