Seribu orang ikut andil menyelesaikan pembuatan film animasi – cerita turun temurun dari buyut tentang pahlawan Jhuge-Shiro (諸葛四郎)
Pada tanggal 24 Januari 2022, dalam lobi bioskop Ambassador di kota Taipei, Yeh Chia-lung (葉佳龍) memandang layar raksasa terpampang “Jhuge-Shiro”, seketika matanya mulai berlinang. Setelah pemutaran film yang berdurasi 1 jam 28 menit, di akhir film muncul tulisan. “ dedikasi untuk ayah dan bundaku”, dilanjutkan dengan barisan nama panjang sekali, ada pelaku industri film yang terkenal, ada warga awam yang ikut andil dan menyumbangkan dana untuk pembuatan film animasi ini. Seribu lebih nama, satu per satu lewat di depan mata, ini adalah setiap harapan akan kesuksesan film ini, mengingat hal ini semakin membuat Yeh Chia-lung menangis. Dalam perjalanan pembuatan film ini, dia selalu demikian, menangis, sabar, menengadahkan kepalanya kemudian tersenyum.
Yeh Chia-lung adalah putra sulung dari penulis komik, Jhuge Shiro, Yeh Hung-jia (葉宏甲)
“Jhuge Shiro” adalah cerita fantasi bagi siswa SD kelas 4, akan tetapi pada masa darurat militer dan di bawah pengendalian setelah masa 1960-1970an, di Taiwan membatasi penerbitan buku komik, sehingga penulis Yeh Hung-jia dan komikus lainnya terabaikan oleh perkembangan zaman, tersisa lagu Lo Ta-yu yang berjudul “Childhood” dengan lirik lagunya yang masih melekat dalam ingatan semua orang.
Beberapa saat setelah Yeh Hong-jia meninggal dunia, dalam keluarganya, tidak ada satupun orang yang mengungkit kembali “Jhuge Shiro”. Pada saat itu, putra sulungnya yang tengah mengenyam pendidikan di AS, Yeh Chia-lung, sama sekali tidak menyebut dirinya adalah putra Yeh Hong-jia, menyaksikan kemunduran ayahanda dan ketidak berdayaannya membuatnya merasa sangat menyesali.
Pada tahun 2017 sanggar teater Paper Windmill mengadopsi kisah “Jhuge Shiro” menjadi pertunjukan seni drama teater, Yeh Chia-lung yang berada di bawah panggung, sangat terpukau, meskipun sudah berusia 61 tahun, baginya “Jhuge Shiro” tetap dapat membuat mata anak-anak menjadi ceria, akhirnya dia memberanikan diri untuk menghadapi kesedihan hatinya yang berkepanjangan dan memulai proyek pembuatan film animasi “Jhuge-Shiro”, sementara semua “Jughe Shiro versi generasi baru” menjadi malaikat penolong, yang akhirnya menetaskan “Jughe Shiro – Hero of Heroes” mengintegrasikan komik, drama teater dan teknis film animasi 3 dimensi.
Tidak sampai di sini, setelah film animasi ini ditayangkan, Yeh Chia-lung bersama Kementerian Kebudayaan melakukan kerja sama penandatangan Letter of Intent, menyumbangkan benda peninggalan budaya, direncanakan semua berkas dan manuskrip, benda-benda milik ayahnya akan diberikan kepada National Taiwan Museum of Comics(NTMC). Yeh Chia-lung tidak hanya mengharapkan agar Jhuge Shiro menjadi pahlawan yang didambakan oleh anak-anak Taiwan, bertekad memajukan industri komik lokal.
Tahun 1966: Mendapat Pengawasan, Pembatasan Penayangan “Jhuge Shiro” Karena Dinilai Menggambarkan Kekuatan Dewa Misterius
Sebelum pemutaran film ini, hampir 30 tahun keluarga Yeh tidak pernah mengungkit cerita “Jhuge Shiro”. Daripada bilang tidak menginginkan, mungkin lebih pas mengatakan tidak berani, tidak bisa membendung, Yeh Chia-lung mengatakan, “bagi kami, cerita “Jhuge Shiro” begitu penting sekali, juga membawa tidak sedikit luka kesedihan.”
Setelah penerapan “mekanisme pengawasan komik” pada tahun 1966, melarang komik yang dinilai aneh dan sembarangan, membuat manga Taiwan memasuki masa suram, karakter dalam komik tidak diizinkan menggunakan topeng, tidak ada monster, bahkan harta karun juga tidak diperbolehkan, komikus terikat mati dan tidak bisa berkreasi, tidak bisa lagi menggambar dengan bebas. Maka dari itu, majalah komik juga menerbitkan “Jhuge Shiro”, rangkaian cerita ada 8 karya, semua dibatasi, dimusnahkan, dicabut peredaran dari pasar, sehingga sangat sulit untuk mengumpulkan karya-karya tersebut dengan lengkap.
Apa yang disebut dengan Mekanisme Pengawasan Komik? Mengapa “Jhuge Shiro” dibatasi?
Yeh Hong-jia adalah seniman komik Taiwan yang terkenal pada masa awal, pada tahun 1956 menciptakan karakter Jhuge Shiro dengan penampilan rambut diikat 2 cepol kiri dan kanan. Sejak itu, Jhuge Shiro menjadi karakter komik pahlawan di Taiwan, seorang anak muda yang menguasai ilmu bela diri yang menghebohkan. Pada tahun 1958 hingga tahun 1970, Jhuge Shiro menaklukkan iblis, kelompok ular hitam, manusia berwajah 4, menjadi tokoh pahlawan yang diidolakan anak-anak. Pada tahun 1966 pemerintah masa itu menerapkan “pengawasan terhadap pembuatan manga”, melarang deskripsi komik “kekuatan dewa yang misterius” maka upaya keras Yeh Hong-jia selama bertahun-tahun dan cerita Jhuge Shiro sudah tidak ada lagi.
Kemudian tokoh Jhuge Shiro lahir kembali pada tahun 2022, dari komik 2 dimensi bertransformasi menjadi animasi 3 dimensi film “Jhuge Shiro- Hero of Heroes” mengadopsi pembuatan animasi motion capture (tangkap gerak). Kisah drama seorang putri Gueikuo yang disandera iblem bertopeng besi, mengancam Raja Gueikuo untuk menyerahkan pedang Pheonix untuk ditukar dengan kunci topeng, kemudian Jhuge Shiro diutus Raja Guei untuk masuk ke sarang penyamun, terjadi pertarungan sengit, pahlawan yang terjabk dalam situasi sulit, bertarung dengan gerombolan penjahat memperebutkan pedang sakti.
Akibat pembatasan ini, bagi pelajar kelahiran 1960 dan 1970an mulai melupakan Jhuge Shiro dan yang tersisa lirik lagu Childhood karya dari musisi Lo Ta-yu:
“Pertarungan Jhuge Shiro – Iblis, siapakah yang berhasil merebut pedang sakti?”
Yeh Chia-lung masih ingat, pada saat dia tengah melanjutkan studi Doktor di AS, sangat gembira ketika mendapat telepon dari ayahnya yang berkata, “Apakah kamu pernah mendengar Lo Ta-yu? Dia menulis sebuah lagu, bernyanyi tentang Jhuge Shiro dan Iblis”. Pada masa tersebut dikarenakan pembicaraan teleponjarak jauh sangat mahal, berbicara lebih dari 10 menit, berapa besar biaya telepon yang dihabiskan ayahnya. Mengenang kembali bilah mata pedang yang mengkilap, Yeh Chia-lung menangis, “Ayah pada masa 10 tahun itu adalah masa-masa tersulit, karena tidak ada panggung lagi untuknya. Bagi siapapun, tidak ada panggung, tidak ada pembaca, tidak ada teman, pasti kesepian sekali. Apalagi bagi seorang seniman……”
Pergesekan antara pengawasan dan kebebasan berkreasi, dalam benak pikiran Yeh Chia-lung , sosok ayahnya selalu dalam kemunduran. Ia sering kali berharap agar ayahnya menyerah, akan tetapi ayahnya malah bersikeras dan selalu memperjuangkan dari awal hingga akhir.
Pendukung kreativitas ayah yang paling besar adalah ibunda. Dalam kenangan Yeh Chia-lung dari kecil hingga dewasa, ibu yang mempersiapkan segala sesuatu, selain itu masih merawat murid-murid ayah, “pada masa puncak kejayaan, keluarga kami menampung 12 murid, satu keluarga besar ada 18 anggotanya hidup bersama, setiap hari ibu bertanggung jawab mempersiapkan makan sehari 3 kali untuk 18 anggota keluarga, ibu sama sekali tidak pernah mengeluh.” Bertepatan dengan perayaan hari raya, kami berwisata bersama karyawan, Yeh Chia-lung yang masih kecil masih ingat, 18 orang naik bus besar bersama untuk berwisata. Jika murid-murid yang berhasil menjadi komikus, maka ayahnya pasti akan membuatkan mereka satu setelan jas, memberikan angpao sebagai simbol telah dewasa.
Yeh Chia-lung berkata, beberapa tahun terakhir ibu menderita demensia, bahkan anak sendiri pun tak dikenalnya, yang dia ingat malah Jhuge Shiro, “Saya bertanya kepada ibu, Siapa saya, mama tidak tahu. Akan tetapi ketika saya mengambil dan memperlihatkan “Jhuge Shiro”, ibu langsung berkata “Shiro”.
Tahun 2017: Sanggar The Paper Windmill Mengadaptasi “Jhuge Shiro” Menjadi Drama Teater
Pada usia tua ibunda Yeh Chia-lung dan kondisi kesehatannya menurun drastis, “suatu hari ibu berkata kepada saya, “selanjutnya ini diserahkan kepada kamu.” Saya melihat dia mengambilkan saya buku “Jhuge Shiro”.
Pada tahun 2017, sanggar seni Paper Windmill mencari Yeh Chia-lung, kemudian mereka mengadaptasi manga “Jhuge Shiro” menjadi pertunjukan seni drama. Dalam masa singkat 1,5 tahun menarik lebih dari 40.000 penonton. Menyaksikan anak-anak bergembira, mendengar tawaan anak-anak, Yeh Chia-lung menyaksikan percakapan dan kesenangan anak-anak yang memadati ruangan pertunjukan ini, semua gembira karena “Jhuge Shiro”.
“Pada waktu itu saya telah berumur 50 tahun, lebih melewati tonggak kehidupan. Kilas balik masa lalu, meskipun saya melalui hidupku dengan baik, akan tetapi saya jarang membantu orang tua saya, kontribusi saya untuk Jhuge Shiro terlalu sedikit. Kini saya sudah tua, akan tetapi Jhuge Shiro masih muda, masih begitu-begitu saja, masih penuh dengan keberanian…..,”ujar Yeh Chia-lung sepatah demi sepatah.
Akhirnya Yeh Chia-lung memutuskan, akan menemukan kembali penggalan Jhuge Shiro yang tersebar di seluruh pelosok di dunia. Demi menghidupkan kembali kisah Jhuge Shiro yang lengkap, Yeh Chia-lung menyambangi kolektor lokal, buku-buku komik yang tersisa dipindai, dia hampir menemukan 99% kumpulan komik Jhuge Shiro.
Ini adalah keinginan terakhir ayahnya, yang menjadi perjalanan mencari akar bagi Yeh Chia-lung. Dalam perjalanan mengunjungi kolektor, satu demi satu ingatan akan masa kecilnya terhimpun kembali, “mendengar tidak sedikit senior yang berbagai cerita, pada waktu itu saya yang masih kanak-kanak, dengan ayah ngobrol banyak tentang konten cerita.” Di tengah malam, Yeh Chia-lung duduk di depan komputer, menggunakan aplikasi menggambar kembali, satu demi satu goresan untuk memulihkan naskah asli ayahnya, disesuaikan dengan masa lalu terbitan Tankobon (monograf), dicetak ulang edisi lengkap 100 rangkap.
Komik 2 dimensi terlahir kembali, bersama pengembangan animasi 3 dimensi. Hanya untuk tampilan estetika saja memerlukan waktu satu tahun baru diputuskan. Gerakan tubuh dari tokoh kartun mengadopsi dinamika motion capture 3 dimensi, mengundang 12 pemain drama untuk memainkan peranan, melalui perangkat sensor pada badan, gerakan diambil dan dimasukkan ke dalam komputer, yang menyajikan gambar pertarungan sengit antara Jhuge Shiro dengan iblis. Pembuatan film ini memakan waktu selama 5 tahun, baru diluncurkan sebagai film animasi 3 dimensi “Jhuge Shiro- Hero of Heroes”.
Tahun 2022: Penayangan film animasi 3D, Hasil Upaya dari 1 Hingga 1.000 Orang
Penayangan film animasi “Jhuge Shiro – The Hero of Heroes” diluncurkan pada tahun 2022, sukses pada perayaan musim semi, menjadikan Jhuge Shiro terlahir kembali menjadi pahlawan yang melekat di hati anak-anak generasi baru.
Awalnya, Yeh Chia-long hanya seorang sendiri menyusun proyek ini, pada tahun 2019 ia mulai menggalang dana, yang dimulai dari teman TK, SD, mantan Chairman of Taiwan Film and Audiovisual Institute, Tony Lan (藍祖蔚), sutradara Wu NIen-jen (吳念真), penulis skenario Lin Yu-chuin(林于峻), Sutradara Manga Muta Liu (劉育樹), secara bertahap berkembang dan mengajak masyarakat awam, total mengumpulkan 1.062 dana kecil, kemudian membuat semakin bergulir dan bantuan semakin besar.
Yeh Chia-lung sengaja memberi judul “The Hero of Heroes”, karena memiliki makna dibalik pembuatan film ini yang merupakan hasil kerja sama, sama hal dengan kisah ini, tanpa upaya kerja sama tim melawan iblis, Jhuge Shiro sendirian tidak akan mampu, akan tetapi memerlukan teman-taman baikm inilah semangat yang ingin disampaikan ayahnya.
Tidak hanya menggunakan kekuatan teknologi untuk menghidupkan kembali karya ayahnya, Yeh Chia-lung juga menampilkan sosok ayahnya dalam "Jhuge Shiro - The Hero of Heroes", seolah-olah untuk membenarkan generasi komikus 2D yang tidak mampu menghadapi perubahan dalam dunia, dan berkata, “saya hanya tokoh kartunis”, kemudian juga menginspirasi komikus saat ini yang tengah berkelana dalam kreativitasnya.
Masa kecilnya, ayah sering mengajak Yeh Chia-lung nonton bersama, beberapa film seperti The Burning of the Red Lotus Temple , Godzilla versi hitam putih …. Kemudian bertanya kepadanya, “Alung, film tadi yang kamu nonton tadi, apa kehebatannya ?” ini menjadi bahan komik bagi ayah, menjadi momen langka, saat-saat bersama ayah.
Yeh Chia-lung berkata, mereka sekeluarga bisa menggambar, suatu saat ia berkeinginan melukis, akan tetapi dicegat ayahnya, “Jalan ini terlalu sulit.” Kemudian Yeh Chia-lung melanjutkan studi di AS, lulus mendapat gelar Doktor, sebagai insiyur industri teknologi di AS dan mulai berinvestasi.
Perjalanan ayah dan kenangan masa kanak-kanak kian jauh, tak disangka, sekembali ke kampung halaman, akhirnya kembali pada jalan yang sama, mengungkit ayahnya, Yeh Chia-lung menangis dan berkata ia sering bermimpi tentang ayahnya.
“Dia masih suka menggambar, menengah dan menatap saya, usia sekitar 40 tahun, lebih muda dibandingkan saya saat ini.” Siapa sosok Jhuge Shiro yang dilukis? Yeh Chia-lung tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Ayah berkata kepada saya, gambar ini dilukis dilihat dari cermin.” Ternyata Jhuge Shiro adalah potret diri dari komikusnya.


RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 