Metro Taipei Tingkatkan Kecepatan Eskalator
Metro Taipei mengumumkan bahwa mereka akan meningkatkan kecepatan beberapa eskalator di stasiun-stasiun dengan lalu lintas tinggi mulai hari Selasa guna meningkatkan efisiensi.
Untuk meningkatkan kapasitas eskalator dan mengurangi waktu tunggu penumpang, kecepatan 47 eskalator yang mengarah ke atas di 29 stasiun utama akan disesuaikan secara bertahap. Kecepatan akan ditingkatkan dari 0,5 meter per detik menjadi 0,65 m/s, yang akan menambah kapasitas tiap eskalator hingga 22 penumpang tambahan per menit, menurut CNA.
Metro Taipei mencatat bahwa, berdasarkan tolok ukur internasional, kecepatan maksimum eskalator di sistem metro seperti Singapura dan Hong Kong mencapai sekitar 0,75 m/s.
Pada tahun 2017, uji coba penyesuaian kecepatan eskalator dilakukan di 11 stasiun transit untuk mengurangi antrean panjang. Kecepatan ditingkatkan dari 0,5 m/s menjadi 0,65 m/s, yang secara efektif mengurangi waktu tunggu penumpang tanpa peningkatan signifikan dalam jumlah cedera, menurut CTEE.
Tanda peringatan akan dipasang di dekat 47 eskalator tersebut untuk mengingatkan penumpang mengenai kecepatan yang lebih tinggi dan menyarankan mereka untuk memegang pegangan serta berdiri dengan mantap di anak tangga.
Metro Taipei juga mengimbau penumpang untuk berdiri di kedua sisi eskalator dan menghindari penggunaan ponsel saat menaikinya. Orang tua disarankan untuk mengawasi anak-anak mereka, sementara penumpang yang membawa barang berat, merasa tidak enak badan, atau lanjut usia dianjurkan untuk menggunakan lift.
Ke-29 stasiun yang terdampak perubahan ini antara lain: Stasiun Utama Taipei, Stasiun Zhongxiao Fuxing, Stasiun Nanjing Fuxing, Stasiun Daan, Stasiun Zhongxiao Xinsheng, Stasiun Ximen, Stasiun Memorial Chiang Kai-shek, Stasiun Dongmen, Stasiun Zhongxiao Dunhua, Stasiun City Hall, Stasiun Nangang, Stasiun Haishan, Stasiun Fuzhong, Stasiun Xinpu, Stasiun Songshan, Stasiun Xiangshan, Stasiun Dapinglin, Stasiun Kuil Xingtian, Stasiun Sekolah Dasar Zhongshan, Stasiun Daqiaotou, Stasiun Jingan, Stasiun Pasar Yongan, Stasiun Dingxi, Stasiun Sekolah Dasar Sanchong, Stasiun Jembatan Taipei, Stasiun Luzhou, Stasiun SMP Zhongshan, Stasiun Gedung Teknologi, dan Stasiun Dazhi.
Metro Taipei mengoperasikan 1.190 eskalator di seluruh sistemnya. Pihak berwenang akan memantau penggunaan dan arus penumpang di eskalator lainnya untuk menentukan apakah penyesuaian kecepatan tambahan diperlukan.

(foto: Canva)
80% Pengguna Sepeda di Taipei Tidak Suka Pakai Helm
Badan Promosi Kesehatan (Health Promotion Administration) pada hari Minggu menyatakan bahwa 80,4% individu berusia 12 tahun ke atas di Taiwan tidak memakai helm saat bersepeda.
Badan tersebut menyebutkan bahwa bersepeda sebagai moda transportasi semakin populer di Taiwan. Dari sekitar 5,11 juta pesepeda di seluruh negeri, hanya sekitar 11,7% yang secara konsisten memakai helm, menurut CNA.
Peraturan keselamatan jalan di Taiwan saat ini tidak mewajibkan penggunaan helm bagi pesepeda. Sebagian besar masyarakat belum membiasakan diri untuk memakai helm, dan kecelakaan sepeda meningkat sebesar 31% dibandingkan sembilan tahun lalu, demikian menurut badan tersebut.
Mantan Menteri Kesehatan Chiu Wen-ta (邱文達) mengatakan bahwa sebagian besar pesepeda di Taiwan adalah anak-anak dan remaja. Ia mencatat bahwa mereka yang tidak mengenakan helm memiliki tingkat kematian tiga kali lebih tinggi dalam kecelakaan sepeda dibandingkan mereka yang memakai helm, dengan cedera kepala menyumbang 60% dari total kematian.
Rata-rata terjadi lebih dari 5.000 kecelakaan sepeda setiap tahunnya, dengan 2.000 hingga 3.000 kasus melibatkan cedera kepala, kata Chiu. Jumlah korban meninggal mencapai sekitar 300 per tahun, menyumbang 5% hingga 8% dari seluruh kecelakaan lalu lintas.
Jumlah korban meninggal terkait sepeda di Taiwan mencapai 229 pada tahun 2023. Kota Taichung mencatat 3.484 kasus cedera dan kematian terkait sepeda pada tahun tersebut, tertinggi di antara enam kota besar, diikuti oleh Tainan dan Kaohsiung.
Menurut WHO, cedera lalu lintas jalan merupakan penyebab utama kematian bagi anak-anak dan pesepeda muda berusia lima hingga 29 tahun, dengan sekitar 1,19 juta kematian setiap tahunnya di seluruh dunia.
Chiu menyarankan penerapan undang-undang wajib helm bagi pesepeda, dengan ketentuan bahwa asuransi tidak akan menanggung kecelakaan bagi mereka yang tidak memakai helm. Ia mengatakan kebijakan ini dapat diterapkan secara bertahap, dimulai dengan sosialisasi di sekolah dan subsidi untuk pembelian helm sepeda.
Sebagian besar pengguna sepeda umum merasa tidak praktis membawa helm. Chiu juga menyarankan agar Taiwan mempertimbangkan mesin penyewaan helm otomatis seperti di Jepang, atau memperkenalkan helm lipat dengan harga antara NT$2.000 (sekitar Rp 1 juta) hingga NT$4.000 per buah.

(foto: Canva)
Aplikasi Parenting dari Jepang Ini Akan Meneleponkan Iblis untuk Memarahi Anak yang Nakal
Saat anak-anak bertingkah seperti setan, aplikasi Oni kara Denwa siap mengirim iblis untuk menegur mereka.
Mengasuh anak memang tidak mudah—dan hal ini berlaku di seluruh dunia. Jika para orang tua di negara berbahasa Inggris menghadapi fase terrible twos (dua tahun yang mengerikan), maka orang tua di Jepang mengenalnya sebagai ma no nisai—yang secara harfiah berarti “usia dua tahun iblis”—menandakan bahwa bahkan di Jepang, anak-anak kadang bisa begitu nakal dan susah diatur hingga orang tuanya bertanya-tanya apakah mereka sedang mengasuh anak atau keturunan makhluk gaib.
Namun kini, para orang tua di Jepang yang sudah kehabisan akal bisa memanggil bantuan… dari seorang iblis. Oni kara Denwa, yang berarti “Panggilan Telepon dari Iblis”, adalah aplikasi parenting buatan perusahaan Tokyo, Media Active. Lewat aplikasi ini, orang tua bisa menerima panggilan dari seorang iblis yang akan memarahi anak mereka karena perilaku buruk.
Meski aplikasi ini sudah lama tersedia, Oni kara Denwa baru-baru ini mendapat pembaruan berupa elemen visual yang lebih menakutkan—kalau-kalau konsep "iblis sungguhan yang marah" belum cukup membuat anak-anak takut.
Pembaruan ini merupakan hasil kolaborasi dengan komedian Jepang Kintalo, yang dikenal dengan ekspresi wajahnya yang ekstrem. Kintalo merekam lima pesan berbeda untuk Oni kara Denwa, yang semuanya ditampilkan sebagai panggilan masuk agar terlihat lebih meyakinkan saat orang tua menunjukkan layar ponsel dan membiarkan anak "mengangkat" telepon tersebut.
Lima skenario teguran yang tersedia:
● Anak yang tidak mau mendengarkan orang tua
● Anak yang tidak mau tidur
● Anak yang tidak mau makan
● Anak yang bertengkar dengan saudara
● Anak yang tidak menepati janji
Memang ada argumen bahwa Oni kara Denwa berada di batas antara hiburan menegangkan dan potensi tekanan psikologis. Penilaian tentang apakah ini cara yang tepat tentu kembali kepada masing-masing orang tua. Namun, perlu diketahui bahwa frasa “Oni tidak suka anak-anak yang nakal!” sudah sejak lama menjadi bagian dari cerita rakyat Jepang. Meski terlihat menyeramkan, dalam legenda, oni sebenarnya bisa diusir hanya dengan melemparinya kacang. Karakter oni versi Kintalo memang cukup menyeramkan, tapi anak-anak yang mengenali wajah atau suara sang komedian bisa saja malah merasa lucu ketimbang takut.

(foto: Japan Today)
Universitas Tatung Teliti AI untuk Deteksi Pembuangan Sampah Ilegal
Sebuah tim peneliti dari Universitas Tatung mengembangkan sistem berbasis AI yang dapat mendeteksi pembuangan sampah ilegal.
Menurut Dinas Perlindungan Lingkungan Taipei, mereka yang tertangkap membuang sampah rumah tangga di tempat sampah umum dapat dikenai denda antara NT$1.200 (sekitar US$36) hingga NT$6.000 sesuai dengan Undang-Undang Pembuangan Limbah. Universitas tersebut menyatakan dalam siaran pers pada hari Rabu bahwa para petugas lingkungan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton rekaman kamera pengawas demi menangkap pelanggaran, yang menyebabkan kelelahan dan ketegangan mata.
Profesor Hsieh Chen-chiung (謝禎冏) mengatakan bahwa sistem ini mengotomatiskan proses tersebut, sehingga secara signifikan mengurangi beban kerja petugas. AI ini menyusun pelanggaran ke dalam file Excel yang berisi cap waktu dan tautan video, memungkinkan petugas meninjau insiden dengan cepat.
Sejak peluncuran uji coba pada Januari, sistem ini telah mencapai tingkat akurasi sebesar 88% dan mampu mengenali kantong sampah, kotak kardus, hingga plat nomor kendaraan, menurut laporan CNA. Ketika program ini secara resmi diluncurkan akhir bulan ini, tingkat akurasinya diperkirakan mencapai 95% dan pemrosesannya akan menjadi lebih cepat.
Hsieh menjelaskan bahwa model AI ini, melalui proses pelatihan dan pembelajaran, juga dapat diterapkan dalam inspeksi industri dan pengenalan objek. Sistem ini tidak hanya mampu melakukan deteksi target dengan akurat, tetapi juga memberikan respons waktu nyata (real-time).
Ia menambahkan bahwa sistem ini dapat diadaptasi untuk mengidentifikasi kecelakaan lalu lintas dan perampokan, sehingga dapat membantu mempercepat waktu tanggap.

(foto: Universitas Tatung via CNA)
SOSOK: NAI-NI CHEN
Nai-Ni Chen (31 Oktober 1959 – 12 Desember 2021) adalah seorang penari dan koreografer Taiwan-Amerika. Ia mendapat pelatihan dalam tari tradisional Tiongkok dan Taiwan sebelum bermigrasi ke Amerika Serikat pada awal 1980-an. Ia adalah pendiri Nai-Ni Chen Dance Company, sebuah kelompok tari yang memadukan tarian tradisional dan kontemporer.
Chen lahir di Keelung, Taiwan, pada 31 Oktober 1959, dan mulai menari sejak usia empat tahun. Ia belajar tari modern, jazz, dan seni bela diri Tiongkok di sekolah menengah seni pertunjukan; sebagai siswa, ia bergabung dengan Cloud Gate Dance Theater of Taiwan dan menari bersama kelompok tersebut selama tiga tahun.
Pada tahun 1982, ia pindah ke New York untuk melanjutkan studi di New York University, di mana ia mempelajari koreografi dan pendidikan. Dalam sebuah wawancara tahun 2017, ia mengatakan: “Saya sangat antusias dengan dunia tari di New York, sehingga saya memutuskan untuk tetap tinggal daripada kembali mengajar di Taiwan.”
Chen tenggelam saat sedang berlibur di Hawaii pada 12 Desember 2021. Ia dan suaminya, Andrew N. Chiang, memiliki seorang putri bernama Sylvia.

(foto: FB Nai-Ni Chen Dance Company)
Nai-Ni Chen Dance Company
Chen dan suaminya, Andrew N. Chiang, mendirikan Nai-Ni Chen Dance Company pada tahun 1988 di Fort Lee, New Jersey, tempat mereka tinggal bersama keluarga. Selain karya-karya orisinal Chen, yang mencerminkan pengaruh lintas budaya yang luas, kelompok tari ini juga menampilkan tarian kipas dan tarian pita tradisional. Pertunjukan mereka sering kali menampilkan perpaduan antara tari tradisional Tiongkok dan unsur kontemporer. Mereka mulai melakukan tur pada awal 1990-an, awalnya di Pantai Timur Amerika Serikat, dan kemudian secara internasional. Kelompok tari ini bersifat multirasial dan multinasional. Tarian-tarian Chen banyak terinspirasi dari alam, yang ia gambarkan sebagai bagian dari “cara dan filosofi Tiongkok”, dengan penekanan pada hubungan dan harmoni antara manusia dan alam.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 

