History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Jurnal Maria 週記The Mountain is you你就是困住自己的那座山

  • 12 August, 2024
Jurnal Maria
The Mountain is You

Bacabuku讀書會 你就是困住自己的那座山

Manusia itu unik sekali bukan? Pernahkah teman-teman merasa lucu melihat diri sendiri yang kadang mempunyai hobi aneh, atau tiba-tiba menyukai sesuatu yang lain dari biasanya, demikian pula selera baca buku, kadang bisa condong ke suatu tema, atau teman yang menyukai tema itu dulu, kemudian kita sendiri juga ikut tertarik. Jadi seperti kita bareng-bareng shopping di mall, kadang membeli baju kembar. Nah... penyebab saya membaca buku hari ini juga sama alasannya yaitu karena judulnya yang unik.

Bacabuku讀書會 你就是困住自己的那座山

Judul buku menarik bukan? The Mountain is you. Kau sendiri adalah gunung yang menghalang-halangi dirimu. Bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri ternyata yang menjadi penghalangnya.

Terkadang kita memang perlu membaca buku-buku sejenis ini, seperti istilah keren sekarang untuk healing jiwa kita. Dan otomatis raga akan menjadi segar kembali nantinya.

Buku berjudul The Mountain is you ditulis oleh Brianna Wiest, pengarang tulisan yang dibagikan di internet, ia memuat artikel bagaimana caranya healing dan mendapatkan pencerahan dari terapi ini di situs pribadinya. Buku ini sekarang sudah diterjemahkan ke 14 macam bahasa. Di buku ini penulis bertanya kepada pembaca:

Apa atau siapa yang membuat kamu begitu menderita?

Kata penulis, rasa takut tidak akan melindungi kita, berani bertindak yang akan menolong kita keluar dari rasa takut itu. Bagitu pula rasa galau hanya bisa diantisipasi dengan persiapan, terlalu banyak pertimbangan tidak akan menolong kita, justru penjajakan yang jelas baru bisa. Yang patut kau taklukkan bukan gunung yang jauh itu, melainkan dirimu sendiri. Keyakinanmu akan gaya hidup seperti apa yang ingin kau lalui, maka kau pasti akan membuat hidupnya menjadi seperti itu. Cara yang terbaik untuk mencintai diri sendiri adalah berhenti menerima kehidupan yang tidak memuaskan ini. Dan kalau sudah bisa melakukannya maka kau akan bisa menjawab pertanyaan di atas dengan cepat dan tegas yaitu di mana duduk masalahnya.

Buku ini mengatakan, kita sering menolak uluran perhatian orang lain, tetapi sebenarnya kau sangat berharap orang lain mencintai kita dan menerima kita. Seperti halnya, kita sebenarnya tidak mau mengasup makanan yang tidak sehat, tetapi malah setiap hari kita makan makanan yang memburukkan kesehatan. Sering rasa haus akan perhatian, dicukupi dengan kepuasan makan makanan yang tidak sehat. Begitu pula, bekerja berlebihan, sebenarnya kamu tidak butuh pengakuan dari cara ini. Kita pun sering menghamburkan uang beli ini dan itu, padahal kita tahu suka berbelanja tidaklah membuat kita lebih percaya diri. Seperti halnya kau masih terbenam dalam hubungan cinta yang sudah putus, kau terus memonitor keadaan mantan, karena putusnya hubungan ini menciptakan dampak yang sangat buruk bagimu, jauh lebih dahsyat dari yang kau bisa akui.


  Brianna sang penulis dalam buku ini ingin mendorong pembaca untuk mendaki gunung yang bernama diri kita sendiri. Ketika kita mengalami kendala dalam mencapai target kehidupan yang kita inginkan, maka tanpa sadar kita selalu berada dalam keadaan self destruktif. Menghancurkan diri sendiri tiada henti. Maka kita perlu mengalami sebuah proses penggalian ke dalam lubuk sanubari secara mendalam, untuk mencari gunung yang mengungkung kita itu, mungkin kita sudah tahu, apa semua itu yang menjadi pengungkung, mungkin itu adalah sifat ketagihan, berat badan, hubungan relasi, masalah uang atau boleh jadi urusan kurang percaya diri, minder, rasa takut, atau rasa tidak senang yang merembes secara perlahan dalam rutinitas hidup sehari-hari.

Kita mempelajari cara mengamati diri sendiri melalui kebiasaan yang paling berdampak self destruktif, untuk mengenal otak dan tubuh kita sendiri, guna mengembangkan kecerdasan emosional kita sendiri. Memanfaatkan tingkat kesadaran yang kita punyai untuk melepaskan dampak negatif akumulasi dari masa lalu, dan sekaligus mempelajari bagaimana menjadi sosok kita yang baru untuk hari kedepannya di mana kita berpotensi untuk membuka jalan baru yang cemerlang. Dan suatu saat nanti, gunung yang sempat menjadi penghadang di depan kita itu, akan terlempar jauh ke belakang kita, begitu jauh sampai tidak kelihatan mata kita lagi. Tetapi dalam proses mempelajari bagaimana mendaki gunung tersebut, kita akan menjadi sosok baru dan ini akan menyertai kita selamanya. Karena gunung yang menghadang dalam perjalanan hidup kita itu sebenarnya adalah hadiah dan bukan kendala.

Kedengarannya begitu mendalam dan kurang bisa dimengerti, sebenarnya apa kelebihan dari buku ini ?

Mengusir hal-hal yang tidak perlu agar kita mendapatkan sebuah jalan lancar yang terang di masa depan. Dan caranya bisa kita mulai dengan :

Membuat rencana, karena rancangan rencana yang kita buat bisa mengantisipasi masalah.

Kita mempertahankan sikap rendah diri, karena dunia ini bukan berputar mengitari kita saja.

Mencari bantuan, karena memang pada hakekatnya kita tidak semestinya tahu segala.

Kita menyadari bahwa kita tidak tahu hal itu, maka hentikan segera prasangka yang kita rekayasa.

Hentikan segera harapan bisa meramal masa depan, karena ini adalah hal yang absurd. Belajar bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita, semuanya.

Belajar mengatasi emosi yang kompleks, agar kita menjadi lebih baik.

Lupakan apa yang telah terjadi, fokus pada bagaimana caranya memperbaikinya.

Utarakan masalah kita, karena kalau terus kita simpan dalam otak kita, akan bertambah runyam.

Jangan tergesa-gesa, karena kita tidak perlu sekarang juga menyelesaikan semua masalah.

Kita menganggap emosi yang keluar adalah sebuah sinyal, karena luka dalam hati kita perlu perhatian.

Kita belajar menghormati ketidaknyaman hati, sebab itu berarti ia sedang mengabari kita.
   

Bab pertama buku ini berjudul Kau Adalah Gunung Itu.

Orang yang menciptakan kendala terbesar dalam kehidupan kita, sebenarnya bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri.

Kalau Anda sekarang dalam kondisi yang masih jauh dari keadaan yang Anda inginkan, dan ini berlangsung terus, dan Anda masih terus berupaya memperpendek jarak ini, tetapi selalu saja mendapatkan kontradiksi dari dalam diri, mengakibatkan Anda sangat terpukul, maka itu menandakan Anda setiap saat melakukan self destruktif.

Secara literasi, self destruktif frasa ini sering memberikan konotasi dianiaya. Mengibaratkan seperti hasil dari membenci diri, kurang percaya diri atau tidak ada semangat. Tetapi kenyataannya, self destruktif ini hanyalah sebuah penampakan dari kebutuhan tanpa sadar, kebutuhan seperti ini terpenuhi oleh perilaku self destruktif.

Kalau ingin mengatasinya, kita harus mengalami suatu proses penggalian ke dalam dasar hati. Kita harus menemukan kasus yang menyebabkan trauma, mengeluarkan emosi yang belum teratasi, dan sekaligus mencari sebuah cara yang lebih sehat untuk memenuhi kebutuhan kita, dan membangun citra baru kita, dan meningkatkan EQ kita dan berbagai kemampuan lainnya dan juga membangun beberapa prinsip baru. Tugas ini cukup sulit, tetapi merupakan sebuah PR wajib dalam perjalanan hidup setiap orang.

Penyiar

Komentar