History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Reporter Muda Ep.14 - Melampaui Jarak Dunia Yang Paling Jauh – Film Dokumenter “Promises” Kisah Tentang 7 Anak-anak Israel-Palestina

  • 30 November, 2023
Reporter Muda
anak-anak di Jalur Gaza (foto: dok. Bored Panda/news.detik.com)

Pada tahun 1948, orang-orang Yahudi membangun negara Israel di Palestina, membuat warga Arab yang ada di Palestina kehilangan tanah kehidupan mereka karena orang Yahudi berpindah ke tempat ini. Oleh karena itu, lebih dari satu abad, di bawah situasi ketegangan Israel-Palestina, pertumpahan darah dan konflik terus berlanjut. Akan tetapi pada tahun 1990-an, AS pernah memimpin koordinasi agar kedua belah pihak Israel-Palestina duduk bermusyarawah untuk berdamai, sayangnya pada akhir pembahasan terjadi pertentangan sengit antar kedua belah pihak, upaya perdamaian berakhir dengan kegagalan.

 

Film dokumenter yang bertajuk “Promises”, yang disutradarai orang Yahudi berkewarganegaraan AS B.Z. Goldberg, pada 3 tahun yang lalu mengambil metode pendekatan atau dapat dikatakan sebagai suatu eksperimen, mendalami

7 anak yang tumbuh dalam perdamaian Israel-Palestina, yang tinggal di 2 kawasan yaitu Jerusalem dan perbatasan, berkesempatan untuk saling mengenal kehidupan masing-masing. Dalam film merekam “keraguan / kecurigaan yang terpecahkan”, kemudian kembali ke tempat semula, ke titik awal setelah mereka dewasa, keterikatan sejarah yang kompleks dan kontradiksi antara Israel dan Palestina dari sudut pandangan remaja.

 

Film Promises, tahun 2001

Masuk nominasi Oscar atau Academy Award 2002 untuk kategori film dokumenter terbaik

 

Film yang disutradarai oleh orang Yahudi berkewarganegaraan Amerika Serikat, B.Z. Goldberg, mulai dari tahun 1995 – 1998 ia mengikuti dan merekam kehidupan sehari-hari dari 7 anak Israel-Palestina, melalui apa yang disampaikan oleh beberapa anak ini, menunjukkan perbedaan cara pandang warga Palestina terhadap sejarah konflik ini. Dalam film dokumenter ini, 7 anak berbagi kehidupan mereka di Dheisheh Refugee Camp di Jerusalem, Betlehem; kawasan settlement di Tepi Barat, dengan jarak perjalanan kendaraan antar ke2 tempat ini tidak lebih dari 20 menit. Semua lingkungan tempat mereka tinggal dan beraktivitas terekam jelas dalam wawancara bersama mereka, membuat pemirsa dapat merasakan dampak konflik bagi penghuni lokal secara nyata. 

 

Di tengah film tersebut, sutradara mengatur sekelompok remaja orang Yahudi berkomunikasi dengan remaja Palestina, saling bertemu dan berinteraksi seharian; anak-anak yang sangat murni, mereka dapat berkomunikasi seakan-akan tidak adanya kesalahpahaman, situasi ini membuat orang-orang melihat ada secercah harapan untuk hidup berdampingan secara damai. Beberapa tahun kemudian, sutradara ini kembali menemui beberapa anak ini, malah masing-masing telah kembali ke dunianya sendiri, menjalani kehidupan sendiri, persahabatan singkaty yang terjalin pada masa tersebut secara perlahan-lahan telah pudar….

 

Kekuatan Militer Israel Bangun Negera – Pembalasan Palestina

Pada tanggal 14 Mei 1948, di bawah seruan Zionisme, melalui upaya yang berlangsung selama puluhan tahun, orang Yahudi berhasil membangun negara di Palestina. Namun, bagi warga Arab Palestina yang sudah lama tinggal di sini, rencana orang Yahudi menetap membuat mereka kehilangan tempat tinggal, gerakan nasional Yahudi dengan kekuatan militer melancarkan pembersihan di banyak kota Arab dan desa-desa untuk membuka jalan bagi berdirinya negara. Mesir, Yordania sebagai negara pemimpin Arab melakukan perlawanan pada satu hari setelah berdirinya negara Israel, yang disebut dengan perang Palestina 1948.

Israel berhasil mengalahkan aliansi Arab, sejak saat itulah Israel mampu berpijak kokoh di antara negara-negara Arab, saat bersamaan permasalahan pengunsian warga Palestina semakin meningkat. Menurut data prakiraan dari PBB, sejak tahun 1947-1949 setelah perang Palestina 1948 berakhir, karena perang, diusir militer Israel menyebabkan sebanyak 750.000 warga Palestina menjadi pengungsi, sehingga berdirinya negara Israel bagi warga Palestina menyebut sebagai hari malapetaka atau the Nakba.

 

Setelah perang Palestina 1948, Israel menguasai 78% tanah Palestina. Setelah itu, Israel secara bertahap menduduki Jerusalem, Jalur Gaza, Tepi Barat hingga kini menguasai seluruh wilayah Palestina, masih ditambah dengan semenanjung Sinai dan dataran tinggi Golan, Suriah.

Meskipun resolusi 242 PBB pasca perang mengharuskan Israel menarik diri dari wilayah yang diduduki selama perang, akan tetapi Israel terus berlanjut memperluas wilayah kependudukannya.

 

Lingkup kehidupan warga Palestina terus mengecil, hingga akhirnya muncul perlawanan pertama Intifada pada tahun 1987. Pemberontakan yang berlangsung selama 6 tahun, rakyat Palestina spontan melawan militer Israel, di mana organisasi Islam “Hamas” terlahir dan melakukan perlawanan, memainkan peran penting sebagai pasukan militan Palestina melawan Israel selama beberapa dekade, mencakup kejadian awal Oktober 2023, menjadi krisis militer paling serius Israel-Hamas dalam waktu 50 tahun terakhir.

 

Beberapa kata seperti “Holocaust”, pengungsi Palestina, settlement (pemukiman) dan pembentrokan Intifada pertama, menjadi kata kunci untuk sejarah konflik Israel-Palestina untuk saat ini, selain itu juga menjadi latar kehidupan dari 7 anak Israel-Palestina dalam film dokumenter Promises, sang sutradara mendalami kehidupan dari 7 anak tersebut.

 

(untuk memahami lebih lanjut bisa mendengarkan podcast: 6 Kata Kunci Memahami Mengapa Terjadi Konflik Israel-Palestina?Konflik apa sajakah yang terjadi selama berabad-abad? Bagaimana peranan komunitas internasional?

 

Perjalanan remaja di tengah pembahasan perdamaian yang gagal

Dalam memaparkan perbedaan, kondisi kehidupan dan pandangan beberapa anak ini terkait konflik Israel-Palestina, sutradara lebih lanjut memasuki Jerusalem dan menghubungkan orang Yahudi dengan pengungsi, berharap ada kesempatan untuk pertukaran langsung dan mengatasi beragam hambatan yang ada.

 

Dalam narasi pembukaan sutradara, ia mengungkit “perdamaian Israel-Palestina” yang kembali ke Jerusalem, menghabiskan masa 3 tahun, mengikuti kehidupan 7 anak-anak. Perdamaian yang ditunjuk oleh sutradara, berdasarkan Madrid Conference yang dipimpin oleh AS pada tahun 1991, kemudian mantan Presiden AS, Bill Clinton menjadi saksi penandatanganan Oslo Accords untuk mempromosikan Oslo Peace Process.

 

Proses perdamaian dinegosiasikan langsung oleh para pemimpin Israel dan Palestina. Deklarasi Prinsip-prinsip Pemerintahan Sendiri Sementara ditandatangani pada bulan September 1993. Perdana Menteri Israel saat itu Yitzhak Rabin dan pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina, Yasser Arafat berjabatan tangan di halaman depan Gedung Putih, menjadi simbol proses perdamaian, kedua belah pihak menuju negara otonomi. Selanjutnya pemerintahan dalam negeri Israel mengalami gejolak politik, Yitzhak Rabin dibunuh pada tahun 1995, ditambah dengan pertentangan dari kekuatan radikal kedua belah pihak, sehingga proses perdamaian tidak lagi berlanjut.

 

Proses pembahasan perdamaian yang gagal, ke-7 remaja telah melewati masa-masa kecil mereka. Ke-7 anak-anak remaja adalah Yarko Solan, Daniel Solan, Shlomo, Mosihe Bar adalah orang Yahudi, sementara 3 anak Palestina Bernama Mahmoud, Faraj dan Sanabel. Jarak tempat tinggal mereka tidak lebih dari 20 menit, namun tempat kecil ini cukup kompleks dan beragam, mereka menyaksikan serangkaian perubahan sejarah besar yang telah disebutkan di atas tadi, serta memikul beban berat yang dibawa sejarah ini.

 

Dengan mengambil contoh orang Yahudi, dalam pengakuan status identitas, agama bersikap menjaga jarak dengan orang Palestina dan ada perbedaan yang mencolok, Yarko dan Daniel adalah dua bersaudara orang Yahudi yang tinggal di Jerusalem Barat, mereka menyukai olahraga, menjadi peserta tim volli di sekolah, selalu mengikuti berbagai perlombaan, termasuk orang Yahudi yang cenderung sekularisasi. Yang dimaksud dengan “Sekularisasi” mengacu identitas sebagai orang Yahudi dan pengakuan budaya, tetapi tidak terikat kuat pada ajaran agama Yahudi, sikap mereka terhadap orang Palestina lebih tenang dan objektif.

 

Shlomo, putra seorang Yahudi-Amerika yang lahir di Kawasan Yahudi di Kota Tua Yerusalem, Jewish Quarter. Meskipun keluarganya cukup ketat menganut ritual dan cara berpakaian tradisional Yahudi. Akan tetapi, kawasan Beit EI di Tepi Barat, sementara Moishe Bar yang berasal dari keluarga tradisional Yahudi, lebih berpandangan konservatif terhadap konflik Israel-Palestina.

Yarko dan Daniel dengan inisiatif sendiri meminta agar sutradara menempatkan mereka di Dheisheh Refugee Camp di Betlehem untuk melakukan pertukaran dengan remaja Palestina, mereka menghabiskan waktu satu hari pada akhir pekan.

 

Faraj yang tinggal di Dheisheh Refugee Camp, adalah perwakilan pertama yang paling awal berhubungan dengan 2 bersaudara, Yarko dan Daniel. Dalam film tersebut dapat diketahui ketika ia bersama neneknya kembali ke kampung halaman, pada tahun 1948 keluarganya juga menjadi korban Holocaust, di kala usia masih kecil mengalami perang Intifada pertama, konflik militer dengan masyarakat sipil Palestina, di tengah pemberontakan ini kehilangan banyak teman, membuatnya bersikap memusuhi orang Israel. Ia mencoba mengatasi hambatan ketika bertemu dengan kedua kakak bersaudara, setelah saling berinteraksi, Faraj mulai melepaskan sikap bermusuhan dan kesalahpahamannya, bersama anak-anak Yahudi membina hubungan persahabatan. Dia yang gemar berolahraga, sebagai pelari spinter mulai memecahkan batu penghalang dan bersahabat dengan kedua bersaudara ini.

 

 

Tuan rumah di kamp pengungsi lainnya adalah Sanabel, semula dia bersama keluarganya tinggal di desa Zakaria, karena diusir militer Israel akhirnya tinggal di Dheisheh Refugee Camp

. Ayahnya adalah seorang jurnalis dan pemimpin lokal Popular Front for the Liberation for the Palestine(PFLP) , yang kemudian tertangkap dan dipenjara. Dalam film yang mengkisahkan dia dan keluarganya hingga membesuk ayah di penjara, karena ayahnya dinilai sebagai tokoh yang berbahaya sehingga hukuman kurangan diperpanjang.

 

7 Anak, 3 Lokasi Memori Masa kecil Dipengaruhi Sejarah

Di antara tujuh anak dalam film tersebut, Mahmoud dan Moishe Bar paling terlihat jelas mereka merasakan konflik pandangan sejarah Israel dan Palestina dan pertentangan. Keduanya yang sama sekali tidak pernah berhubungan langsung tetapi dapat dikatakan masing-masing berada pada sisi berlawanan dalam konflik dan memori sejarah Israel-Palestina

 

Mahmoud tinggal bersama keluarganya di Muslim Quarter Yerusalem. Ayahnya adalah pedagang warung kopi di distrik tersebut, Mahmoud yang masih kecil mengutip ayat-ayat Al Qur’an sambil menjelaskan sejak zaman kuno Yerusalem adalah lahan orang Arab beranggapan orang Yahudi yang semestinya mengembalikan lahan Yerusalem.

Selain itu, ia juga menilai warga settlement yang merayakan pembebasan Yerusalem sebagai tindakan provokatif, mendukung pasukan militan Hamas dan organisasi politik Lebanon, Hizbullah yang melawan Israel.

 

 

Moishe Bar berasal dari keluarga Yahudi yang taat, biasanya bersama adiknya mempersiapkan hari Sabat. Dalam film tersebut, keluarganya yang tinggal di settlement, dapat ditelusuri kembali pendudukan militer Israel pada tahun 1967, dan pendudukan militer di Yerusalem, Tepi Barat dan lainnya.

Dalam konflik Israel-Palestina, Moishe Bar sangat bermusuhan dengan orang Arab, bahkan menginginkan orang Arab menghilang dari depan matanya, mengusung rekonstruksi tempat ibadah orang Yahudi, juga menolak berinteraksi dengan orang Arab.

Dia dan Mahmoud memiliki pandangan yang saling bertolak belakang, sedikit banyak memahami hubungan Israel-Palestina hingga saat ini sulit mencapai perdamaian nyata.

Shlomo orang Yahudi yang berkewarganegaraan AS seakan-akan terlihat sangat asing, sejak kecil mendengar ayahnya seorang Rabi membaca Alkitab, hingga ke Bait Yahudi untuk menjalani ibadah, ia mengikuti upacara dan festival keagamaan, namun ia menyatakan sikapnya yang "netral" terhadap masalah Israel-Palestina.

 

Bahkan ketika kedua bersaudara masuk ke dalam kamp pengungsi, bertatap muka dengan Faraj dan Sanabel, mereka dapat tertawa dan bersenang-senang seakan-akan melupakan kebencian yang tersembunyi dalam diri mereka.

 

Dengan bermain bersama dapat memecahkan kesalahpahaman dan kebencian dalam waktu singkat dan menciptakan kesempatan langka untuk saling pengertian dan komunikasi. Saat mengikuti kamera sutradara dan menyaksikan anak-anak Yahudi dan anak-anak Arab duduk di aula, menceritakan pengalaman penderitaan mereka masing-masing dan bertukar imajinasi serta pandangan tentang masa depan, seolah-olah kami melihat ada secercah harapan.

 

Kemudian apa yang terjadi? Lalu mereka “tumbuh dewasa”….

Kemduian, adanya gerakan, perjuangan, revolusi, yang sering dipertanyakan adalah , lalu bagaimana selanjutnya?.....

 

Beberapa menit terakhir film ini, secercah harapan mulai tampak memudar. Beberapa tahun kemudian, sutradara meninjau kembali beberapa karakter dalam cerita tersebut. Ketika beberapa anak tumbuh dewasa, penampilan dan suara mereka berubah, dan mereka semua bersikap pesimis atau lebih acuh terhadap masa depan konflik Israel-Palestina. Sama seperti setelah hari -hari di kamp pengungsian dilalui dengan bahagia di kamp pengungsi, Faraj berkata dengan penuh emosi: "Semua upaya akan sia-sia." Persahabatan yang terjalin dalam pertukaran antara anak-anak Yahudi dan anak-anak Arab harus menghadapi dendam sejarah, geopolitik, dan konflik agama dan budaya. .., bagaimanapun juga adalah hanyalah sementara belaka.

Setelah riak kecil ini, semua orang kembali ke dunianya masing-masing dan menjalani kehidupan yang terisolasi satu sama lain.

 

Dalam alur plot terakhir, mengambil gambar ban mobil terbakar yang berguling-guling di jalan, serta bayi baru lahir di ruang perawatan rumah sakit, seakan-akan menyiratkan bahwa dalam konflik yang sudah lama menjadi rutinitas sehari-hari. Dari generasi ke generasi Orang Yahudi dan Arab yang dilahirkan, tumbuh, mati bagaikan riak ombak laut yang terus berlanjut…

 

Penyiar

Komentar