Ending Cerita Ketika Katak Puru Berkonsultasi 蛤蟆先生去看心理師
Hari ini kita baca buku lagi, mengakhiri katak puru yang tidak bahagia. Kalau Anda baru saja bergabung dalam Jurnal, Anda bisa mendengarkan cerita-cerita sebelumnya sejak tgl 1 Jan 2024 di situs RTISI atau podcast
Tak terasa cerita katak puru yang tidak bahagia kemudian berkonsultasi ke Cangak Abu sang psikolog menjadi sembuh.
Tikus sungai ingin merayakannya dengan mengadakan sebuah jamuan makan siang. “Kami terlalu sering membiarkan hal-hal penting berlalu begitu saja bersama perginya waktu, kita tidak merayakan atau memperingatinya, sering kita baru menyadari kepentingannya setelah urusan usai.”
Tikus sungai memilih waktu jamuan tepat dengan hari ramah tamah yang diselenggarakan panita grup Singa Merah. Pestanya berlangsung di sebuah Hotel bangunan kuno, ada sebuah teras di tengah bangunan, dan ada restoran yang didekorasi dengan kayu. Para pelayannya seperti sama tua dengan hotelnya, semua sudah kakek kakek berjenggot panjang, mengenakan apron putih yang panjang sampai menyentuh sepatu kulit hitam yang sudah retak retak karena dimakan waktu.
Tikus sungai belum masuk ke restoran sudah tahu apa menunya. Yaitu sup kental Windsor, ayam bakar Northfolk dengan sosis, kue boleh rasa anggur cherri. Irisan keju Cheddar kering, dan kopi. Tikus sungai sengaja datang agak pagi, untuk memastikan ruang khusus yang dipesannya apakah sudah siap. Ia sangat terkejut melihat ruangan yang dipesannya sangat indah, nama ruangnya Isis Room. Meja bertaplak kain putih dan tatanan piring dan garpu sendok yang cemerlang, gelas dan pinggan seperti permata berkilauan.
Ia melihat menu arak, tampaknya sudah dalam perkiraannya, ada banyak minuman keras yang bertarif terjangkau. Ia memesan beberapa botol arak anggur merah Bordeaux, lalu tikus sungaiberanjak ke meja bar menunggu kedatangan tamu tamu lainnya. Ia sendiri memesan segelas bir OBJ yang sangat disukainya. Judulnya juga snagat cocok dengan suasana hari ini yaitu Oh Be Joyful. Dengan rasa puas tikus tanah meminum bir dengan tegukan besar.
Orang kedua yang tiba adalah katak puru. Ia merasa sangat nyaman, riang gembira, ia berharap dengan sangat bertemu kembali dengan teman-temannya, ia hendak bercerita semuanya kepada mereka. Ia memarkirkan sepedanya di tiang dekat restoran, ia rapikan dasinya, dan berjalan melintasi koridor, tiba-tiba ia merasa kedua kakinya lemas. Ia tiba-tiba tersadar dimana ia berada, dan muncul hal-hal yang sebelumnya terjadi di tempat ini.
Ia teringat, ini kah club Singa merah, beberapa tahun lalu, setelah ia melarikan diri dari orang-orang yang menasihatinya untuk berubah, di tempat inilah ia menikmati santapan siang yang mewah, lalu..... (sungguh mengerikan! Ia sama sekali tidak berani mengingatnya kembali) ia mencuri sebuah mobil yang indah, lalu ia masuk penjara.
Beruntung sekali, tikus sungai muncul di depan pintu, dengan nada penuh kehangatan berkata “hai katak puru sahabatku, kenapa mimik wajahmu seperti melihat sehata. Kau adalah orang pertama yang tiba, ayo aku jamu kau dengan segelas bir.”
Katak puru barulah kembali tenang mendengar suara tikus tangah, ia mengikutinya memasuki bar. Seorang pelayan yang paling tua di sana mengamati katak puru dengan wajah serius, tetapi katak puru sekarang sudah berani menatap matanya dan menyerahkan mantel kepadanya.
Tikus sungai menanyakan katak puru mau minum apa? Bagaimana kalau segelas bir pahit?
Katak puru menjawab tidak donk, kau kan tahu aku selalu suka brandy campur air soda.
Alah... bohong, aku pernah melihatmu minum bir banyak kali.
Kapan hayo? Kata katak puru yang berlatih PD, sebuah pekerjaan rumah baru yang dipelajarinya.
Sebelum mereka berdua berdebat keras, tikus tanah bersama Luak tiba bersamaan. Karena mereka naik taksi bersama, seperti biasa, Luak meminta tikus tanah membayar uang taksi.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 