History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Jurnal Maria - 2024-07-15 Bacabuku讀書會把孩子種回來

  • 15 July, 2024
Jurnal Maria
杜守正著:把孩子種回來

2024-07-15

Bacabuku讀書會把孩子種回來

Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.

 

Mari baca buku lagi, hari ini judul bukunya juga menarik, belakangan ini saya suka tertarik pada judul yang wah. Seperti judul buku lalu Suami kenapa tidak mati-mati sih. Dan kali ini judul bukunya “Saya menanam kembali anak-anak” sebenarnya maksudnya adalah Saya mencurahkan perhatian berupa pendidikan kepada anak-anak. Jadi seperti kita menanam sebuah benih, karena benih itu akan bertumbuh berkat ketelatenan kita menjaganya agar tumbuh besar.

 

Buku ini ditulis oleh杜守正 Du Shou Jeng yang baru saja terbit pada 1 July 2024. Buku dengan judul unik itu adalah buku yang dipersembahkan untuk para remaja, untuk untuk semua orang, penulis menjadi guru bagi setiap orang, setiap anak dan juga kepada dirinya sendiri. Sebenarnya lika liku penulis juga sebuah cerita, sebuah film berjudul《魯冰花》Lu Bing Hua Bunga Lupinus atau Turmus, cerita film ini memberikan inspirasi kepada penulis, membuatnya membulatkan tekad untuk berkiprah dalam medan pendidikan, mengabdikan diri untuk anak-anak di daerah terpencil, daerah pedesaan yang sangat kurang akan materi pendidikan.

 

Penulis menjadi guru SD Shuiyuan水源國小 di kaki gunung 淡水大屯山Taduen Tamsui, anak-anak didiknya bagai benih yang unik bertumbuh sesuai dengan sifat dasar masing-masing. Mereka bertumbuh menjadi sosok yang menjadi ikon yang tak tertandingi, karena mereka adalah terbaik dan tidak ada duanya di atas dunia ini. Apa yang dikerjakan penulis, ia bersama-sama muridnya menggambar, bernyanyi, bersajak tentang kehidupan. Sebab penulis menyadari kita harus memulai dari menghayati alam, hubungan relasi dengan manusia, merasakan budaya dan semua penghayatan ini dituangkan ke dalam sanubari yang tergugah. Dan ini akan menjadi sumber nutrisi kehidupan seseorang dalam sepanjang hidupnya, dengan bekal seperti ini ia mengajak para muridnya mencari kembali identitas yang tersembunyi dalam hati masing-masing. Setiap orang setiap murid bertumbuh sesuatu dengan sifat asalnya. dan ini adalah seperti dogma. Dogma hati.

 

Mengapa menulis buku ini?

Mari kita santai sejenak mendengarkan sebuah lagu dari film yang menginspirasi penulis The Dull-ice flower 《魯冰花》演唱:原唱: 曾淑勤 作詞:姚謙 作曲:陳陽 編曲:陳揚

 

Dalam kesempatan menonton film gratis di kampus yang diputar setiap sabtu sore, penulis Tu Shou Jeng yang kuliah di Univ. Chengkung pada 1987, memanfaatkan hiburan dari sekolah. Asal menunjukkan kartu mahasiswa, semua bisa menonton gratis. Dan ia tergugah oleh film Bunga Lupinus ketika ia di tingkat 3, ia tergugah dan bertekad untuk mengajar di daerah pendesaan terpencil.


 isi cerita film Lupinus《魯冰花》yang ditontonnya itu melukiskan seorang guru perempuan bernama 郭雲天Kuo Yun Dien menjadi guru kontrak mengajarkan kesenian, guru ini dari kota besar mengajar sebagai guru kontrak di SD daerah terpencil. Pemeran utama yaitu, Murid 古阿明GU A Ming dari keluarga petani teh yang miskin, ia bertalenta dalam menggambar, guru Kuo menyadari bakatnya ini, murid yang suka menciptakan keonaran di kelas, dan selalu meraih prestasi yang paling belakang, tetapi sangat peka terhadap warna dan benda-benda di sekeliling, ia pandai berimajinasi.
  

guru Kuo ditugaskan mengajar ketrampilan seni, khusus membentuk kader berbakat seni untuk berlomba dengan sekolah lagi. Ibu guru Kuo merasa Ku A Ming adalah seorang murid berbakat, maka ia menggemblengnya, tapi upayanya ini mendapatkan boikot dari guru-guru lainya, sehingga Ku A Ming tidak bisa mewakili sekolah bertanding dengan sekolah lain, melainkan anak kepala desa yang tidak berbakat seni diajukan untuk mewakili sekolah bertanding dengan sekolah lain. Ibu guru Kuo sangat marah dan meninggalkan SD tsb. sebelum meninggalkan desa perkebunan teh, ibu guru Kuo mengunjungi rumah Gu A Ming berpamitan. Dan membawa pulang sebuah lukisannya berjudul Ulat Tehh sebagai kenang-kenangan. Ibu guru mengirim karya Ku A Ming berjudul Ulat Teh ini untuk berkompetisi dengan anak-anak sedunia, dan terpilih sebagai pemenang medali emas dalam lomba melukis kategori anak-anak sedunia. Ibu guru Kuo dengan hati senang membawa piagam penghargaan ini ke desa Ku A Ming. Tetapi sangat disayangkan, Ku A Ming telah meninggal dunia akibat kekurangan gizi terlalu lama sehingga terjadi komplikasi peradangan hati. 

 

 Penulis masih teringat waktu itu Sabtu sore, ia menonton film Bunga Lupinus bersama seorang teman grup harmonika, penulis menonton sambil menangis sedih, air mata berlinangan, ia takut kepergok orang lain kalau ia sedang menangis, tapi ternyata orang yang duduk di pinggirnya juga menangis. Usai menonton film sedih ini, ia disongsong oleh udara cerah dengan sinar mentari senja yang indah, suasana kampus seperti biasanya, tetapi ada sesuatu yang lain dalam dirinya, ia seperti kena setrum saja, dengan diam-diam ia berjalan melintasi kampus.
 pada malam itu juga, penulis menonton lagi film yang sama, ia sengaja duduk di deretan terbelakang. Ia menikmati kembali cerita film, ia sangat terharu dan dalam hatinya timbul sebuah cita-cita yaitu mengajar di SD tempat-tempat terpencil.

 ia masih teringat pada adegan film, pemeran utara Ku A Ming usai sekolah, mengantar lukisan bertema Ibu kepada guru Kuo. Ketika ia masuk ke dalam kelas, guru Kuo sedang termenung menatapi karya para murid yang dipajang di papan tulis, Ku A Ming berkata: “Guru, lukisan Ibu sudah selesai, ia sebenarnya sangat cantik, tetapi saya sudah lupa akan wajahnya!” ibu Ku A Ming sudah lama meninggal dunia, tentu saja ia lupa akan wajah ibunya. Saat itu guru Kuo sedang merokok, tidak berkata apapun, hanya memandangi lukisan Ku A Ming lainnya yang berjudul Ulat Teh dan karya murid lainnya.
  

Ku A Ming sambil mengemasi tas sekolah berkata dengan perlahan “Pak Guru, saya tidak terpilih bukan?” Guru Kuo tetap membisu, memunggunginya, tanpa menoleh sedikit pun, melanjutkan isapan rokoknya. Selang beberapa saat, Ku A Ming berkata lagi “Tak mengapa kok! Tahun lalu juga begitu hasilnya!” lalu ia mengangkat tas sekolahnya beranjak keluar kelas, saat itu langit sudah mulai gelap, hanya tinggal pak guru Kuo yang tetap membisu menatapi lukisannya.
  ketika Ku A Ming hampir melangkah keluar kelas, ia berhenti dan menoleh ke arah guru “Pak Guru, jadi anak orang kaya enak sekali ya, apapun mereka lebih pintar!” penulis mendengar kalimat ini merasa sangat sedih, ia selain menangis juga timbul gelora semangat mudanya untuk mewujudkan suatu angan-angan. Itulah gambaran yang membuat saya bertekad untuk menjadi guru di SD daerah pegunungan terpencil. Mengapa saya mengajar di SD, hanya melulu karena tergugah.
  

Penulis belajar ilmu Managemen Teknik Industri, ini dalah bidang yang bermasa depan cemerlang kalau lulus terjun ke masyarakat. Maka banyak teman kelasnya sudah sukses kariernya bahkan sebelum lulus pun mereka sudah mulai cuan uang banyak dari pasar bursa sham. 


  Meskipun banyak suara yang tidak mendukungnya, tetapi penulis mendapatkan sebuah kesimpulan yaitu setiap orang itu berbeda-beda, maka apa yang didambakan orang lain, belum tentu adalah yang kau inginkan. Tetapi masalahnya, apa yang kau inginkan? Justru karena itulah, penulis menjadi guru SD di sebuah SD di bawah kaki gunung di daerah Tamsui.

Penyiar

Komentar