
“Tidak! Jangan Sentuh Saya” Gerakan #MeToo Belajar Melindungi Diri
Baru-baru ini, gerakan #MeToo yang muncul di komunitas Taiwan, sebenarnya telah tersebar meluas di dunia internasional selama 6 tahun berjalan.
Pada 2017, media Amerika "The New York Times" dan "The New Yorker"melaporkan bahwa produser film terkenal Harvey Weinstein melakukan pemerkosaan, pelecehan seksual masa jangka panjang terhadap artis-artis disekelilingnya. Setelah kejadian terkuak, semakin banyak bintang film mengungkapkan bahwa dirinya pernah dilecehkan. Kejadian ini berdampak luas, tidak hanya di kalangan dunia entertainment, banyak diantaranya yang menjadi korban pelecehan seksual mulai mengungkapkan pengalaman pahit di media sosial dengan menggunakan hastag #MeToo, sebagai ekspresi berada pada pihak korban.
Tidak menghormati hak dasar tubuh orang lain, dapat menyebabkan luka berat pada orang lain, ada yang setelah menjadi korban pemerkosaan membuatnya tidak berani berinteraksi dekat atau intim dengan orang lain, menjadi trauma dan berdampak serius terhadap kehidupannya. Setelah gerakan #MeToo muncul, membuat orang-orang merasa tubuhnya perlu dihormati, berada dalam kondisi aman saat berinteraksi dengan orang lain, sementara beberapa situasi demikian, tidak hanya terjadi pada orang dewasa dalam lingkungan kerja, tetapi juga sering ditemui di sekolah, termasuk siswa/i SMP, yang seharusnya memahami cara melindungi tubuh sendiri.
(konten)
Kita mulai dengan cerita yang dialami sehari-hari: siswa ke7- SMP, Xiao Heng baru saja pulang dari sekolah, tas sekolah belum ditaruh, dengan tergesa-gesa berlari mencari ayahnya.
Xiao Heng, “Ayah, saya bilang sama Ayah, hari ini saya dan Xiao Hu dan kawan-kawan bermain basket bersama, kami menang pada setiap pertandingan.
Ayah, “Wah! Benarkah? Kamu benar-benar hebat! Xiao Heng ke mari, sini ayah peluk.”
Xiao Heng membuka lebar-lebar kedua tangannya dan membiarkan ayah memeluknya, pada saat ini, ayah mendapati ada luka pada lengan Xiao Heng.
Ayah, “Waduh!! Bagaimana kamu bisa terluka? Coba saya lihat, saya kasih obat yah.”
Xiao Heng, “Eh, kok bisa… barang kali saat saya terjatuh.”
Xiao Heng mengulurkan tangan dan membiarkan ayahnya melihat tangannya, ayah memegang lengan Xiao Heng, mengamati dengan seksama luka yang ada, dengan menggunakan jari menekan-nekan sekeliling luka, memastikan tidak ada infeksi pada luka, kemudian membantu mensterilkan dan mengolesi obat.
Dalam kondisi yang berbeda, apakah yang dirasakan akan berbeda?
Dari cerita di atas, setelah diketahui lalu apa yang dirasakan? Semisalkan kamu adalah Xiao Heng, apakah kami juga akan membiarkan ayah memelukmu, memegang lengan dan menggunakan jarinya untuk menekan kamu?
Jika iya, kalau begitu kita coba dengan eksperimen kecil ini.
Seandainya kamu menjadi Xiao Heng, akan tetapi ayah diganti menjadi “guru sekolah”, apakah kamu bersedia dipeluk atau juga akan mengulurkan tanganmu? Atau diganti dengan “teman sekolah”, “tetangga”, “atau kerabat yang jarang ditemui” atau “orang asing”?
Nah apakah kamu juga akan melihat-lihat situasi, karena bagi kamu, ada orang yang bisa memeluk kamu, ada yang boleh memegang tangan kamu; ada juga orang yang boleh memegang kamu jika dia membantu mengoleskan obat tetapi dia tidak boleh memeluk kamu, ada juga orang yang sama sekali tidak boleh memegang kamu
Jika orang tersebut, kamu merasa tidak mau disentuh oleh dia, akan tetapi dia terus ingin menyentuh kamu, memeluk kamu, apakah kamu merasa dia menyebalkan, apakah kamu akan marah?
Jangan biarkan tubuhmu sembarang disentuh orang lain!
Secara hukum, setiap orang berhak atas tubuhnya sendiri, ini merupakan salah satu hak dasar setiap orang, seperti apa perlakuan terhadap tubuh sendiri dapat kita putuskan sendiri. Misalkan, saat kamu ingin bernyanyi, maka kamu dapat bernyanyi, orang lain tidak boleh menutup mulut kamu dan melarangmu bernyanyi, ketika kamu tidak ingin dipeluk oleh orang, maka kamu bisa menolak orang memelukmu, orang lain tidak boleh memeluk kamu dengan sesuka hati.
Jika ada orang yang menutupi mulut kamu ketika kamu ingin bernyanyi, atau kamu tidak ingin dipeluk dan orang memeluk kamu sesukanya, kamu pasti akan marah, ini karena tubuh adalah kepunyaanmu, bukan orang lain, kamu bisa memutuskan apa yang dilakukan oleh tubuhmu sendiri, atau apa yang tidak ingin kamu lakukan. Tanpa seizin kamu orang lain tidak boleh sesuka hati menutupi mulut atau memeluk kamu, karena tindakan ini tidak menghormati kamu.
Saat bersamaan, kamu punya “hak atas tubuhmu sendiri”, orang lain juga punya hak atas tubuh mereka sendiri, pada saat kamu telah memutuskan apa yang akan kamu lakukan dengan tubuhmu, akan tetapi tidak menganggu orang lain, kamu juga tidak boleh berbuat sembarangan, karena juga tidak menghormati orang lain. Misalkan, kamu tidak ingin dipeluk orang lain, mungkin orang lain juga tidak ingin dipeluk, maka saat ini, tanpa seizin dari orang yang bersangkutan, kamu juga tidak boleh memeluk orang sesuka hati, karena ini melanggar hak dasar orang lain.
Jika melanggar hak dasar orang, apa dampaknya bagi kita?

Jangan sembarang menyentuh orang lain, ini termasuk tindakan pelecehan seksual!
Jika orang lain tidak setuju, kamu masih memeluk orang lain dengan sesuka hati, ada kemungkinan ini termasuk perilaku "pelecehan seksual"!
Menurut "UU Pencegahan Pelecehan Seksual", yang dimaksud dengan tindakan "pelecehan seksual" mengacu pada perilaku tertentu, bertentangan dengan kesediaan orang lain, atau tindakan yang berkaitan dengan "seks" atau "gender". Misalkan, orang lain sudah memberitahu bahwa dia tidak bersedia, kamu masih meminta agar dia bersedia untuk dipeluk, membuatnya merasa takut, ini termasuk tindakan “pelecehan seksual”.
Menurut "UU Pencegahan Pelecehan Seksual", denda tindakan pelecehan seksual paling tinggi mencapai NT$ 100.000,-. Karena bermaksud melakukan pelecehan seksual terhadap orang lain, mengambil kesempatan dalam kesempitan melakukan pelanggaran ini dengan mencium, memeluk atau menyentuh bagian tubuh pribadi orang lain, ini yang disebut dengan perilaku “pelecehan seksual”, kondisi serius akan menghadapi hukuman kurungan 2 tahun penjara. Pada tahun 2019, seorang guru bertemu dengan kepala sekolah di sekolah di Taitung. Guru tersebut menyapa kepala sekolah. Kepala sekolah berjalan ke arah guru dan dengan cepat mencubit bagian pinggang guru dengan tangannya berulang kali. Kemudian divonis oleh pengadilan bersalah atas tindakan pelecehan seksual.
Anda mungkin penasaran, kepala sekolah mencubit pinggang guru adalah pelecehan seksual, tapi bagaimana jika ayah Anda mencubit pinggang Anda? Bagaimana jika teman baik Anda mencubit pinggang Anda? Anda mungkin juga akan menyapa orang lain dan melakukan hal seperti ini dengan teman dekat kamu. Jika ini semua adalah pelecehan seksual, bukankah mudah untuk dihukum secara hukum?
Padahal, “Rincian Undang-Undang Pencegahan Pelecehan Seksual” mengatur bahwa penetapan pelecehan seksual harus mempertimbangkan latar belakang, lingkungan, dan hubungan antara setiap kejadian, dan juga memperhatikan apa yang diucapkan oleh pelaku pelecehan seksual dan perilaku seperti apa, dan apa pendapat orang yang menuduh orang lain melakukan pelecehan seksual dari kata-kata yang dilontarkan maupun perbuatannya.
Sederhananya, apakah yang dimaksud pelecehan seksual ? akan tergantung pada situasinya, bukan berarti selama seseorang mengatakan "ini pelecehan seksual", itu pasti akan melanggar hukum. Jika kamu relatif dekat dengan orang tertentu, karena hukum tentu saja akan mempertimbangkan hubunganmu.
Namun, sedekat apapun sebuah hubungan, bukan berarti kita bisa mengabaikan batasan fisik kita. Sama seperti saat suasana hati kamu sedang buruk, meskipun objeknya adalah orang tua Anda, Anda mungkin tidak ingin saling berpelukan. Jadi saat berinteraksi dengan orang lain, hal yang paling penting adalah mencari tahu apakah pihak lain tersebut kemungkinan besar akan menerima perilaku kamu, jika kamu tidak yakin, jangan lakukan perilaku tersebut. Setelah melakukan perilaku, kamu juga harus selalu memperhatikan apakah pihak lain dapat diterima. Ketika orang lain menyatakan tidak bersedia atau tidak setuju maka kamu wajib berhenti.
Batasan-batasan apa yang perlu diperhatikan untuk melindungi tubuh sendiri?
Setelah membaca artikel ini, kamu pasti akan semakin mengetahui bagaimana melindungi tubuh sendiri! Tapi mungkin kamu paham, orang lain belum tentu paham, ada orang yang terus memaksa memeluk kamu padahal kamu tidak mau dipeluk, atau kata-kata yang membuat kamu tersinggung, apa yang harus dilakukan?
Jika kamu di sekolah, ada orang di sekolah yang melakukan pelecehan seksual terhadap kamu, tidak peduli orang tersebut adalah guru atau teman sekolah, menurut "Undang-Undang Pendidikan Kesetaraan Gender", kamu bisa meminta pihak sekolah untuk melakukan investigasi, atau kamu juga bisa meminta wali hukum kamu (umumnya adalah ayah, ibu) mengajukan permohonan investigasi. Setelah pihak sekolah menerima permohonan tersebut, maka harus diserahkan kepada “Komite Pendidikan Kesetaraan Gender” dari sekolah untuk melakukan penyelidikan, apabila dalam penyelidikan ditemukan adanya pelecehan seksual maka akan diberikan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sekolah juga harus memberi kamu bantuan yang diperlukan, termasuk bantuan psikologis atau akademik.
Jika orang yang melakukan pelecehan seksual adalah pihak luar sekolah, maka menurut "Undang-Undang Pencegahan Pelecehan Seksual", maka dalam kurun waktu 1 tahun kamu dapat mengadu ke kantor polisi atau lembaga penanganan pelecehan seksual, polisi atau lembaga ini setelah menerima laporan maka akan menyelidiki dan menindaklanjuti. Apabila hasil penyelidikan ada tindakan pelecehan seksual maka diproses secara hukum dan diadili menurut “UU Pencegahan Pelecehan Seksual”
Untuk menjadi orang yang berhak atas tubuh kita sendiri, maka wajib menjaga baik hak atas tubuh sendiri, hari-hari biasa kita terlebih dahulu harus mengetahui bagian mana dari tubuh kita yang tidak dapat dilihat atau tidak boleh sembarangan disentuh oleh orang lain, dan kata-kata apa yang tidak boleh sembarang diucapkan kepada kamu, siapa yang melakukan tindakan ini dan membuat kamu merasa tidak nyaman. Jika ada orang yang melakukan hal ini, membuat kita merasa tidak nyaman, kita harus katakan kepada dia, kita merasa “tidak nyaman”, sampaikan kepada dia “tidak setuju” dia melakukan tindakan ini, meminta dia untuk berhenti melakukannya.
Tentu saja, melihat situasi yang ada, pada orang yang berbeda maka situasi akan berbeda. Misalkan kamu membolehkan ayahmu memegang lehermu, tetapi jika guru belum tentu boleh memegang.
Selain itu, jika kita tidak ingin orang lain melakukan hal yang membuat kita tidak nyaman, kita pun tidak boleh melakukan hal yang membuat orang lain merasa tidak nyaman. Di sekolah, ada kalanya menyaksikan teman sekelas saling memukul karena ada yang memulai, lalu yang dipukul merasa marah dan membalasnya, akhirnya berkelahi, kedua dari mereka dipanggil dan dimarahi guru. Jika kita tidak mengharapkan hasil yang tidak menyenangkan maka seharusnya sejak awal tidak melakukan tindakan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman.


RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
