(Taiwan, ROC) --- Pemimpin organisasi Islam Palestina "Hamas", Ismail Haniyeh, tewas dibunuh di Teheran, ibu kota Iran, pada akhir Juli. Kabar ini mengejutkan dunia internasional.
Ismail Haniyeh merupakan tokoh penting dalam gerakan perlawanan Palestina dan telah beberapa kali bernegosiasi dengan Israel untuk gencatan senjata di Gaza.
Kematiannya diyakini akan berdampak pada konflik Israel-Palestina, bahkan memengaruhi perkembangan geopolitik Timur Tengah.
Hubungan Iran-Israel: Dari Sahabat Menjadi Musuh
Pada tanggal 30 Juli 2024, Ismail Haniyeh pergi ke Teheran untuk menghadiri pelantikan presiden baru Iran. Sehari kemudian, ia ditemukan tewas dibunuh di hotel tempatnya menginap. Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.
Iran menuding "Rezim Teroris Zionis" Israel sebagai dalang di balik kematian Ismail Haniyeh dan bersumpah akan membalas dendam. Hal ini serta merta membuat situasi di Timur Tengah pun memanas.
Sejak Revolusi Islam tahun 1979, Iran dan Israel terus berkonflik selama beberapa dekade. Padahal, sebelum 1979, kedua negara memiliki hubungan yang baik meskipun berbeda keyakinan.
Israel bahkan mengimpor minyak dalam jumlah besar dari Iran dan membantu Iran mendirikan organisasi intelijen. Saat itu, pemerintahan Shah Iran, Mohammad Reza Pahlavi, menerapkan kebijakan pro-Barat dan mendorong modernisasi yang dikenal sebagai "Revolusi Putih".
Namun, korupsi dan masalah lainnya memicu ketidakpuasan publik. Kaum konservatif kemudian menggulingkan Shah, menghapuskan monarki, dan mendukung pemimpin agama Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Iran pun menjadi Republik Islam dengan sistem teokrasi yang sangat konservatif. Rezim baru ini menganggap Israel sebagai penjajah ilegal Yerusalem, sehingga konflik militer antara kedua negara tak terhindarkan.
Pemimpin Hamas Tewas Dibunuh, Gencatan Senjata Gaza Kian Suram
Organisasi Hamas yang didukung Iran melancarkan serangan lintas perbatasan yang mengejutkan terhadap Israel pada Oktober tahun lalu. Serangan tersebut menewaskan lebih dari seribu warga sipil Israel dan memicu perang antara Israel dengan Gaza yang masih berlangsung hingga saat ini.
Penasihat Keamanan Nasional AS, Jon Finer, menyatakan bahwa meskipun tidak ada bukti langsung, AS yakin Iran telah "terlibat secara luas" dalam serangan terhadap Israel dengan memberikan senjata, pelatihan militer, dan bantuan ekonomi kepada Hamas selama beberapa dekade terakhir.
Pembunuhan pemimpin Hamas di Teheran semakin meningkatkan ketegangan di Timur Tengah, terutama dalam negosiasi gencatan senjata di Gaza.
Chen Li-chiao (陳立樵), profesor sejarah di Universitas Katolik Fu Jen yang mengkhususkan diri dalam isu-isu Iran dan Timur Tengah, menunjukkan bahwa harapan untuk mencapai gencatan senjata antara Israel dan Hamas sangatlah tipis.
Sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, meskipun telah melalui beberapa kali perang, Israel sebagian besar berada dalam posisi menang dan "memiliki keunggulan absolut" di kawasan tersebut.
Bahkan jika gencatan senjata tercapai, hal itu tidak akan berlangsung lama.
"Yang disebut gencatan senjata hanyalah penghentian sementara pada tahap ini," kata Chen Li-chiao.
"Namun, kita dapat melihat bahwa selama beberapa dekade terakhir, perang atau konfrontasi ini tidak pernah benar-benar berhenti," lanjutnya.
Ketegangan Meningkat, Akankah Meletus Perang Terbuka di Timur Tengah?
Meskipun situasi di Timur Tengah memanas, Chen Li-chiao berpendapat bahwa para pemimpin negara di kawasan itu tidak akan gegabah untuk menggunakan kekuatan militer dalam menyelesaikan perselisihan. Dia percaya bahwa meskipun Iran pasti akan menanggapi tindakan Israel, negara-negara Arab di sekitarnya belum tentu akan mendukung perang terbuka, bahkan jika Iran melakukan pembalasan.
Chang Yu-hsuan (張育軒), kolumnis isu Timur Tengah dan pendiri "Bicara tentang Iran說說伊朗", menganalisis bahwa bahkan jika Iran menyerang Israel sebagai pembalasan, Iran tidak memiliki alasan untuk memulai perang terbuka.
Pertama, Ismail Haniyeh bukanlah orang Iran. Kedua, kebijakan luar negeri dan militer Iran selalu menggunakan "perwakilan" untuk melawan lawan-lawannya, dan tidak ingin terlibat langsung dalam konflik besar.
Bagi Israel, perang terbuka juga tidak sejalan dengan kepentingannya. "Itu tidak sesuai dengan kepentingan Israel, karena tidak mungkin bagi Israel untuk menghadapi ancaman di semua sisi secara bersamaan, di utara dengan Lebanon, di Yaman dengan Houthi, dan di timur dengan Iran. Itu akan menjadi perang multi-front, dan Hamas di Gaza pun belum sepenuhnya dimusnahkan," lanjut Chang Yu-hsuan.
Hubungan Diplomatik Israel di Timur Tengah di Ambang Kehancuran?
Pembunuhan Ismail Haniyeh juga dapat berdampak pada prospek normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Timur Tengah. Pada tahun 2020, di bawah "Abraham Accords" yang ditengahi AS, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko menormalisasi hubungan dengan Israel.
Arab Saudi awalnya juga bermaksud untuk membangun hubungan diplomatik formal dengan Israel dengan imbalan dukungan Israel untuk pembentukan negara Palestina dan jaminan keamanan dari Amerika Serikat.
Namun, proses normalisasi ini telah dihentikan karena perang Gaza. Jika situasi di Timur Tengah semakin memburuk, maka posisi negara-negara Arab dapat berubah sewaktu-waktu.
Profesor Chen Li-chiao menganalisis bahwa Israel telah mengambil strategi "menghindari yang sulit dan memilih yang mudah" dalam menormalisasi hubungan dengan negara-negara Arab, dengan sengaja memilih untuk membangun hubungan dengan negara-negara yang tidak memiliki konflik langsung dengannya di masa lalu.
Hubungan ini terutama dibangun di atas kekuatan Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah.
"Apakah mungkin situasi di masa depan akan mengubah posisi negara-negara Arab ini? Lagi pula, kedekatan mereka dengan Amerika Serikat di masa lalu didasarkan pada pertimbangan kepentingan praktis. Namun, jika ada perubahan baru di masa depan, mungkin Israel tidak lagi begitu kuat, atau mungkin dukungan AS untuk Israel tidak lagi mutlak, akankah negara-negara Arab berubah? Ini adalah aspek yang perlu kita amati di masa depan," jelas Chen Li-chiao.
Rusia dan Tiongkok Berebut Pengaruh di Timur Tengah, Menekan Kekuatan Amerika Serikat
Situasi di Timur Tengah tidak hanya menyangkut kepentingan Amerika Serikat. Tiongkok dan Rusia juga semakin vokal dalam urusan Timur Tengah.
Dari penandatanganan "Deklarasi Beijing" oleh berbagai faksi Palestina di bawah mediasi Tiongkok pada akhir Juli untuk mendorong rekonsiliasi internal, hingga kunjungan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu ke Presiden Iran Ebrahim Raisi pada 5 Agustus, untuk memperluas kemitraan strategis antara kedua negara setelah pembunuhan Ismail Haniyeh, semuanya menunjukkan ambisi Rusia dan Tiongkok di Timur Tengah.
Tindakan diplomatik Rusia dan Tiongkok di Timur Tengah terkait erat dengan strategi politik Perang Dingin untuk membendung pengaruh AS. Meskipun dampaknya masih belum pasti, Chen Li-chiao percaya bahwa tujuan akhir dari intervensi Rusia dan Tiongkok adalah untuk menekan kekuatan Amerika Serikat di Timur Tengah dan mencegah pengaruhnya berkembang terlalu besar.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 