(Taiwan, ROC) --- Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, baru-baru ini memperingatkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, mungkin menyerang Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO) dalam waktu 5 hingga 8 tahun ke depan.
Pemerintah dan militer Swedia juga secara berturut-turut memperingatkan tentang kemungkinan Rusia memperluas cakupan perang. Otoritas Swedia mengajak masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi konflik, dan mengetuk lonceng peringatan tentang ambisi Putin yang dapat menyebabkan perang meluas.
Peringatan Serangan Putin Terhadap NATO
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, dalam wawancara yang diterbitkan oleh "Der Tagesspiegel" pada pertengahan Januari lalu, mengatakan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, mungkin akan menyerang NATO dalam 10 tahun ke depan.
Ia mengatakan, "Meskipun saat ini tampak tidak mungkin, tetapi para ahli kami memperkirakan bahwa hal itu bisa terjadi dalam 5 hingga 8 tahun"
Hal ini mengingatkan pada peringatan baru-baru ini dari Ketua Komite Militer NATO, Rob Bauer, yang mengatakan bahwa NATO sedang menghadapi kondisi dunia paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir, dan menyerukan persiapan untuk transformasi tempur.
Sejak Kremlin melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022, Moskow secara terang-terangan meningkatkan retorika agresifnya terhadap beberapa negara tetangga, termasuk negara-negara anggota NATO di Baltik dan Polandia, serta negara-negara mitra perdamaian NATO seperti Moldova, yang semuanya berada di bawah ancaman 'pengaruh Rusia'.
Para pejabat pertahanan tinggi Eropa telah memperingatkan tentang risiko pecahnya konflik besar. Finlandia dan tetangganya, Swedia, yang berbatasan langsung dengan Rusia, telah meninggalkan kebijakan netralitas militer jangka panjangnya dan keduanya mengajukan permohonan untuk bergabung dengan NATO. Finlandia bahkan telah menjadi anggota ke-31 NATO pada April tahun lalu.
Menurut laporan media politik "Politico", pada awal Januari, Panglima Militer Swedia, Micael Byden, juga mendesak masyarakat Swedia untuk mempersiapkan diri secara mental terhadap kemungkinan pecahnya perang.
Ia menyatakan bahwa agresi Rusia terhadap Ukraina hanyalah satu langkah dan bukan tujuan akhir. Ambisi Moskow adalah untuk membangun lingkup pengaruh dan menghancurkan tatanan dunia berbasis aturan. Menteri Pertahanan Sipil Swedia, Carl-Oskar Bohlin, juga secara langsung memperingatkan, "Swedia mungkin menghadapi perang," yang memicu masyarakat untuk berbondong-bondong membeli barang-barang untuk persediaan.
Negara-negara Baltik dalam Kewaspadaan Tinggi
Estonia, Latvia, dan Lithuania, tiga negara kecil di Baltik, juga merasa cemas. Perdana Menteri Estonia, Kaja Kallas, dalam wawancara dengan "The Times" pada bulan Januari kemarin, menyatakan bahwa setelah konflik Ukraina berakhir, tugas utama Rusia akan menjadi memperkuat kembali kekuatan militernya di distrik barat, dan ketiga negara Baltik ini akan menjadi titik lemah NATO di mata Putin.
Ia memperingatkan bahwa laporan intelijen menunjukkan Eropa hanya memiliki waktu 3 hingga 5 tahun untuk bersiap menghadapi ancaman serius dari Rusia terhadap sayap timur NATO.
Adapun Lithuania, yang berbatasan langsung dengan Kaliningrad dan Belarusia, juga merasakan tekanan dari ancaman militer Rusia.
Menteri Luar Negeri Lithuania, Gabrielius Landsbergis, mendesak Eropa untuk mempercepat langkahnya dalam mempersiapkan lebih banyak agresi dari Rusia. Baru-baru ini di Forum Ekonomi Dunia di Davos, ia memperingatkan bahwa Ukraina mungkin tidak dapat menahan Rusia, dan jika tidak menang dalam perang di Ukraina, Eropa tidak akan berakhir dengan baik.
Sejak Putin mengirim pasukan ke Ukraina sekitar dua tahun lalu, prioritas utama NATO dan Eropa berfokus pada pencegahan invasi lebih lanjut oleh Rusia.
Jerman telah menandatangani kontrak dengan Lithuania pada bulan Desember tahun lalu, dengan mengirimkan batalyon yang mencapai 5.000 tentara untuk membangun stasiun permanen di sana.
Sebelumnya, pasukan Jerman terlibat dalam operasi militer yang dipimpin PBB atau Uni Eropa, dengan jumlah kira-kira ratusan orang, sehingga pengerahan pasukan besar-besaran seperti di atas adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ini akan menjadi bantuan besar guna menghadang Rusia agar tidak menyerang, serta membantu menjaga pintu gerbang timur NATO.
Perang Telah Kembali ke Eropa
Sebenarnya, pemerintah Jerman telah menyesuaikan teori militernya pada akhir tahun lalu untuk pertama kalinya sejak tahun 2011, dengan tujuan mengubah Bundeswehr menjadi pasukan dengan kemampuan berperang.
Teori militer baru ini secara eksplisit menyatakan di bagian pertamanya bahwa "perang telah kembali ke Eropa".
Jerman dan sekutunya sekali lagi harus menghadapi ancaman militer. Tatanan internasional sedang diserang di Eropa dan global. Jerman sedang berada di titik balik.
"Bild", sebuah majalah Jerman, baru-baru ini melaporkan bahwa sebuah dokumen rahasia "Alliance Defence 2025" yang bocor dari Departemen Pertahanan Jerman menggambarkan skenario latihan militer tentang bagaimana konflik militer antara Rusia dengan NATO dapat berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa Rusia mungkin akan memulai perang terhadap NATO di tahun 2025, serta akan memperluas konflik di Ukraina.
Sontak saja laporan ini menimbulkan kegaduhan, Penanggung Jawab Strategic Communications Centre of Excellence NATO, Jānis Sārts, menegaskan bahwa laporan tersebut didasarkan pada simulasi latihan militer, sebuah skenario fiktif untuk menguji kemampuan militer di area tertentu.
Namun demikian, kekhawatiran Eropa terhadap ekspansi 'pengaruh Rusia' telah mencapai tingkat yang sangat tinggi. Presiden AS, Joe Biden, pada akhir tahun lalu sempat mendesak anggota Partai Republik di Kongres untuk tidak terus menghalangi bantuan militer ke Ukraina. Joe Biden juga memperingatkan bahwa jika Rusia menang di medan perang Ukraina, maka Putin akan melanjutkan serangan ke negara-negara NATO.
Meskipun Putin membantah bahwa Rusia tidak memiliki alasan atau minat untuk berperang dengan NATO, tetapi pelajaran berdarah yang berlangsung di Ukraina telah memicu Eropa dan NATO untuk bersiaga.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 