Mata yang berharga 寶貴的眼睛
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.
Selamat sepekan, apa aja yang terjadi pada diri saya? Mungkin sebagian pendengar ingin tahu, seperti halnya saya sendiri, terkadang ingin sekali mengunjungi teman-teman, mengobrol, menyapa, terutama pendengar lama yang mendengar sejak ia di SMP hingga sekarang. Dan ada yang sudah tidak mendengarkan radio, tetapi menemukan saya di media sosial, bahkan mengkonfirmasi dengan bertanya Apakah ini Maria Sukamto dari RTI? Sungguh senang mendapatkan pesan seperti ini. Senang karena belum dilupakan, dan bahagia karena kita semua masih bertahan di bumi ini setelah mengalami begitu banyak hujan dan badai.
Namun sedih sekali jika ada berita duka, seperti Aloysius HM yang baru saja menghadap kepada Tuhan yang maha Kuasa. Beliau adalah seorang pendengar yang sangat lugu, setia. Meskipun tidak aktif di media sosial tetapi beliau berkomunikasi dengan surat. Menceritakan kehidupannya. Terima kasih kepada bapak Alyosius HM telah sempat menjadi pendengar kami, dan semoga sudah tenang dan damai di sisi Tuhan Allah.
Baiklah sekarang mari kita mendengarkan cerita dari sang penulis kita, ya siapa lagi kalau bukan saudara Rudy Hartono yang sudah semakin banyak predikatnya. Senang sekali mendapatkan emailnya yang mengartikan Rudy aktif lagi bercerita.... nah ada apa dengan Rudy belakangan ini. Yuk mari kita simak.
Surel Rudy kali ini berjudul MINUS 225
Hallo Kak Maria, apa kabar ? Semoga sehat selalu jiwa dan raya ya…
Lama sekali tidak menulis padahal banyak sekali yang akan diutarakan hehe.
Kali ini saya kirim dulu tulisan berjudul Minus 225, pasti pendengar akan penasaran kok tulisan bisa
berjudul Minus 225 ? Namanya juga ide yah ditulis aja sesantainya, sehepinya dan seikhlasnya haha.
Di usia 52 tahun adalah memasuki batas usia menuju penuaan karena usia pensiun rata-rata di
pekerjaan adalah 56 tahun. Walau di profesi tertentu akan pensiun di usia tertentu juga bisa sampai
70 tahun. Bahkan di Perusahaan tertentu juga mematok untuk profesi Sopir dan Satpam di usia 50
tahun, masih muda juga ya. Namanya aturan manusia yang buat ya mungkin dilihat dari
produktivitas kerja.
Lalu, apa hubungan dengan judul Minus 225 ya ?
Ya, di usiaku ini aku diberi kacamata minus 225. Tetapi ukuran itu terkendala di mataku,
penglihatanku menjadi dua. Untuk menulis cerita ini saja harus menggunakan mata satu alias
matanya jaja miharja di kuisnya “Apaaan tuh” mata satunya ditutup haha.
Menggunakan kacamata telah kulakoni sejak usia 40 tahun, saat itu aku membaca koran setiap pagi
yang tiba-tiba penglihatanku kabur. Pakai jurus simple saja pergi ke dokter mata dan minta
kacamata, karena keseharianku di depan computer ditambah lagi saat ini rutin melihat gadget.
Komplit deh! Zaman dulu computer diberi kaca antiradiasi, begitu pula si pemakai disediakan
kacamata anti radiasi juga. Namun kini sudah tidak ada lagi.
Di usia 40 tahun telah dimulai menggunakan kacamata minus 50, terus meningkat di posisi terakhir
di minus 175. Nah, di posisi minus 225 ini mata tak menerima kacamata itu dengan normal akhirnya
untuk bekerja terutama menulis atau bekerja di computer supaya focus menggunakan mata satu.
Begitu pula membalas whatsapp atau menonton youtube dan bermedia sosial dengan mata satu.
Sehingga mata mudah Lelah karena berat ke mata kanan yang digunakan.
Akhirnya kerjaku tidak focus dan tidak maksimal. Begitu juga bermedia sosial tidak maksimal.
Lalu, apa yang harus kulakukan ?
Ikhtiar. Lucunya aku telah pergi ke empat dokter mata untuk meyakinkan penglihatanku ini benar-
benar tidak normal haha. Setelah mata dicek kemudian diberi ukuran minus dan pergi ke optic mata.
Awalnya kupikir mata lagi menyesuaikan eh ternyata pandangan kembar atau menjadi dua tetap
terjadi. Aku pergi lagi ke dokter mata yang lain dicek dan ukuran minus berbeda sedikit tapi tetap
saja pandanganku tak focus. Kacamata diganti lagi untuk kedua kalinya.
Pertanyaan dokter cukup dua. Apakah aku menderita hipertensi kolesterol atau kencing manis gula
darah tinggi ? kujawab aku memiliki hipertensi atau kolesterol tinggi. Maka oleh dokter mata
disarankan untuk mengobati dulu hipertensi atau menurunkan kolesterol.
Wah ternyata penyakit di usia tua bertambah hehe.
Sekarang ikhtiar menurunkan kolesterol dengan berbagai cara. Minum obat dokter rutin. Dibarengi
dengan herbal. Ada yang cuka apel campur madu diminum dengan air hangat. Ada nenas. Ada jus
timun. Dan terpenting jaga pola makan, walaupun di hutan rada sulit yah aha.
Setelah ikhtiar, ya berdoa. Anggap ini adalah ujian dari Tuhan atas dosa-dosa masa lalu. Atas pola
hidup yang tak sehat, dan sebagainya. Diberi ujian penyakit harus lebih dekat lagi dengan Sang
Pencipta. Menganggap ujian ini tak sebanding dengan nikmat yang telah diberikan Tuhan.
Itu dulu kak Maria cerita untuk Jurnal Maria, acara favorit pendengar se Indonesia Raya.
Bagi pendengar yang masih sehat matanya agar sering cek Kesehatan mata, kata dokter setiap tahun
harus dicek menghindari penyakit mata seperti katarak, rabun, infeksi mata dan lain-lain.
Mari jaga diri sebelum sakit itu datang. Salam sehat.
Rudy Hartono
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 