History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Humantek 031425: Pendiri Din Tai Fung, Yang Bing-Yi

  • 13 March, 2025
Humantek - RtiFM Online Kamis

Pengusaha Taiwan Buka Pusat Pelatihan Kejuruan untuk Bantu Masyarakat Indonesia

Terletak di kawasan industri Kabupaten Tangerang, Formosa Teknologi Sentral didirikan seorang pengusaha Taiwan untuk mengatasi masalah dalam merekrut tenaga kerja terampil. Kini, pusat pelatihan kejuruan tersebut telah membantu ratusan pelajar Indonesia mengembangkan kemampuan teknis mereka.

Kao Ying-chang (高應昌), pendiri Formosa Teknologi Sentral, mengatakan bahwa ia terdorong mendirikan pusat tersebut hampir 10 tahun lalu karena kesenjangan teknologi dan kebutuhan tenaga kerja terampil industri Indonesia serta permintaan banyak rekan seprofesinya untuk membantu melatih karyawan mereka.
"Karena semua peralatan [di pabrik Indonesia] berasal dari Taiwan, sementara tenaga kerja di Indonesia belum memiliki keahlian yang sesuai, saya memutuskan untuk mendirikan sekolah sendiri agar bisa melatih para pelajar," kata pengusaha Taiwan yang telah malang melintang di Indonesia selama 30 tahun itu kepada CNA.

Di Formosa Teknologi Sentral terdapat berbagai mesin bubut dan peralatan kontrol otomatis yang didatangkan dari Taiwan. Kao telah menginvestasikan miliar rupiah untuk membangun bengkel praktik bagi pelajar Indonesia agar mereka dapat belajar secara langsung.

Pelajar yang telah lulus, kata Kao, ia juga bantu carikan pekerjaan, di mana mereka memiliki peluang untuk bekerja di perusahaan Taiwan atau Jepang.

Dalam beberapa tahun terakhir, Formosa Teknologi Sentral telah bekerja sama dengan berbagai sekolah menengah kejuruan di Indonesia dengan menyediakan peralatan secara gratis bagi para pelajar.

Selain itu, pusat tersebut juga bermitra dengan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) untuk mendirikan kelas khusus, di mana teori diajarkan dosen Indonesia sedangkan pelatihan mesin diberikan instruktur dari Taiwan.

Dosen PNJ, Vina Nanda, mengatakan bahwa kerja sama dengan Formosa Teknologi Sentral memberikan kesempatan bagi para pelajar untuk menggunakan peralatan modern, memahami cara pengoperasian berbagai jenis mesin, serta menerapkan teori dalam praktik di lingkungan industri.

"[Formosa Teknologi Sentral] sangat penting bagi siswa, karena sekolah-sekolah di Indonesia mungkin tidak dapat menyediakan peralatan yang memadai, mengingat teknologi terus berkembang. Dengan adanya peralatan terbaru, siswa dapat langsung berlatih menggunakan teknologi terkini," ujarnya kepada CNA.

Menurutnya, pusat tersebut sangat penting karena sejumlah sekolah di Indonesia mungkin tidak dapat menyediakan peralatan yang dapat mengikuti perkembangan teknologi. Dengan adanya peralatan terbaru, ujarnya, para pelajar dapat langsung berlatih menggunakan teknologi terkini.

Salah satu mahasiswa, Arya Yoga, mengatakan bahwa ia sangat antusias karena bisa belajar mengoperasikan mesin bubut dan peralatan kontrol otomatis. "Alatnya baru-baru semua (di Formosa Teknologi Sentral), jadi di sana (sekolah) itu alatnya masih agak-agak lama semua," ujarnya.

Alya Anastasia, seorang mahasiswi, menyampaikan kepada CNA bahwa di sekolah, mereka harus bergantian menggunakan peralatan, berbeda dengan di pusat ini, "Jadi lebih enak di sini."

Mahasiswa lainnya, Nadia Fawwas Abiyyu mengaku terkesan dengan peralatan baru yang ada di pusat pelatihan ini. Dibandingkan di sekolah, "Kalau di sini kita mesin-mesinnya lumayan baru dan lebih mudah juga dioperasikan," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan cita-citanya untuk menjadi seorang teknisi di masa depan dan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Taiwan yang telah berkontribusi dalam melatih tenaga kerja Indonesia.

Sebagai pengusaha yang bergerak di bidang penjualan mesin, Kao awalnya terjun ke dunia pendidikan kejuruan di Indonesia secara kebetulan. Kini, selain terus mengembangkan bisnisnya, ia juga telah menyusun rencana jangka panjang bagi Formosa Teknologi Sentral.

Dalam wawancaranya dengan CNA, Kao mengungkapkan bahwa pada awalnya, pusat pelatihan ini didirikan melalui proyek kerja sama antara pemerintah Taiwan dan Indonesia.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, model operasionalnya berkembang melalui kemitraan dengan institusi pendidikan di Indonesia dalam bentuk kelas khusus, ujarnya.

Kini, Kao berencana untuk mengajukan izin kepada pemerintah Indonesia agar Formosa Teknologi Sentral dapat ditingkatkan menjadi sekolah vokasi resmi dengan program diploma tiga tahun.

Dengan demikian, keahlian teknik kejuruan Taiwan dapat terus berkembang di Indonesia, sementara kerja sama antara kedua negara semakin mendalam, pungkasnya.

Pelajar Indonesia berkumpul di Formosa Teknologi Sentral, Tangerang. (Sumber Foto : CNA, 7 Maret 2025)

(foto: CNA)

 

TSMC Rekrut 8.000 Karyawan di Taiwan

Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) berencana merekrut 8.000 karyawan baru di Taiwan sepanjang tahun ini, menurut laporan pada Sabtu lalu.

Produsen chip komputer global ini mengumumkan rencananya saat berpartisipasi dalam bursa kerja di kampus Universitas Nasional Taiwan (NTU) di Taipei. Namun, acara tersebut hanyalah yang pertama dari 19 bursa kerja yang akan digelar di berbagai universitas di seluruh negeri selama bulan mendatang, dilansir dari CNA.

TSMC menawarkan gaji sebesar NT$2,2 juta (Rp1,1 miliar) per tahun bagi insinyur dengan gelar magister. Selain bursa kerja, perusahaan juga berencana mengadakan lima sesi informasi daring.

Meskipun sebagian besar perhatian tertuju pada lulusan dari bidang studi seperti elektronika, akuntansi, dan manajemen bisnis, mahasiswa dari jurusan bahasa seperti bahasa Inggris dan Jepang juga memiliki peluang berkarier di perusahaan ini. Hal ini disebabkan oleh ekspansi global TSMC, dengan pembangunan pabrik baru di AS, Jepang, dan Jerman.

Para rekrutan akan bekerja di berbagai pabrik TSMC di Taiwan, termasuk di Hsinchu, Taoyuan, Miaoli, Taichung, Chiayi, Tainan, dan Kaohsiung. Selain itu, TSMC juga memiliki program khusus yang mendorong mahasiswa untuk mendaftar magang musim panas sebelum 5 Mei.

Program magang ini bertujuan untuk memperkenalkan mahasiswa pada lingkungan kerja di TSMC serta memberikan pengalaman praktis yang dapat mempersiapkan mereka untuk pekerjaan penuh waktu di masa depan.

TSMC and MediaTek Demonstrate First Integrated PMU and PA for Wireless  Connectivity Products on N6RF+ Process Technology

(foto: TSMC)

CEO CuboAi Bunuh CTO di Kantor Taipei

CEO Yunyun Technology dan CuboAi sedang diselidiki terkait kematian kepala petugas teknologi (CTO) perusahaan tersebut.

Peristiwa ini terjadi di kantor perusahaan yang terletak di Distrik Xinyi, Taipei, pada Sabtu sore (8/3), saat CEO berusia 52 tahun, Thomas Tseng (曾志新), sedang merundingkan pengunduran diri CTO yang berusia 51 tahun, bernama Liang (梁), dengan direktur sumber daya manusia perusahaan, dilansir dari laporan UDN. Setelah diduga menusuk Liang, Thomas berusaha untuk bunuh diri dan mengalami luka kritis.

Hingga Minggu (9/3), Thomas masih dalam kondisi kritis di rumah sakit Taipei di bawah pengawasan polisi. Pihak berwenang belum dapat menginterogasinya, dilansir dari CTI News.

Beberapa hari sebelum serangan tersebut, Liang membagikan surat pengunduran dirinya kepada karyawan. Dalam surat tersebut, Liang juga mengkritik perilaku dan kepemimpinan Tseng. Tseng meminta surat itu dihapus dari papan pesan online perusahaan, yang dilaporkan memicu ketegangan.

Pada akhir pertemuan pengunduran diri, Tseng bergerak menuju pintu seolah ingin pergi, lalu tiba-tiba mengeluarkan pisau tersembunyi dan menyerang Liang.

Direktur HR berteriak meminta bantuan saat rekan-rekan mereka bergegas masuk. Sayangnya, Liang sudah kehilangan tanda kehidupan, dan Tseng telah menusuk dirinya sendiri sebelum mereka dapat campur tangan.

CuboAi, sebuah startup teknologi Taiwan yang sukses, dikenal dengan monitor bayi pintar yang memenangkan berbagai penghargaan. Perusahaan ini telah menjadi merek monitor bayi terlaris di Jepang dalam beberapa tahun terakhir.
 

Privacy Policy (app) – CuboAi

(foto: CuboAi)

 

Perusahaan Taiwan Bersaing Rekrut Lulusan Baru di Bursa Kerja NTU

Universitas Nasional Taiwan (NTU) menyelenggarakan bursa kerja Vision 2025 pada hari Sabtu (8/3), yang menarik lebih dari 330 perusahaan dan 450 stan.

Menurut siaran pers, acara ini merupakan acara jaringan industri-akademia terbesar di Taiwan. Wakil Rektor NTU untuk Urusan Mahasiswa Chu Shi-wei (朱士維) mengatakan hampir 150 perusahaan menawarkan posisi terkait AI tahun ini, dan bahkan industri tradisional juga mencari talenta untuk peran AI, dilansir dari UDN.

Banyak profesional internasional yang datang ke Taiwan dalam beberapa tahun terakhir, tambahnya. Saat ini, 20% mahasiswa NTU adalah mahasiswa internasional. Selain itu, sekitar 170 perusahaan menawarkan kesempatan kerja bagi mahasiswa internasional dan mahasiswa keturunan Tionghoa dari luar negeri untuk tetap bekerja di Taiwan.

Cathay Financial Holdings dan lima anak perusahaannya merekrut total 7.500 karyawan, dilansir dari CNA. Perusahaan ini melaporkan lowongan pekerjaan di bidang data, komputasi awan, dan rekayasa perangkat lunak, dengan permintaan lebih dari 800 talenta di bidang teknologi digital.

Fubon Bank dan anak perusahaannya akan merekrut 6.700 orang tahun ini, sementara CTBC Financial bertujuan untuk merekrut lebih dari 7.500 orang tahun ini, dengan rencana untuk merekrut lebih dari 60 peserta pelatihan manajemen.

Taishin Financial Holdings menawarkan lebih dari 3.500 lowongan pekerjaan tahun ini, mencakup keuangan digital, pengembangan teknologi, pemasaran, dan manajemen.

Perusahaan pembuat chip terbesar di dunia, TSMC, juga turut ambil bagian dalam acara ini. Perusahaan ini berencana merekrut sekitar 8.000 karyawan di Taiwan tahun ini, termasuk insinyur dan teknisi, sebuah peningkatan lebih dari 2.000 posisi dibandingkan tahun lalu.

NTU menyatakan bahwa AI dan teknologi digital telah mengubah fokus perusahaan dari keahlian spesialis menjadi integrasi lintas disiplin. Perusahaan tidak hanya mencari insinyur AI, tetapi juga talenta yang dapat menerapkan teknologi AI di berbagai bidang seperti mode, kesehatan, manufaktur, dan keuangan.

匯聚頂尖企業與產業趨勢,全台規模最大、最具前瞻性的產學交流平台「2025台大校園徵才博覽會」上午登場,參與的企業攤位、工作人員與年輕學子擠滿台大椰林大道。記者侯永全/攝影

(foto: 侯永全 UDN)

 

 

Bank Tenaga Kerja: Lebih dari 30.000 Pekerja Asing Cari Pekerjaan di Taiwan

Bank Tenaga Kerja 104 mengadakan acara Outlook Tahun Baru Imlek hari ini, dengan hampir 60.000 perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan tahun ini, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Tenaga kerja asing telah menjadi solusi kekurangan pekerja bagi perusahaan, dengan 40% perusahaan pada tahun 2024 merekrut pekerja asing. Setiap bulan terdapat rata-rata 25 ribu kesempatan kerja, yang mengalami kenaikan 9% dibandingkan tahun lalu. Untuk membantu pencari kerja menemukan pekerjaan yang tepat, 104 juga meluncurkan tiga alat AI utama.

CEO Platform IT dan Layanan Konsultasi 104, Hua Zi-xin (花梓馨) mengamati bahwa pada 2025, pasar tenaga kerja masih mengalami krisis pekerja. Saat ini, hampir 60 ribu perusahaan di Taiwan membuka lowongan pekerjaan, mencatatkan rekor tertinggi. Rasio penawaran dan permintaan mencapai 0,5, yang berarti setiap pekerjaan diambil oleh 0,5 pencari kerja; sedangkan rasio pencari kerja terhadap lowongan adalah 2,1, yang berarti setiap pencari kerja memiliki rata-rata 2,1 pilihan pekerjaan.

Hua Zi-xin juga mencatat bahwa beberapa perusahaan mungkin akan terus meningkatkan gaji untuk merekrut tenaga kerja.

Dewan Pembangunan Nasional terus merevisi proyeksi kekurangan tenaga kerja, dan diperkirakan pada tahun 2030, Taiwan akan kekurangan 480.000 tenaga kerja. CEO 104 Chen Song-rong (陳嵩榮) mengungkapkan bahwa pekerja asing telah menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja. Pada 2024, 40% perusahaan di Taiwan membuka lowongan untuk pekerja asing. Setiap bulan, ada rata-rata 250 ribu kesempatan kerja yang ditujukan untuk pekerja asing, yang mengalami kenaikan 9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada saat yang sama, lebih dari 30 ribu pekerja asing sedang mencari pekerjaan di Taiwan, meningkat 4% dibandingkan tahun lalu. Chen Song-rong menyebutkan bahwa pekerja asing yang datang ke Taiwan sebagian besar berasal dari negara-negara Asia Tenggara, dengan Malaysia menyumbang 22%, Vietnam 14%, dan Indonesia 13%, dengan proporsi Vietnam dan Indonesia yang terus meningkat. Lokasi geografis yang dekat, serta gaji dan tunjangan yang menarik menjadi alasan utama para pekerja asing tertarik bekerja di Taiwan.

Pemerintah Taiwan telah melonggarkan kebijakan perekrutan pekerja asing untuk perusahaan dengan modal lebih dari NT$5 juta(Rp2,5 miliar) atau pendapatan lebih dari NT$10 juta (Rp5 miliar) untuk membantu perusahaan mengatasi tekanan kekurangan pekerja. Chen Song-rong mengungkapkan bahwa saat ini, ada 26 ribu perusahaan yang membuka kesempatan untuk pekerja asing, dan sekitar 18 ribu perusahaan yang sebelumnya pernah mempekerjakan pekerja asing.

Lima sektor industri dengan kesempatan kerja terbanyak bagi pekerja asing adalah industri akomodasi dan layanan makanan (75 ribu lowongan, naik 4%), industri grosir, ritel, dan penjualan langsung (39 ribu lowongan, naik 10%), serta industri elektronik, perangkat lunak, dan semikonduktor (26 ribu lowongan, naik 14%). Di tiga sektor teratas, dua di antaranya adalah industri konsumsi masyarakat.

 

 

Yang Bing-Yi: Pendiri Din Tai Fung

Yang Bing-Yi adalah seorang pengusaha restoran asal Taiwan dan pendiri jaringan restoran Din Tai Fung.

Yang Bing-Yi lahir di Yuanping, provinsi Shanxi, Tiongkok utara, pada 23 Maret 1927. Saat ia berusia 13 tahun, kota tempat tinggalnya diduduki oleh Jepang selama Perang Kedua Jepang-Tiongkok. Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945, ia pergi ke pusat kabupaten untuk melanjutkan pendidikannya.

Pada usia 19 tahun, dengan bantuan seorang mak comblang, ia menikah dengan istri pertamanya. Namun, ketika Perang Saudara Tiongkok pecah, Yang mulai khawatir akan keselamatannya. Pada usia 21 tahun, ia mengambil cuti dari dinas militer dan pindah ke Taiwan pada tahun 1948 dengan dalih melanjutkan studi, serta berusaha menemui pamannya yang sudah tinggal di sana.

Pada musim panas tahun 1948, ia berlayar dengan kapal Hualien Ferry (花蓮輪) menuju Pelabuhan Keelung. Setelah menempuh perjalanan melintasi pegunungan dan sungai, ia akhirnya bertemu dengan pamannya. Istri Shanghai dari pamannya mengenalkannya kepada pemilik perusahaan minyak Heng Tai Fung (恆泰豐), yang bermarga Wang.

Wang mempekerjakannya sebagai pengantar minyak di siang hari, sementara pada malam hari, ia membantu saudara Wang, seorang importir, untuk mengantar anggur Shaoxing. Setelah dua tahun bekerja di perusahaan minyak, ia dipromosikan ke bagian kasir.

Saat bekerja di sana, Yang mulai berpacaran dengan Lai Penmei (賴盆妹), seorang wanita yang membantu mengurus anak-anak keluarga Wang. Mereka berkencan selama sekitar tiga hingga empat tahun sebelum akhirnya menikah ketika Yang berusia 28 tahun, dengan keluarga Wang sebagai saksi pernikahan mereka. Setelah menikah, pasangan ini tetap bekerja untuk keluarga Wang selama tiga hingga empat tahun kemudian.

Pada tahun 1958, Yang dan istrinya membuka sebuah toko kecil di Taipei yang diberi nama Din Tai Fung Oil Retail. Nama tersebut berasal dari dua perusahaan yang memiliki peran dalam bisnis mereka: Heng Tai Fung, tempat mereka dulu bekerja, dan Din Mei Oils, pemasok minyak mereka.

Awalnya, mereka menjual minyak goreng serta xiaolongbao (pangsit kukus berisi sup). Namun, pada tahun 1972, bisnis minyak mereka mengalami kesulitan akibat munculnya minyak salad dalam kaleng logam. Karena itu, mereka memutuskan untuk lebih fokus pada penjualan pangsit.

Dalam waktu singkat, pangsit buatan mereka menjadi sangat populer. Mereka pun mengubah nama toko menjadi Din Tai Fung dan sepenuhnya beralih ke bisnis makanan, khususnya pangsit dan mi.

Restoran pertama mereka berlokasi di distrik perbelanjaan Yongkang, Taipei. Pada tahun 1993, The New York Times menobatkannya sebagai salah satu restoran terbaik di dunia. Berkat popularitasnya, jaringan restoran Din Tai Fung berkembang ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Australia, Uni Emirat Arab, Korea Selatan, dan Singapura. Hingga tahun 2023, Din Tai Fung memiliki lebih dari 170 cabang di 13 wilayah.

Yang Bing-Yi dikenal sebagai seseorang yang bangun pagi. Saat berusia 70-an, ia biasanya menghabiskan satu jam di pagi hari untuk berjalan kaki, kemudian satu jam lagi untuk berlatih qigong (latihan pernapasan dan gerakan tradisional Tiongkok).

Yang Bing-Yi meninggal dunia pada 25 Maret 2023, dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-96.

(foto: Keluarga Yang)

Penyiar

Komentar