(Taiwan, ROC) --- Belum genap 2 bulan Presiden AS Donald Trump kembali ke Gedung Putih, api perang tarif kembali dinyalakan, memicu berbagai mitra dagang mengambil langkah balasan. Perang dagang 2.0 resmi dimulai.
Para akademisi menganalisis, kali ini Donald Trump tidak hanya berfokus pada defisit perdagangan, tetapi juga berupaya meningkatkan keunggulan AS di bidang teknologi kunci. Sementara Tiongkok, dengan kondisi ekonomi yang melemah, kemungkinan akan kesulitan menghadapi tantangan ini.
Setelah Presiden AS, Donald Trump, secara resmi kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu, dia segera mengubah kebijakan sebelumnya, dengan cepat mendorong berbagai kebijakan dalam dan luar negeri, dan memulai kembali perang tarif dengan cakupan yang lebih luas dibanding masa jabatan sebelumnya, memicu gejolak pasar global dan kekhawatiran mitra dagang.
Jika pada masa jabatan pertamanya Donald Trump memandang tarif sebagai senjata untuk menyelesaikan masalah perdagangan, dan kali ini setelah kembali berkuasa, dia semakin memperluas penggunaan senjata ini.
Dia memuji tarif sebagai alat yang dapat membantu pengembangan industri nasional, dan target utamanya tetap negara-negara yang menurutnya melakukan perdagangan yang sangat tidak adil dengan AS.
Melalui peningkatan tarif, Donald Trump berusaha memecah model produksi global yang sangat terintegrasi dan terspesialisasi, berharap dapat meningkatkan produksi domestik dengan mengurangi impor, membuat rantai pasokan kembali ke AS, yang pada akhirnya melindungi industri terkait dan lapangan kerja.
Di bawah pemikiran strategis America First, Donald Trump juga ingin memastikan kepemimpinan teknologi AS dan keamanan nasional, berupaya mempertahankan teknologi kunci di AS.
Profesor Ekonomi Universitas Nasional Chung Yang, Chiu Chun-jung (邱俊榮), menunjukkan bahwa perang tarif yang dilancarkan Donald Trump kali ini lebih besar dalam skala dan intensitas dibandingkan periode pertama, yang digadang-gadangkan dapat mendorong perusahaan asing untuk memperluas investasi mereka di AS.
"Jadi kita bisa katakan, pada masa (Donald Trump) pertama, tarif adalah tujuan akhir, menggunakan tarif untuk melindungi industri domestik. Sekarang? Lebih dari sekedar tarif, tarif sekarang terlihat hanya menjadi sebuah cara, tujuan akhir yang sebenarnya adalah investasi. Jadi kita bisa lihat, sejak Donald Trump menjabat sampai sekarang, sebenarnya belum genap dua bulan, termasuk Apple yang dulu kita pikir tidak mungkin kembali memproduksi di AS, tapi kita lihat Apple mungkin akan memindahkan setidaknya sebagian produksinya ke AS di masa depan. Ditambah lagi kita semua juga melihat, termasuk TSMC, termasuk banyak perusahaan besar internasional yang berbondong-bondong akan berinvestasi di AS," tutur Chiu Chun-jung.
Menghukum Perdagangan Tidak Adil, Tiongkok Menjadi Target Utama Tarif Donald Trump
Di mata Donald Trump, Tiongkok mungkin masih menjadi yang paling mengancam di antara semua mitra dagang AS. Sehari setelah pelantikannya, dia mengumumkan bahwa SoftBank Group Jepang, OpenAI induk perusahaan ChatGPT dan Oracle akan berinvestasi US$500 miliar untuk membangun infrastruktur AI di AS.
Dalam upacara peluncuran di Gedung Putih, Donald Trump menyatakan investasi ini akan memastikan masa depan teknologi.
CEO Confederation of Asia-Pacific Chambers of Commerce and Industry (CACCI) dan tenaga pengajar dari Fakultas Ekonomi Universitas Tunghai, Darson Chiu (邱達生), menunjukkan bahwa masa jabatan kedua Donald Trump kemungkinan akan melanjutkan kebijakan sebelumnya, terus memandang Tiongkok sebagai pesaing utama dalam perang ekonomi, selain karena Tiongkok adalah negara dengan surplus perdagangan terbesar dengan AS, praktik perdagangan tidak adil yang dilakukan Beijing juga menjadi kunci.
Darson Chiu mengatakan, "Perdagangan yang adil (fair trade) adalah pemikiran inti Trump, dan untuk mencapai perdagangan yang adil ini, dia menerapkan apa yang disebut tarif timbal balik. Karena dia merasa ketidakadilan terjadi ketika dia berdagang dengan negara-negara tertentu, tapi mitra dagangnya mungkin menggunakan cara manipulasi nilai tukar, atau mencuri teknologi AS, atau mencuri paten AS dan sebagainya, untuk mendapatkan keunggulan kompetitif, yang menyebabkan surplus perdagangan besar terhadap AS."
Darson Chiu berpendapat bahwa kali ini Donald Trump mengambil pendekatan yang lebih agresif saat kembali ke Gedung Putih. Ia langsung menerapkan sanksi tarif melalui perintah eksekutif, tujuannya tidak lain adalah untuk memaksa pihak lawan segera duduk di meja perundingan dan berkompromi dengan berbagai tuntutannya yang berpusat pada peningkatan industri AS.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 