History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Reporter Muda Ep.16 - Apakah musim dingin Taiwan akan hilang? Tempat manakah di bumi yang tidak bisa dihuni?

  • 05 January, 2024
Reporter Muda
mencairnya es di kutub akibat pemanasan global (foto: freepik)

“The Day After Tomorrow” yang terjadi di dunia -Apakah musim dingin Taiwan akan hilang? Tempat manakah di bumi yang tidak bisa dihuni?

 

 

Analisa grafik tentang “The Day After Tomorrow” yang terjadi di dunia -Apakah musim dingin Taiwan akan hilang? Tempat manakah di bumi yang tidak bisa dihuni?

 

Musim panas semakin panas, kondisi ini menjadi normal dirasakan oleh semua orang. Padahal sebenarnya, gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim, sejak awal sudah memengaruhi kehidupan kita. Akan tetapi apakah benar cuaca kian hari kian panas? Faktor lain apa yang memicu suhu udara semakin panas? Selain, suhu udara berubah menjadi tinggi, dampak apa lagi yang ditimbulkan oleh perubahan iklim? Mari kita lihat fenomena dan dampak perubahan iklim melalui data-data penting.

 

Pada bulan Juli tahun ini (2023), terdapat laporan tentang catatan rekor suhu udara tinggi, Eropa dilanda gelombang panas "Cerberus", dengan suhu tinggi melebihi 40 derajat Celcius. Belahan samudra Atlantik, Death Valley di California, AS mengalami gelombang panas sepanjang sejarah, hampir terdata sebagai yang tertinggi; di Asia, India dilanda gelombang panas pada bulan April, bahkan mengalami suhu tertinggi 47 derajat Celcius pada bulan Juni.

 

Perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan suhu tinggi, tetapi juga bencana besar yang disebabkan oleh berbagai kondisi cuaca ekstrem, misalnya hujan lebat yang terjadi di Amerika Serikat bagian timur pada tanggal 9 Juli, menyebabkan 50 juta orang di wilayah pesisir timur berisiko terkena banjir; berturut-turut hujan lebat selama berhari-hari di Korea Selatan menyebabkan banjir dan tanah longsor cukup parah, menimbulka 40 orang meninggal; Sepanjang pengamatan lokal di Jepang, hujan lebat di Kyushu, Jepang, pada 10 Juli mencatat rekor tertinggi dalam sejarah. Pemerintah setempat mengevakuasi ratusan ribu orang dalam keadaan darurat, dan hujan lebat juga menewaskan 6 orang;

India, yang memiliki musim hujan dari bulan Juni hingga September setiap tahun, juga Curah hujan satu hari sebesar 153 mm pada tanggal 9 Juli memecahkan rekor dalam kurun waktu40 tahun.

Pada tanggal 8 Agustus, akibat kekeringan dan angin kencang yang disebabkan oleh topan, Maui, pulau terbesar kedua di Hawaii mengalami kebakaran hutan terburuk dalam satu abad, membakar kota Lahaina bernilai sejarah, terdata 101 orang tewas, ribuan lainnya hilang, dan jumlah korban jiwa terus bertambah.

 

Musim panas tahun ini, tidak hanya sering terjadi kebakaran, masyarakat di mana-mana juga mengalami dampak bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim. Lagi pula, apakah musim panas semakin panas dari tahun ke tahun? Perubahan lingkungan dan ekologi penting apa yang terjadi akibat perubahan iklim? Seperti apa dunia di masa depan? Mari ikuti penelitian dan statistik yang terdata untuk memberikan Anda penjelasan.

 

40 tahun terakhir ini, kenaikan suhu rata-rata global meningkat 2 kali lipat

Menurut analisis Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA), suhu rata-rata di  bumi pada tahun 2022 adalah sekitar 1,11 derajat Celcius lebih tinggi dibandingkan suhu rata-rata pada akhir abad ke-19, setara dengan suhu permukaan bumi rata-rata tertinggi kelima pada tahun 2015. Ditambah lagi, sejak tahun 1880 sejak mulai pendataan, diantara suhu terhangat sepanjang sejarah dalam kurun waktu 10 tahun, antara 2014-2022 ada 9 tahun.

 

Klimatotologis mendapati, tahun 1880-2022 laju kenaikan suhu rata-rata global, naik 0,08 derajat celcius setiap 10 tahun, akan tetapi sejak tahun 1981, laju kenaikan tersebut telah mencapai 0,18 derajat Celcius setiap 10 tahun, dengan kata lain, hampir 40 tahun terakhir ini suhu bumi naik lebih cepat 2 kali lipat dibandingkan dengan 140 tahun sebelumnya.

Klimatotologis beranggapan hal ini terjadi karena produksi dan konsumsi, manusia terus membakar bahan bakar minyak bumi dan menebang hutan dalam beberapa tahun terakhir dan meningkatnya efek rumah kaca, sehingga mempercepat laju pemanasan global.

Selain itu, variasi iklim alam seperti fenomena “El Nino” dan “La Nina” juga menjadi salah satu penyebabnya.

 

Apa yang dimaksud dengan El Nino dan La Nina

 

Setiap tahun menjelang Natal, arus laut yang hangat mengalir dari utara ke selatan di Pasifik Timur di pantai barat Peru, dan hasil tangkapan ikan juga akan berkurang. Nelayan lokal akan memanfaatkan celah ini untuk memperbaiki dan memelihara perahu nelayan dan alat tangkap mereka, maka masa arus laut yang mampir pada saat perayaan natal diberi nama “El Nino”.

Kata ini dalam bahasa Spanyol memiliki arti ganda yaitu "anak Kristus" dan "anak laki-laki" (juga disebut "bayi laki-laki"). Para ilmuwan meminjam pepatah nelayan di Peru dan tempat lain untuk menyebut fenomena yang terjadi setiap beberapa tahun (2 hingga 7 tahun) di bagian timur Samudera Pasifik khatulistiwa di mana air laut memanas secara tidak normal dan mempengaruhi iklim global, sebagai "El Nino" .

Namun, suhu laut di Pasifik khatulistiwa timur terkadang menjadi sangat dingin, dan dampaknya terhadap iklim global hampir berlawanan dengan dampak El Niño. Fenomena dingin yang luar biasa ini juga oleh para ilmuwan diberi nama "La Niña", yang berarti "perempuan" atau "bayi perempuan" dalam bahasa Spanyol.Inilah asal mula nama "La Nina".

 

 

Ketua Anthropogenic Climate Change Center, Pusat Penelitian Perubahan Lingkungan Academia Sinica, Xu Huangxiong(許晃雄) menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir, dunia telah mengalami fenomena La Nina yang secara teori akan membuat suhu bumi lebih dingin, namun ada seringnya laporan suhu tinggi di berbagai tempat, dan fenomena El Nino yang dimulai tahun ini Fenomena El Niño semakin mengejutkan para ilmuwan - di masa lalu, fenomena El Niño terutama menyebabkan suhu air laut di Pasifik timur meningkat, namun tahun ini Pengamatan menemukan bahwa suhu air laut di seluruh dunia mengalami peningkatan. Organisasi Meteorologi Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WMO) juga menyatakan bahwa fenomena El Niño dan gas rumah kaca yang dikeluarkan manusia akan menyebabkan suhu bumi memecahkan rekor dalam lima tahun ke depan, sehingga diperkirakan suhu bumi akan melebihi suhu tersebut. Kisaran pemanasan 1,5 derajat Celcius dalam beberapa tahun.

 

Mengapa batas kenaikan suhu ditetapkan 1,5 derajat Celcius?

Tujuan bersama yang ditetapkan oleh negara-negara di seluruh dunia dalam Perjanjian Paris tahun 2015 adalah membatasi kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat Celsius di atas rata-rata pra-industri. Jika melampaui batas peringatan ini, dunia akan semakin sering mengalami cuaca ekstrem, dan pemanasan air laut juga akan menyebabkan matinya sejumlah besar terumbu karang dan berdampak serius terhadap ekologi laut. Mencairnya es akan menyebabkan naiknya permukaan air laut, juga akan merugikan warga di wilayah pesisir.

Oleh karena itu, negara-negara berkomitmen untuk mengendalikan kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celcius, sehingga derajat perubahan lingkungan dapat dikendalikan dalam rentang yang terkendali, sehingga tidak menimbulkan krisis perubahan iklim yang berkepanjangan dan tidak terkendali. ​

 

Musim panas semakin panjang, Mungkinkah tahun 2060 di taiwan tidak ada musim dingin

 

極將對全球天氣產生影響,讓中高緯度地區發生熱浪、野火和洪水等極端天氣災害。

Seiring dengan semakin intensifnya pemanasan global, para ilmuwan juga menemukan bahwa empat musim di seluruh dunia mulai berubah, dengan musim panas yang semakin panjang, dan tiga musim yaitu musim semi, musim gugur, dan musim dingin secara bertahap memendek. Seiring dengan perubahan lamanya musim, es laut juga menunjukkan fenomena yang mengkhawatirkan. Penelitian terbaru dalam jurnal ilmiah "Nature Communications" menemukan bahwa permukaan laut Arktik mungkin akan sepenuhnya bebas es pada musim panas tahun 2030-an sesegera mungkin. dan bahkan ketika emisi karbon dunia dalam kondisi yang sangat rendah, es laut Arktik masih bisa hilang pada musim panas tahun 2050an. Jika tidak ada es laut di musim panas, pembentukan es akan melambat lebih lambat di musim dingin, yang pada akhirnya dapat menyebabkan hilangnya lapisan es sepenuhnya. Arktik tanpa es laut di musim panas akan berdampak pada cuaca global, menyebabkan bencana cuaca ekstrem seperti gelombang panas, kebakaran hutan, dan banjir di wilayah lintang menengah dan tinggi.

Di Taiwan yang beriklim subtropis, musim panas juga lebih panas dan lebih panjang dibandingkan sebelumnya. Jumlah hari dengan suhu tinggi (yaitu jumlah hari di atas 35 derajat Celcius) di Taipei pada tahun 2022 akan menjadi 20 hari lebih banyak dibandingkan tahun 1971. Tim sains perubahan iklim Taiwan memperkirakan bahwa pada akhir abad ini (abad ke-21), panjang musim panas di Taiwan dapat bertambah dari saat ini sekitar 130 hari menjadi 155 hingga 210 hari dan panjang musim dingin dapat berkurang dari saat ini sekitar 70 hari, 0 hingga 50 hari.

Dengan kata lain, dalam kondisi yang paling parah dan tanpa pengurangan emisi gas rumah kaca, musim dingin di Taiwan mungkin akan hilang sama sekali pada tahun 2060.

Pada akhir abad ini, sepertiga populasi dunia akan pindah dari rumah mereka karena suhu yang tinggi

Mengapa kita perlu memberikan perhatian khusus terhadap kenaikan suhu? Karena ini mungkin mempengaruhi kehidupan Anda dan saya sehari-hari. Selain bisa mematikan manusia, suhu tinggi juga dapat menurunkan produktivitas manusia dan panen tanaman, menyebabkan lebih banyak migrasi penduduk dan mempercepat penyebaran penyakit, sehingga peringatan yang diberikan oleh para ilmuwan mengenai kenaikan suhu rata-rata global tidak dapat diabaikan.

Penelitian terbaru menemukan bahwa jika dunia terus memanas sesuai tren saat ini, menyebabkan suhu rata-rata global meningkat lebih dari 2,7 derajat Celsius, sepertiga populasi dunia akan hidup di lingkungan bersuhu tinggi yang sangat berbahaya pada akhirnya diabad ini.

Yang disebut suhu tinggi berbahaya mengacu pada suhu rata-rata tahunan yang melebihi 29 derajat Celcius. Jika melebihi 29 derajat Celcius, fungsi tubuh manusia seperti keringat, pengaturan suhu, dan fungsi kognitif akan terpengaruh, dan angka kematian akibat cedera termal akan meningkat.

Menurut prediksi, seluruh Afrika Barat dan Teluk Persia akan menjadi daerah yang sangat panas di masa depan, dan di negara-negara seperti Burkina Faso, Mali, Qatar, Aruba, dan Uni Emirat Arab, seluruh territorial berkemungkinan tidak dapat dihuni. Studi ini juga memperkirakan bahwa sejumlah besar orang di 3 negara diantaranya India, Nigeria dan Indonesia akan terpaksa meninggalkan rumah mereka. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah banyak dari negara-negara tersebut di atas merupakan negara-negara berpenghasilan rendah yang kekurangan sumber daya untuk menghadapi bencana iklim. Oleh karena itu, menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian, di masa mendatang bagaimana membantu masyarakat di negara-negara tersebut mendapatkan tempat tinggal yang layak

 

Ketika suhu rata-rata naik 2 derajat Celcius, 99% terumbu karang akan hilang

 

Suhu rata-rata bumi terus meningkat. Selain berdampak pada gaya hidup manusia, hewan dan tumbuhan di alam tidak punya tempat untuk menyelamatkan diri.

“Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services, (IPBES)” menerbitkan laporan indikator ekologi setebal ribuan halaman pada tahun 2019, yang menyatakan bahwa jika pemanasan global tidak dikendalikan, sejumlah besar spesies akan hilang dari bumi.

Di antara sekian banyak spesies yang terkena dampak, terumbu karang mendapat perhatian khusus karena kenaikan suhu laut akan berdampak langsung pada ekologi terumbu karang, sehingga terumbu karang menjadi indikator penting untuk mengamati dampak perubahan iklim. Selain itu, meskipun terumbu karang hanya menutupi kurang dari 1% luas dasar laut global, namun terumbu karang dapat menyediakan habitat bagi sekitar 25% kehidupan laut. Oleh karena itu, terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang paling beragam secara biologis di bumi. Maka dari itu, jika terumbu karang semakin berkurang artinya secara bersamaan akan semakin banyak spesies yang hilang dari muka bumi.

 

Dr. Ove Hoegh-Guldberg, direktur Pusat Penelitian Perubahan Global di Universitas Queensland di Australia, menunjukkan bahwa penelitian telah menemukan bahwa 14% karang telah hilang sejak tahun 2009. Pada tahun 2018, Intergovernmental Panel on Climate Change, (PCC) IPBB mengeluarkan laporan yang menunjukkan perbedaan antara terumbu karang ketika suhu global naik 1,5 derajat Celcius dan 2 derajat Celcius, ketika suhu global naik 1,5 derajat Celcius, Terumbu karang akan berkurang 70 hingga 90%; dan ketika suhu global naik 2 derajat Celsius, bumi akan kehilangan 99% terumbu karangnya.

Oleh karena itu, ekosistem terumbu karang yang berharga di lautan saat ini sangat rentan. Jika air laut terus memanas maka alga yang semula hidup bersimbiosis dengan karang akan musnah, setelah alga warna-warni tersebut mati atau meninggalkan karang maka yang tersisa hanyalah polip karang aslinya sehingga menyebabkan terumbu karang “memutih”. jumlah alga juga akan mempengaruhi polip karang asli dan organisme lain yang menghuni terumbu karang, sehingga pemanasan air dapat sangat merusak keanekaragaman hayati terumbu karang yang berharga.

Penyiar

Komentar