History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Pekan Interaktif: 131224: Perjalanan Anis Sulalah dan Tim Technolbuilders Menuju Honorable Award CICHE

  • 13 December, 2024
Pekan Interaktif - RtiFM Online Jumat

Festival Imigran Internasional di Pingtung: Kuliner dan Fashion Show Tampilkan Cita Rasa Kampung Halaman

Shengli New Village Victory di Kota Pingtung kemarin menjadi tuan rumah Festival Imigran Internasional pada 8 Desember.  Acara ini tidak hanya menampilkan keunikan budaya berbagai negara, tetapi juga menyajikan hidangan lezat dari Mesir, Indonesia, Tiongkok, Prancis, dan lainnya. Bupati Pingtung, Chou Chun-mi (周春米) mengungkapkan bahwa jumlah Penduduk Imigran Baru di Kabupaten Pingtung telah mencapai 20 ribu orang, dan mereka bersama-sama membangun masa depan yang cerah di Taiwan.

Festival Imigran Internasional di Pingtung dibuka dengan tari samba yang penuh semangat, diikuti oleh fashion show kuliner dari berbagai negara. Salah satunya, Hemut dari Mesir, menyajikan hidangan ayam panggang dengan nasi panjang khas Timur Tengah. Sementara itu, Ma Yue-e dari Indonesia memamerkan keahlian olahan nasi yang menggugah selera. Pengunjung juga dapat mencicipi aneka ragam kuliner di lebih dari 30 stan bazar.

Penduduk Imigran Baru dari Mesir, Prancis, Jepang, dan negara lainnya berbagi  keunikan budaya mereka dan menceritakan kisah dari tanah air masing-masing.

Bupati Chou Chun-mi menambahkan bahwa jumlah Penduduk Imigran Baru di Taiwan kini telah melampaui 600 ribu orang. Baik Penduduk Imigran Baru, pekerja migran, maupun nelayan, semuanya turut berkontribusi bagi kemajuan Taiwan. Pemerintah Kabupaten Pingtung juga telah mendirikan Pusat Layanan Keluarga Penduduk Imigran Baru dan membuka berbagai kursus untuk mendukung pembelajaran mereka. Ia mengucapkan terima kasih atas keragaman budaya yang dibawa oleh para imigran, yang memberikan energi baru bagi masyarakat Taiwan.

屏東國際移民節,展售各國美味。
(記者葉永騫攝)

(foto: 葉永騫 LTN)


Penghargaan Desain Poster Hak Asasi Manusia: "Pendidikan Bukan Hak Istimewa, Tapi Hak" Karya Zhan Jia-yi Raih Emas Kategori Umum

Komisi Hak Asasi Manusia Nasional (NHRC) tahun ini mengadakan lomba desain poster hak asasi manusia bertema "Kesetaraan Tanpa Diskriminasi" untuk tahun 2024. Upacara penghargaan digelar pada 8 Desember, dengan total 1.365 karya dari berbagai negara. Warga Taiwan Zhan Jia-yi memenangkan medali emas kategori umum dengan poster berjudul "Pendidikan Bukan Hak Istimewa, Tapi Hak", yang menyampaikan pesan tentang hak pendidikan anak-anak. Untuk kategori pelajar, medali emas diraih oleh Hu Hai-fang melalui poster berjudul "Pernikahan", yang mengangkat perhatian pada hak-hak perempuan.

Acara penghargaan berlangsung di Ximen Red House, dengan dihadiri Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Chen Chu, Wakil Ketua NHRC Wang You-ling,dll,  serta perwakilan dari berbagai negara, termasuk Sifa Rahmania Ala dari KDEI Taipei.

Chen Chu mengungkapkan bahwa untuk pertama kalinya, Taiwan membuka pendaftaran internasional melalui kedutaan-kedutaan besarnya. Karya-karya berasal dari negara seperti Finlandia, Inggris, Portugal, hingga negara tetangga seperti Indonesia, Vietnam, dan Singapura. Bahkan, ada kontribusi dari Tiongkok dan Hong Kong, di mana kreator muda mengungkapkan interpretasi dan aspirasi mereka tentang hak asasi manusia. Kompetisi ini menggunakan kreativitas dan perspektif generasi muda untuk menyampaikan isu hak asasi manusia yang kompleks dan tidak populer dalam bentuk visual, dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang ketidaksetaraan dan pelanggaran hak asasi.

Chen Ju juga mengapresiasi semua kreator yang telah berkontribusi sejak awal kompetisi. Ia menyebut bahwa semua karya pemenang akan dipublikasikan di situs resmi Komisi Hak Asasi Manusia Nasional untuk mempromosikan pendidikan hak asasi manusia. Karya-karya ini juga akan diberikan lisensi gratis untuk digunakan dalam kegiatan amal, dengan syarat menyebutkan nama penciptanya agar bakat mereka lebih dikenal dunia.

Pada kompetisi ini, penghargaan dibagi menjadi dua kategori, yakni pelajar dan umum, dengan pemenang untuk masing-masing tiga peringkat teratas dan penghargaan istimewa. Pemenang medali emas kategori umum, Zhan Jiayi, menyampaikan melalui poster "Pendidikan Bukan Hak Istimewa, Tapi Hak" bahwa semua anak, tanpa memandang ras atau latar belakang, memiliki hak atas pendidikan yang setara. Desainnya menggunakan elemen simbolik seperti pensil, tingkatan kelas, dan siluet anak-anak untuk mengajak masyarakat peduli terhadap hak pendidikan anak.

Pemenang medali emas kategori pelajar, Hu Hai-fang, melalui poster "Pernikahan", mengangkat isu ketidaksetaraan perempuan dalam keluarga. Desainnya menggabungkan elemen rumah dengan perempuan yang berlutut membersihkan lantai, mengajak masyarakat lebih memperhatikan hak-hak perempuan.

Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada Liang Kai-qing dari Hong Kong yang meraih perunggu kategori pelajar, serta Sun Peng dari Tiongkok dan Yang Yin-tong dari Malaysia yang mendapatkan penghargaan istimewa kategori umum.

詹家宜以「教育不是特權,是權利」作品,拿下社會組金獎。(記者林哲遠攝)

(foto: 林哲遠 LTN)

FAKTA UNIK: Wayang Kulit Tiongkok, Nenek Moyang Film Tiongkok Modern

Wayang kulit tiongkok (Shadow Puppet) merupakan seni tradisional Tiongkok yang memiliki sejarah ribuan tahun. Menurut catatan sejarah, wayang kulit tiongkok bermula pada zaman Dinasti Han Barat, yang berasal dari "Sejarah Han". Ceritanya bermula ketika Kaisar Wu dari Han (漢武帝) sangat merindukan istrinya yang telah meninggal. Suatu hari, menterinya yang bernama Li Shao-weng (李少翁) melihat pantulan bayangan boneka di tanah yang tampak sangat hidup saat bepergian ke luar. Rupanya bayangan tersebut berasal dari seorang anak kecil bermain dengan boneka kain. Li Shao-weng mendapat ide brilian dan membuat bayangan istri Kaisar dengan memotong kain menjadi bentuk istri Kaisar, mewarnainya, dan menempelkannya pada kayu untuk mengontrol boneka. Ketika malam tiba, Li Shao-weng memasang tirai sekat, menyalakan lilin, dan mengundang Kaisar Wu untuk menonton di dalam tenda. Kaisar sangat senang dan menjadi sangat menyukai pertunjukan ini. Inilah asal usul pertunjukan wayang kulit tiongkok, yang kemudian berkembang menjadi pertunjukan rakyat yang digemari oleh masyarakat.

Pertunjukan wayang potehi Taiwan yang juga dikenal sebagai "wayang boneka", menggunakan boneka kayu yang dimasukkan ke tangan, dikendalikan dengan teknik tertentu, dan diiringi dengan musik panggung. Sementara itu, wayang kulit tiongkok (shadow puppet)—yang merupakan salah satu kesenian teater Tiongkok paling awal—menggunakan boneka kulit atau kertas yang diproyeksikan pada layar melalui cahaya, dilengkapi dengan musik dan nyanyian. Pertunjukan ini melibatkan beragam cerita, termasuk epik sejarah, kisah cinta, dan dongeng mitos, yang mengandung berbagai emosi dan nuansa, seperti kegembiraan dan kesedihan. Pada masa ketika televisi dan film belum berkembang, pertunjukan wayang kulit tiongkok menjadi hiburan yang populer di kalangan masyarakat, dan sering diakui sebagai "nenek moyang" atau "bapak" film di Tiongkok karena kemampuannya menggabungkan berbagai elemen seni dalam satu pertunjukan.

Chinese shadow puppetry

Wawancara

Hari ini, kita akan berbincang dengan seorang narasumber luar biasa, Anis Sulalah, pemimpin Tim Technolbuilders, yang bersama timnya berhasil meraih Honorable Award dalam ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Chinese Institute of Civil and Hydraulic Engineering (CICHE) di Taiwan.
Sebagai lulusan Universitas Sains dan Teknologi Mingshin, Anis dan timnya—yang terdiri dari Febri Wiratama, Salsadila Rizky Tabuchi, dan Fadhilah Rahma Miftahul Jannah—telah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional melalui karya dan dedikasi mereka di bidang teknik sipil.
Mari kita dengarkan cerita inspiratif dari Anis Sulalah tentang perjalanan timnya menuju prestasi gemilang ini, tantangan yang mereka hadapi, dan impian besar mereka ke depan.

Tim Technolbuilders dari Indonesia Berhasil Meraih Honorable Award CICHE

(foto: Anis Sulalah)

Penyiar

Komentar