(Taiwan, ROC) --- Hubungan diplomatik resmi antara Arab Saudi dengan Iran telah terputus selama tujuh tahun lamanya. Belakangan ini, tersiar kabar bahwa kedua belah pihak akan kembali mengaktifkan jalinan persahabatan resmi mereka.
Dalam proses dimulainya kembali hubungan diplomatik antara Arab Saudi dengan Iran, ternyata membuat peran mediasi Tiongkok menjadi pembicaraan komunitas dunia.
Tiongkok sebelumnya diketahui menjadi pihak yang menengahi pertemuan antara Arab Saudi dengan Iran pada pertengahan Maret kemarin.
Peran Tiongkok tersebut kemudian mendatangkan pertanyaan dari beberapa pihak, apakah Negeri Tirai Bambu memiliki agenda tersembunyi di balik suksesnya menjadi mediasi antara Arab Saudi dengan Iran?
Pada tanggal 10 Maret 2023, Arab Saudi dan Iran mengumumkan akan memulihkan kembali hubungan diplomatik resmi mereka. Dalam proses negosiasi yang ada, Beijing menjadi tuan rumah bagi kedua negara untuk menegosiasikan beberapa hal penting.
Pembicaraan antara Arab Saudi dengan Iran berlangsung selama empat hari di Beijing. Peran Beijing tentu dipandang sebagai kemenangan diplomatik besar bagi rekonsiliasi antara kedua negara besar untuk kawasan Timur Tengah.
Setelah pembicaraan selesai dilakukan, Beijing mengklaim bahwa pihaknya tidak memiliki kepentingan pribadi untuk kawasan Timur Tengah.
Dalam pertemuan penutupan untuk mengakhiri “Kongres Rakyat Nasional ke-14”, Pemimpin Tiongkok, Xi Jin-ping (習近平) menyampaikan, Tiongkok akan aktif turut dalam reformasi dan pembangunan sistem pemerintahan dunia.
Negeri Tirai Bambu akan mengadvokasi “Inisiatif Keamanan Global” dan mengungkapkan ambisi mereka untuk menggantikan peran AS sebagai pencipta perdamaian dunia.
Meningkatkan Pengaruh Internasional
Pada bulan Februari 2023, Tiongkok merilis "The Global Security Initiative Concept Paper" atau Makalah Inisiatif Keamanan Global (GSI) mengusulkan untuk aktif dalam mempromosikan dialog dan menuntaskan berbagai permasalahan dengan cara damai.
Melalui makalah GSI, otoritas Tiongkok mengklaim bahwa mereka siap melakukan kerja sama keamanan, baik bilateral maupun multilateral dengan semua negara.
Pemulihan hubungan diplomatik antara Arab Saudi dengan Iran tampaknya menjadi langkah awal bagi realisasi GSI milik Tiongkok.
Xi Jin-ping tentu memiliki peran penting dari membaiknya hubungan diplomatik antara Arab Saudi dengan Iran. Xi Jin-ping diketahui menerima langsung kedatangan Presiden Iran di Beijing pada Maret lalu. Sebelumnya pada Desember tahun lalu, Penguasa Tiongkok mengunjungi Ibukota Arab Saudi, Riyadh dan bertemu dengan para pemimpin negara Teluk Arab.
Dosen senior Universitas Islam Indonesia, Muhammad Zulfikar Rakhmat menyampaikan, “Saya kiran ini pertanda bahwa Tiongkok semakin percaya diri untuk memainkan peran yang lebih tegas di kawasan Timur Tengah.”
Analisis Urusan Tiongkok di organisasi International Crisis Group, Xiao Yan-ran (蕭嫣然) percaya jika perjanjian Arab Saudi dengan Iran akan meningkatkan kemampuan Beijing untuk memperlihatkan peran mereka sebagai pembela perdamaian. Ini akan menjadi bentuk pertentangan Beijing terhadap bangsa Barat yang selama ini menuduh mereka sebagai pendukung agresi Rusia dalam menyerang Ukraina.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
