2024-05-27
讀書會老公怎麼還不去死
BacaBuku Mengharapkan suami lenyap dari muka bumi
Hari ini saya akan memperkenalkan buku berjudul 老公怎麼還不去死:家事育兒全放棄還要人服侍?!來自絕望妻子們的深層怒吼
Judul bukunya panjang, artinya Mengapa suamimu belum mati? Atau Mengharapkan suami segera lenyap dari muka bumi. Judul bisa berubah pewujudkan secara literasi sesuai dengan kebiasaan masyarakat dalam menyampaikan sesuatu dengan kalimat yang sesuai. Seperti judul terjemahan dalam bahasa mandarin di Taiwan ini sangat cocok karena itu adalah kalimat gaul yang mungkin sering diucapkan oleh banyak orang. Kalau artinya adalah kok ngga mati-mati sih? Tetapi sebetulnya itu mengartikan suatu kekesalan hati terhadap suami, dan mengumpatnya dengan kata mati tsb. kalau bagi orang Taiwan, itu lumrah karena tahu itu umpatan kekesalan hati. Seperti umpatan 去死吧! pergi mati sana.
Siapa pengarang buku ini ? Ia adalah 小林美希(Kobayashi‧Miki)wanita Jepang yang dilahirkan di Prefektur Ibaraki pada tahun 1975. Ia lulusan dari fakultas hukum Univ. Kobe. Dan pernah menjabat sebagai wartawan asahi Shimbun dan kemudian menjadi wartawan lepas yang menulis tema-teman tentang pekerjaan kaum kawula muda, dunia perkawinan, kehidupan rumah tangga melahirkan anak dan memelihara anak sampai masalah pekerjaan kaum wanita jepang. Ia telah banyak menerbitkan buku-buku yang condong pada masalah sosial. Buku ini juga berupa cerita hasil wawancaranya terhadap para perempuan Jepang yang berstatus ibu rumah tangga.
Komentar pembaca Taiwan: Meskipun ini adalah buku yang melukiskan situasi rumah tangga orang Jepang, tetapi sangat cocok sebagai buku bacaan kaum pria dan wanita di seluruh dunia. Apalagi sebagai suami, janganlah merasa dirinya sudah berbuat yang terbaik untuk rumah tangganya, kadang suami menyombongkan diri dengan berkata “Saya sudah banyak membantu melakukan pekerjaan rumah kan! Kok bisa menjadi begini?” ini semua hanya imajinasi sendiri. Dengan membaca buku ini, baru menyadari dari tuturan penulis yang mewawancarai banyak ibu rumah tangga ternyata banyak hal yang disembunyikan oleh para istri dalam sudut hatinya, dan menjadi akumulasi ketidaksenangan para istri yang akhirnya bersemi merambat menjadi kekesalan yang mengumpat suami untuk segera lenyap saja dari muka bumi. Sebenarnya ini tidak hanya terbatas pada jepang saja, karena setiap negara dengan latar belakang budaya dan sejarah yang bagaimana pun akan sama menghadapi hal hal tetek bengek dalam rumah tangga, dan harus saling bekerjasama dalam menggalang keharmonisan rumah tangga. Dan harus saling menghormati, saling berkomunikasi, mengutarakan isi hati dan perasaan masing-masing agar hubungan ini bisa terus sampai akhir hayat. Dan bukan hanya sepihak yang menjadi penurut. Yang melaksanakan perintah saja. Dan tidak diberi kesempatan untuk hidup sebanding dan bukan hubungan yang tidak setara. Dan di zaman sekarang terutama, sudah agak susah menerapkan konsep istri harus mentaati perintah suami. Mengapa tidak saling menghormati mengapa harus sang istri yang menurut. Di mana hak asasi sebagai wanita. Nah ini menjadi isu yang hangat.
Judul buku sangat penting, kita membeli buku kadang tertarik dulu dengan judulnya. Kecuali Anda sedang mencari buku yang sudah Anda ketahui. Atau membeli buku karena ditulis oleh pengarang idola, jadi apapun yang diterbitkan selalu Anda beli. Nah.... judul buku yang saya perkenalkan kali ini membuat heboh para pembaca Taiwan. Ada yang begitu membaca judulnya langsung nyeletuk “Rumah tanggaku pasti ngga seperti itu, kok ada aja orang berpikiran begitu, mengapa tidak cerai saja daripada mengharapkan yang seperti itu.”
Kenyataannya, lebih banyak mengetahui cerita hidup orang lain, kita baru bisa berintrospeksi apakah kita juga mengalami kendala yang sama. Lebih baik sedia payung sebelum hujan, kalau menggalang rumah tangga dan dimulai dengan langkah yang baik maka akan menurunkan kemungkinan terjadinya kekesalan hati istri yang mengharapkan suaminya mati. Atau terhindari dari krisis bercerai. Meskipun latar belakang cerita kehidupan keluarga Jepang berbeda dengan kondisi keluarga di negara lain termasuk Taiwan, meliputi faktor hukum dan pelaksanaannya. Tetapi tidak akan terlepas dari pertimbangan yaitu saling menghormati, kedudukan suami dan istri itu setara, menggalang kesempatan komunikasi agar menurunkan kesalahfahaman bahkan menciptakan hal yang tidak bisa dimaafkan.
Buku ini dengan judul yang menakjubkan seperti ini juga menciptakan suatu fenomena lucu. Orang Taiwan terbilang suka membaca, dan meminjam buku dari perpustakaan. Dan menurut statistik ternyata buku dengan judul yang heboh ini ada 3000 antrian yang menantikan pinjaman buku. Tetapi sebuah perpustakaan di Univ. YangMing mengklaim bahwa buku tsb. di perpustakaannya tidak ada yang meminjam. Di laman FB nya malah dengan bangga mengatakan nol pinjaman mencerminkan bahwa warga universitasnya yaitu para staff, pegawai, para pengajar mempunyai rumah tangga harmonis sehingga tidak ada yang meminjam buku tsb. komentar yang membanggakan diri ini malah mendapatkan kecaman netizen.
Tampaknya buku yang diterbitkan pada tahun 2022 yang melukiskan keluhan isi hati seorang ibu rumah tangga Jepang yang komplain suaminya tidak mau membantu melakukan pekerjaan rumah tangga, ketika anak menangis, hanya mencari mama padahal mama sedang ribuk karena suami tidak peduli. Dan kalau sang suami membantu melakukan sedikit pekerjaan, sudah sangat berbangga dan merasa sangat berjasa karena telah membantu istri, sikap yang egois ini mengundang kebencian istri sampai mengharapkannya mati saja lebih baik.
Statistik antrean meminjam buku ini di berbagai perpustakaan di Taiwan seperti perpustakaan di Taiwan utara yang antre mencapai ribuan orang, sedangkan di perpustaan Taoyuan ada 160 orang, dan total jumlah orang yang antre meminjam buku ini tercatat 3500 lebih.
Kaum pria Taiwan menyatakan mereka tergelitik untuk membaca buku ini karena ingin mengetahui apa saja keluhan istri, apakah ada hal yang mereka abaikan tanpa sengaja, sedangkan kaum perempuan Taiwan yang ingin membacanya, dengan tertawa mengatakan judul buku ini lucu, sebab suami istri pasti ada masa suramnya, berselisih pendapat, yang penting bagaimana menggalangnya dalam jangka waktu panjang.
Admin perpustakaan Univ Yang Ming yang menyombongkan diri bahwa warga YangMing berbahagia karena tidak ada yang meminjuam buku tsb, malah mendapatkan kecaman netizen, dikritik admin kurang awas dan malah ada yang mempertanyakan belum baca buku ini bagaimana tahu kalau rumah tangganya sudah bahagia? Serangan bertubi-tubi mengakibatkan admin segera menghapus komentar sombongnya.
Sekilas pintas membaca judul buku ini, mungkin banyak kaum pria yang berpredikat suami, akan terkejut, dan pasti banyak yang menyangkal, dan merasa rumah tangganya pasti bukan seperti itu. Sama halnya mertua perempuan tidak pernah menyatakan dirinya adalah mertua yang cerewet atau menakutkan, dan juga tidak ada suami yang menyerahkan diri adalah suami yang gagal dan patut segera mati saja.tapi suatu fakta seperti wawancara penulis terhadap beberapa istri Jepang yang dari penampakan luar tidak terlihat bahwa mereka mengalami kendala rumah tangga yang gawat, tapi mereka mempunyai satu kesamaan yaitu rasa kesal sampai mengharapkan suami segera mati saja akan lebih baik.
Para suami ini di mata masyarakat tidak sampai menciptakan kesalahan yang perlu divonis mati, tetapi masalahnya adalah kesalahan mereka tidak termasuk dalam kategori jangkauan hukum, bahkan kadang malah sesuai dengan patokan moral. Kaum suami yang sampai diharapkan mati sebagian besar tidak sering berselingkuh, dan juga tidak ada KDRT, mereka bekerja menghidup rumah tangga, sehingga masyarakat Jepang terutama beranggapan, pria seperti ini bukankah adalah tipe pria baik? Kaum pria seperti ini berada dalam kebanyakan rumah tangga di Jepang, mereka malah kadang tanpa sengaja meremehkan derajat sang istri, suami menolak membantu pekerjaan RT, dan semua tugas menjaga anak dibebankan kepada istri. Pada saat kaum istri harus meninggalkan pekerjaan full-time nya agar bisa mengurusi rumah tangga, dan terpaksa mencari pekerjaan part-time yang rendah upahnya, agar ada waktu mengurusi rumah tangga, keadaan yang dialami sang istri tidak disadari oleh sang suami bahwa itu adalah akibat dari struktur sosial yang tidak adil, mereka tidak menyadari pengorbanan istri nya ini karena mencintai keluarga, malah sebaliknya sering mengejek sang istri dengan kalimat “Tunggu gajinya lebih besar dari gajiku dulu, baru aku akan membantu melakukan pekerjaan rumah tangga.” Omongan yang arogan dan merasa adalah guyonan suami, masuk ketelinga istri akan menciptakan sebuah kekesalan yang merasa suami yang mengeluarkan kata-kata seperti itu lebih baik mati saja, agar mereka tidak perlu dirundung dengan kata-kata tak bertanggung jawab. Dan malah ia akan hidup damai dengan uang warisan suami.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 