History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

(Bag. 2) Merekatkan Sosial Masyarakat, Kuliner Prancis dan Tunisia Disertakan Dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO

  • 10 February, 2023
Perspektif
(Bag. 2) Merekatkan Sosial Masyarakat, Kuliner Prancis dan Tunisia Disertakan Dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO

“UU Roti” Melindungi Sektor Pembuat Roti Baguette

Meskipun setiap harinya ada sekitar 6 juta roti baguette yang terjual di seluruh Prancis, tetapi industri ini tengah menghadapi krisis besar.

Sektor rumah tangga setempat yang bergerak di bidang pembuatan roti harus terpukul karena pesatnya industrialisasi saat ini. Pembuat roti tradisional terpaksa harus kehilangan pekerjaan karena pemroduksian massal saat ini.

Semenjak tahun 1970, Prancis telah kehilangan sekitar 400 toko roti tradisional setiap tahunnya. Dari yang awalnya berjumlah 55.000 toko roti, kini hanya tersisa 35.000 toko.

Guna melindungi industri ini, pemerintah Prancis pada tahun 1993 mengesahkan “Undang-Undang Roti”. UU ini secara tegas dan lugas menetapkan definisi dari roti baguette tradisional.

Dari segi komposisi, roti ini hanya boleh terbuat dari campuran tepung, air, ragi dan garam. Di samping itu, pembuatan roti baguette tidak boleh menggunakan proses pendinginan. Berat dan ukurannya juga harus memenuhi standar tertentu. Roti baguette tradisional memiliki panjang berkisar 55CM hingga 65CM, dengan berat 250 gram. Jika beratnya kurang 4 gram, maka hal tersebut akan melanggar peraturan konsumen Prancis.

 

Kuliner Tunisia Saus Pedas Harissa

Jika roti baguette Prancis memiliki standar khusus, lain halnya dengan kuliner khas Tunisia, harissa. Harissa terkenal karena pesona keberagamannya, setiap keluarga di Tunisia memiliki resep harissa yang unik.

Kuliner yang memiliki sejarah panjang ini, akhirnya mampu mewakili Tunisia menjadi salah satu perwakilan di dalam daftar warisan budaya takbenda milik UNESCO.

UNESCO menyampaikan, harissa disertakan ke dalam daftar warisan budaya takbenda karena sarat akan keahlian dan pengetahuan memasaknya. Di samping itu, kuliner ini juga memiliki unsur praktik sosial yang tidak tergantikan.

Dalam surat permohonan, otoritas Tunisia menjelaskan, harissa yang seringkali dibuat secara bersamaan oleh anggota keluarga adalah kebutuhan rumah tangga yang tidak terpisahkan. Ini juga menjadi tradisi kuliner dan makanan sehari-hari warga Tunisia.

Dengan bangga perwakilan Tunisia mengatakan, harissa adalah warisan penting negara yang mampu mempersatukan masyarakatnya.

 

Semua Suka dan Semua Juga Punya

Rasa pedas yang menjadi ciri khas dari saus harissa dibuat dari paprika merah yang dijemur, minyak zaitun dan bumbu segar lainnya. Meski pedas, tetapi harissa memiliki cita rasa yang lembut.

Harissa juga tidak dapat dipisahkan dari makanan keseharian Tunisia. Harissa dapat dituangkan ke berbagai hidangan, atau dijadikan sebagai bahan memasak dan bahkan bisa dimakan langsung secara terpisah. Bumbu lezat ini juga diberitakan telah diekspor ke banyak negara di dunia, karena kelezatannya.

Penjual sandwich setempat bahkan mengaku kalau harissa adalah rahasia dari kelezatan kuliner yang ia jajakan. Ia menambahkan kalau warga Tunisia harus memiliki saus ini di dalam setiap lemari es mereka.

Ia mengatakan, “Di Tunisia, semua orang menyukai harissa karena rasanya yang enak, apalagi warga Tunisia menyukai cita rasa yang pedas. Di Tunisia, tidak ada rumah tanpa harissa. Kami sering menggunakannya, baik itu sebagai bumbu gilingan, atau di era tradisional, maupun masa modern seperti sekarang ini. Kami pasti memiliki harissa di kulkas kami.”

Kuliner tidak hanya sekedar makanan pelepas rasa lapar, melainkan sarat dengan nilai kebudayaan. Bagaimana mempersiapkan dan membuatnya juga sudah menjadi bagian dari praktik budaya setempat, sehingga tidak heran jika roti baguette dan saus pedas harissa berhasil masuk ke dalam daftar warisan budaya takbenda milik UNESCO pada tahun 2022 lalu.

Penyiar

Komentar