History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Humantek 220525: Bagaimana MAFINDO Gunakan Teknologi untuk Berantas Hoaks?

  • 22 May, 2025
Humantek - RtiFM Online Kamis

Jixiang Electroplating Taiwan Ubah Limbah Jadi Barang Daur Ulang

Jixiang Electroplating merangkul masa depan yang lebih bersih dengan teknologi Napoglass dari Industrial Technology Research Institute (ITRI).

Teknologi ini mengubah limbah kaca LCD menjadi material nanopori yang mampu menangkap logam berat dari limbah cair elektroplating, dilansir dari CNA. Hasilnya adalah proses yang lebih ramah lingkungan, menghemat biaya, mengurangi konsumsi air, dan memungkinkan pemulihan logam berharga untuk digunakan kembali.

Industri elektroplating dulunya mencemari ladang dan saluran air di Kabupaten Changhua, Taiwan selatan, di mana pabrik-pabrik rumahan beroperasi tanpa kendali selama puluhan tahun. Setelah tuntutan pidana dan pemindahan ke Taman Industri Pesisir Changhua di Lukang, industri ini dipaksa untuk berbenah.

Ketua Jixiang Electroplating, Lin Chen-tung (林振東), mengenang perjuangan awal menghadapi regulasi dan meningkatnya biaya pengolahan limbah. Melihat masa depan dalam teknologi yang lebih bersih, ia menghubungi ITRI untuk meminta bantuan — yang kemudian memicu kemitraan dalam mengubah limbah kaca menjadi filter berkapasitas tinggi.

Tu Tzu-pang (杜子邦), manajer di Laboratorium Penelitian Material dan Kimia ITRI, menjelaskan bahwa Napoglass memiliki pori selebar hanya 10–20 nanometer. Muatan negatifnya menarik ion bermuatan positif seperti tembaga, nikel, dan timbal, menyaringnya dari limbah cair tanpa menghasilkan produk sampingan yang berbahaya.

Saat ini, Jixiang Electroplating mengoperasikan empat kolom filter industri yang menggunakan Napoglass generasi keenam, yang tidak lagi perlu diganti setiap 30 menit seperti pada uji coba awal. Sistem ini mampu bertahan selama berbulan-bulan, mengurangi biaya pengolahan air bulanan hingga hampir NT$100.000 (sekitar US$3.300), dan menghasilkan air yang cukup bersih untuk digunakan kembali atau dibuang.

Logam yang tersaring dapat diekstraksi dari filter dan digunakan kembali dalam produk-produk yang memiliki fungsi antibakteri dan penghilang bau. ITRI telah mengembangkan produk seperti insole penghilang bau dan filter udara, yang memiliki potensi komersial yang menjanjikan.

Lebih dari 10 perusahaan telah mengadopsi Napoglass, meskipun banyak yang masih berhati-hati karena keterbatasan spesifik di masing-masing pabrik. ITRI berharap tekanan akibat kekurangan air dan target keberlanjutan akan mendorong lebih banyak pihak untuk mengadopsinya, membawa Taiwan lebih dekat ke tujuan nol limbah.

NaPoGlass不僅低碳環保,主要的製造材料更來自廢玻璃,落實資源再利用。 

(foto: ITRI)

Taiwan Jadi Negara Paling Inovatif Kedua di Dunia

Taiwan menempati peringkat kedua sebagai negara paling inovatif di dunia menurut CEOWorld Magazine.

Pada hari Rabu, Kementerian Luar Negeri Taiwan membagikan daftar “Negara Paling Inovatif di Dunia 2025” dari majalah tersebut melalui akun X resminya. Kementerian menyatakan bahwa peringkat tinggi Taiwan merupakan “pengakuan atas masyarakat terbuka kami, kekuatan riset & pengembangan (R&D), serta ekosistem teknologi yang dinamis,” sekaligus menegaskan posisi Taiwan sebagai “mitra global yang tepercaya.”

Dari total 196 negara dalam daftar tersebut, Singapura menempati peringkat pertama dengan skor 97,81, hanya unggul satu perseratus poin dari Taiwan yang meraih 97,8. Di posisi ketiga adalah Korea Selatan dengan 97,68, diikuti oleh Swiss, Israel, Belanda, Amerika Serikat, Finlandia, Denmark, dan Jepang yang melengkapi 10 besar.

Di antara pesaing Taiwan di Asia Timur, Hong Kong berada di peringkat ke-17 dengan skor 93,45, dan Tiongkok di posisi ke-20 dengan 92,38. Untuk pesaing dari Asia Tenggara, Malaysia berada di posisi ke-29 dengan 90,29, disusul oleh Thailand di posisi ke-40 (86,96), Vietnam ke-46 (86,14), dan Indonesia di posisi ke-50 dengan skor 85,42 — mengamankan posisi terakhir dalam 50 besar dunia.

Yaman menempati posisi terbawah dengan skor 45,02. Tepat di atasnya adalah Timor Leste dengan 45,1, disusul oleh Palestina, Suriah, Tonga, Tuvalu, Turkmenistan, Suriname, Sudan, Pakistan, dan Sudan Selatan — semuanya masuk dalam 10 terbawah.

Indeks inovasi ini mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk jumlah aplikasi paten, nilai merek global, manufaktur berteknologi tinggi, jumlah peneliti per juta penduduk, investor R&D korporat, anggaran R&D pemerintah, serta kolaborasi antara universitas dan industri.

Aspek lain yang juga dinilai meliputi pekerjaan berbasis pengetahuan, pembiayaan startup, pendanaan modal ventura, kinerja lingkungan, akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi, kualitas regulasi, dan kebijakan ramah bisnis.

Indeks ini juga mempertimbangkan tingkat adopsi, penggunaan, dan produksi teknologi suatu negara. Meskipun skor Indeks Inovasi Dunia biasanya berkorelasi dengan PDB per kapita—yang cenderung menguntungkan negara-negara kaya—beberapa negara seperti India mampu melampaui ekspektasi berdasarkan tingkat pembangunan mereka.

(Foto: Canva)

Dewan Sains Nasional Beri Penghargaan pada 166 Peneliti

Dewan Sains dan Teknologi Nasional (National Science and Technology Council) beberapa waktu lalu memberikan penghargaan kepada 166 peneliti atas pencapaian mereka dalam bidang riset.

Menteri Dewan Sains dan Teknologi Nasional, Wu Cheng-wen (吳誠文), menghadiri upacara penghargaan tersebut dan menyampaikan bahwa penelitian-penelitian yang menang tahun ini mencakup bidang arsitektur, kedokteran, pertanian, dan aplikasi kecerdasan buatan (AI). Ia menambahkan bahwa dewan akan terus meningkatkan pendanaan penelitian serta memperkuat kolaborasi dengan industri dan mitra internasional untuk meningkatkan kualitas riset akademik di Taiwan, menurut laporan CNA.

Profesor Sung Yao-ting (宋曜廷) dari Departemen Psikologi Pendidikan dan Konseling, Universitas Nasional Taiwan Normal, dianugerahi penghargaan peneliti unggul. Ia mengembangkan alat bantu pendidikan yang menggunakan AI dan pemrosesan bahasa, serta memimpin tim untuk mendukung pembelajaran siswa di daerah pedesaan.

Sung mengatakan bahwa menurunnya minat membaca teks panjang dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis. Sebagai tanggapan, ia memimpin pengembangan SmartReading, yang ia sebut sebagai platform membaca pertama di dunia yang berfokus pada buku berbahasa Mandarin. Platform ini menilai kemampuan membaca pengguna dan menggunakan basis data serta AI untuk merekomendasikan buku yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka.

Profesor Chang Jo-shu (張嘉修) dari Departemen Teknik Kimia, Universitas Tunghai, juga menerima penghargaan peneliti unggul. Chang mengembangkan teknologi pengurangan karbon berbasis mikroalga dan mendorong penerapan ekonomi sirkular berbasis mikroalga.

Chang dan timnya bekerja sama dengan China Steel Corporation, CPC Corporation, dan Industrial Technology Research Institute untuk mengembangkan biofuel dan suplemen kesehatan dari mikroalga. Mereka juga menggunakan koleksi strain mikroalga untuk menyerap amonia dan fosfor dari air limbah. Riset ini memiliki aplikasi di sektor akuakultur, pupuk, bioenergi, dan pengolahan limbah.

Ou Yu-chen (歐昱辰), peneliti di Pusat Nasional untuk Penelitian Teknik Gempa Bumi, juga menerima penghargaan atas inovasinya dalam teknologi teknik sipil. Ia mengembangkan metode untuk menilai ketahanan gempa pada beton bertulang dan merancang kolom jembatan yang dapat secara otomatis kembali ke posisi semula setelah gempa.

Profesor Yang En-cheng (楊恩誠) dari Departemen Entomologi, Universitas Nasional Taiwan, bersama timnya mengembangkan metode penyerbukan baru untuk tanaman rumah kaca. Teknik ini menggantikan ratu lebah dalam sarang dengan feromon buatan. Riset ini telah diterapkan di lebih dari 250 lahan pertanian di Taiwan.

Asisten Profesor Hsu Cheng-chih (徐丞志) dari Departemen Kimia, Universitas Nasional Taiwan, dan timnya mengembangkan perangkat skrining kanker payudara yang menggabungkan teknologi AI. Alat ini dapat memberikan hasil dengan akurasi 90% dalam waktu kurang dari 10 menit.

國科會副主委林法正(第一排左3)頒獎予傑出研究獎獲獎人並與獲獎人合影。

(foto: NSTC)

Wawancara bersama Septiaji Eko Nugroho II

Septiaji Eko Nugroho merupakan salah satu pendiri dan tokoh sentral dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), sebuah organisasi nirlaba yang telah berkiprah secara aktif dalam melawan misinformasi dan disinformasi di Indonesia sejak 2016. Dengan pengalaman panjang dalam advokasi, edukasi publik, dan pengembangan teknologi cek fakta, Pak Eko atau yang lebih akrab disapa Pak Zec kini hadir di Taiwan untuk ketiga kalinya dalam forum internasional media. Setelah pekan lalu berbagi pengalaman menghadiri Taipei Fact-Checking Forum, Pak Zec juga akan menjelaskan bagaimana Mafindo memerangi hoaks di Indonesia! 

Penyiar

Komentar