Paviliun Indonesia di Taiwan Healthcare+ Expo 2024
Taiwan Healthcare+ Expo 2024, yang berlangsung dari 5 hingga 8 Desember di Taipei Nangang Exhibition Center, menjadi platform strategis bagi Indonesia untuk memperkenalkan inovasi dan kualitas produk alat kesehatan nasional. Pameran ini menghadirkan peluang besar untuk menjalin kerja sama bisnis antara pelaku industri Indonesia dan mitra internasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen alat kesehatan yang kompetitif di pasar global.
Paviliun Indonesia hadir berkat kerja sama antara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), KDEI Taipei, dan Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI). Paviliun ini menampilkan sembilan perusahaan alat kesehatan terkemuka, termasuk PT Arista Latindo, PT Graha Teknomedika, dan PT Prodia Diagnostic Line. Produk yang dipamerkan meliputi sarung tangan medis, peralatan diagnostik, instrumen bedah, hingga rapid test kit untuk deteksi penyakit menular.
Kepala KDEI Taipei, Bapak Arif Sulistiyo, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha dalam meningkatkan daya saing serta memperluas pasar ekspor. “Partisipasi Indonesia dalam pameran ini menunjukkan komitmen untuk menyediakan produk berkualitas tinggi yang memenuhi standar internasional,” ujarnya. Paviliun Indonesia diharapkan menjadi katalisator pertumbuhan industri alat kesehatan nasional di pasar global.

(foto: KDEI)
Pendapatan Nanpao pada November Capai NT$2,036 Miliar, Rekor Baru untuk 11 Bulan Pertama
Seiring dengan pemulihan bertahap di industri dan meningkatnya permintaan, hasil dari pengembangan produk dan aplikasi baru mulai terlihat. Nanpao Resins Chemicals (4766) mencatat pendapatan sebesar NT$2,036 miliar pada November, meningkat 9,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk periode Januari-November 2024, total pendapatan mencapai NT$20,987 miliar, naik 11,7%, mencetak rekor tertinggi dalam periode yang sama.
Nanpao menyampaikan bahwa tahun ini, tiga lini produk utama—perekat khusus, bahan bangunan, dan cat—berhasil mencapai target pertumbuhan. Pendapatan tahun ini berpeluang mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, Nanpao juga aktif mengembangkan perekat untuk semikonduktor dan sektor elektronik lainnya sebagai pendorong pertumbuhan baru. Adapun akuisisi Yunteh diproyeksikan akan mulai menyumbang pendapatan tahun depan, dengan harapan dapat membawa rekor baru untuk 2025.
Pada 12 November, Nanpao berhasil memperoleh Sertifikasi Halal, menjadi pabrik resin Taiwan pertama yang meraih pengakuan tersebut. Hal ini memberikan lebih banyak pilihan di pasar global, sekaligus membantu memperkuat ekspansi ke pasar Indonesia, Malaysia, dan Bangladesh.
Nan Pao mencatat bahwa meskipun kontribusi dari pasar perekat untuk kemasan fleksibel saat ini masih kecil terhadap total pendapatan, sektor ini memiliki potensi pertumbuhan yang besar. Salah satu aplikasi utamanya adalah dalam kemasan makanan, seperti kemasan vakum untuk camilan, cangkir mi instan, kantong, dan saus.

(foto: LTN)
National Taiwan University Kembangkan Teknik AI untuk Operasi Jantung
Tim kardiologi di National Taiwan University Cabang Hsinchu mempelopori penggunaan Microsoft HoloLens 2 mixed reality (MR) headsets yang dipadukan dengan teknologi AI untuk membantu dokter dalam memposisikan kawat pandu selama operasi jantung.Tim ini telah berhasil melakukan tujuh operasi pembuluh darah jantung menggunakan teknologi inovatif ini. Teknologi ini terbukti dapat memperpendek waktu operasi dan meningkatkan keselamatan pasien, dilansir dari Health News.
Operasi jantung tradisional melibatkan penyisipan kateter melalui pembuluh darah vena atau arteri di kaki untuk mengakses jantung dan mengirimkan alat seperti stent balon. Namun, ketika arteri koroner tersumbat sepenuhnya, agen kontras tidak dapat memvisualisasikan pembuluh darah, sehingga menyulitkan prosedur.
Yu Chong-jen (余忠仁), Direktur NTU Cabang Hsinchu, mencatat bahwa tingkat keberhasilan operasi semacam ini telah meningkat dari sekitar 60% di tahun-tahun sebelumnya menjadi 90% berkat kemajuan teknologi medis dan pengalaman. Adopsi teknologi mixed reality lebih lanjut meningkatkan tingkat keberhasilan untuk prosedur kompleks ini.
Lo Hao-yun (羅皓允), seorang dokter di Pusat Kardiovaskular RS NTU Cabang Hsinchu, menjelaskan bahwa HoloLens 2 dipasangkan dengan platform Anatomy Cloud untuk mengatasi tantangan navigasi pembuluh yang tersumbat. Sistem ini mengonversi gambar CTA arteri koroner 2D menjadi visual stereoskopik warna 3D melalui analisis AI.
Dengan perangkat lunak Anatomy Cloud XR, dokter dapat memvisualisasikan jalur pembuluh darah secara presisi selama operasi. Teknologi ini meningkatkan akurasi dalam memandu kawat ke rongga pembuluh darah yang benar dan memungkinkan ahli bedah untuk berkoordinasi lebih efektif dengan mesin kateter, sehingga mengurangi risiko komplikasi.

(foto: NTU Hsinchu)
Taiwan Memberikan Layanan Kesehatan di Kamboja
Tim medis dari RSU Veteran Taichung dan RS Hong Ren melakukan perjalanan ke Provinsi Battambang, Kamboja, bulan lalu untuk memberikan layanan kesehatan.
Direktur Pusat Layanan Medis Internasional RSU Veteran Taichung, Wang Chung-chi (王仲祺), pada 30 November menyampaikan bahwa tim medis tersebut terdiri dari ahli bedah, dokter umum, dokter gigi, apoteker, dan perawat. Selama dua hari, dari 9 hingga 11 November, tim ini melayani hampir 2.000 orang, dilansir dari CNA.
Menurut Hsu Chung-ting (徐仲庭), seorang dokter anak di RSU Veteran Taichung, malnutrisi merupakan masalah umum di Battambang. Keterbatasan sumber daya medis dan ketimpangan ekonomi membuat banyak orang tidak bisa mendapatkan perawatan yang memadai dan tepat waktu.
Setelah misi medis, tim ini juga mengunjungi fasilitas kesehatan di Battambang dan Phnom Penh. Wang berkomentar, “Peralatan medis dan kualitas layanan kesehatan di sana masih memiliki ruang besar untuk perbaikan.”
Wang menambahkan bahwa misi ini menunjukkan kekuatan Taiwan di bidang kesehatan serta kemampuannya untuk membantu meningkatkan layanan kesehatan di Kamboja.

(foto: CNA)
New Taipei Dorong Insentif Ekologi untuk Petani demi Keberlanjutan Lingkungan, 4 Tahun Salurkan Lebih dari NT$3 Juta
Dalam rangka mendorong praktik pertanian ramah lingkungan, Biro Pertanian Kota New Taipei meluncurkan "Program Insentif Ekologi untuk Habitat Penting," yang bertujuan untuk mengajak para petani untuk melestarikan lingkungan dan ekologi. Berdasarkan data Biro Pertanian, sejak program ini diluncurkan pada tahun 2021, total lebih dari NT$3 juta telah disalurkan sebagai "insentif ekologi," secara bertahap memperluas lahan pertanian menjadi habitat yang cocok bagi berbagai spesies.
Direktur Biro Pertanian, Chen Xi-hui, dalam rapat pemerintahan beberapa hari lalu menjelaskan keberhasilan pertanian berkelanjutan yang memadukan aspek produksi, kehidupan, dan ekologi dengan tema "Keberlanjutan Tiga Elemen". Chen mengatakan bahwa demi menjaga keseimbangan ekosistem, Biro Pertanian sejak 2021 bekerja sama dengan pemerintah pusat untuk melaksanakan "Program Insentif Ekologi untuk Habitat Penting". Peserta program ini bisa menerima "insentif ekologi" hingga NT$70.000 per hektar, memberikan dukungan finansial kepada petani yang melindungi spesies terancam punah dan habitat penting.
Berdasarkan statistik Biro Pertanian, sejak peluncuran program, total 150 proposal telah disetujui, dengan jumlah proposal yang disetujui tahun ini meningkat lebih dari 7,7 kali lipat dibandingkan tahun 2021. Wilayah cakupan program juga telah berkembang dari 4 distrik menjadi 6 distrik, dan insentif ekologi yang telah disalurkan mencapai lebih dari NT$3 juta. Ke depan, program ini direncanakan mencakup hingga 8 distrik.
Salah satu peserta, Chen Guo-zhi, seorang petani padi, mengikuti program ini tahun lalu dan tahun ini bersama putrinya, Chen Yun-zhu, turut serta menghidupkan kembali sawah terasering. Tahun ini, mereka menerima insentif tambahan untuk pengelolaan habitat.
Chen Yun-zhu, yang berusia 29 tahun, sebelumnya bersama suaminya mengelola perusahaan produksi video. Setelah kembali ke kampung halaman, ia membantu ayahnya menghidupkan kembali sawah terasering sambil memanfaatkan keahliannya untuk mendokumentasikan keanekaragaman hayati di sawah menggunakan kamera inframerah. Kamera tersebut telah merekam berbagai satwa liar, termasuk blue magpie Taiwan, ikan mas gunung langka, dan kura-kura kolam kuning.
Meski tidak memiliki latar belakang pertanian, Yun-zhu memulai belajar dari tugas sederhana seperti mencabut rumput. Dia tertawa mengenang bagaimana tangan gemetar saat pertama kali mengoperasikan mesin pemotong rumput, bahkan kuku-kukunya yang dihiasi cat kuku rusak total saat bekerja. Proses rehabilitasi habitat memang tidak mudah, tetapi intensif finansial berupa gaji ekologi dari Biro Pertanian memberikan motivasi baginya untuk terus maju. Ia berharap sawah terasering masa kecilnya dapat dihidupkan kembali sehingga keindahannya dapat dilihat dan diingat oleh lebih banyak orang.
Sementara itu, petani lain, Zheng Geng-he, yang pensiun pada tahun 2016 dan mulai bertani, menjadi peserta baru program ini tahun ini. Setelah mengetahui program tersebut, ia mengadakan sesi sosialisasi di daerahnya dan mengajak petani lain bergabung. Zheng memulai dengan meratakan lahan pertanian, menggunakan alat ukur inframerah untuk mengukur ketinggian pematang sawah, dan kemudian menggunakan mesin pengolah tanah untuk membentuk pematang. Setelah pematang kering, ia mengisi air irigasi ke sawah. Sawah yang baru diairi ini segera menarik ikan mas Taiwan dan kura-kura untuk mencari makan, sementara blue magpie Taiwan, jalak, dan burung murai juga datang untuk bertengger.

(foto: Biro Pertanian New Taipei City)
Ada Apa di Hsinchu Science Park?
Sejarah dan Perkembangan Taman Sains Hsinchu
Gagasan untuk mendirikan Taman Sains Hsinchu pertama kali dicetuskan oleh Shu Shien-Siu, mantan Presiden Universitas Nasional Tsing Hua dan Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Taiwan. Pada tahun 1973, Shu, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, melakukan perjalanan ke Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang untuk mempelajari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara-negara tersebut. Setelah itu, pada tahun 1976, Shu mengusulkan pembangunan taman teknologi di Taiwan yang serupa dengan Silicon Valley di Amerika Serikat.
Awalnya, Presiden Chiang Ching-kuo ingin membangun taman ini di Distrik Longtan karena dekat dengan Institut Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Chung-Shan Nasional, yang memiliki hubungan dengan militer. Namun, Shu berpendapat bahwa taman ini sebaiknya tidak berada dekat dengan fasilitas militer, karena tujuannya adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi swasta dan meningkatkan kreativitas di Taiwan. Shu memilih lokasi di Hsinchu, dekat Universitas Nasional Tsing Hua dan Universitas Nasional Chiao Tung (sekarang Universitas Nasional Yang Ming Chiao Tung), seperti Silicon Valley yang berada dekat Stanford University dan UC Berkeley. Ide Shu akhirnya disetujui, dan taman ini mulai dibangun dan resmi dibuka pada tahun 1980.
Peran Tokoh Penting
Chiang Ching-kuo menunjuk Irving Tze Ho untuk memimpin pembangunan Taman Sains Hsinchu pada tahun 1979. Selain itu, Li Kwoh-ting, mantan Menteri Keuangan Taiwan, memainkan peran penting dalam pendirian taman ini. Li terinspirasi oleh Silicon Valley dan meminta saran dari Frederick Terman tentang bagaimana Taiwan bisa mencontohnya. Ia juga berhasil meyakinkan para profesional Taiwan yang bekerja di luar negeri untuk kembali dan mendirikan perusahaan di taman ini. Salah satu tokoh yang kembali adalah Morris Chang, pendiri TSMC, perusahaan semikonduktor terkemuka di dunia.
Li juga memperkenalkan konsep modal ventura di Taiwan untuk menarik pendanaan bagi perusahaan rintisan teknologi tinggi.
Fakta Penting aman Sains Hsinchu
Pada tahun 2003, taman ini menjadi rumah bagi lebih dari 400 perusahaan teknologi tinggi, termasuk industri semikonduktor, komputer, telekomunikasi, dan optoelektronik.
Pada tahun 2007, perusahaan-perusahaan ini menyumbang 10% dari produk domestik bruto (PDB) Taiwan.
Taman ini juga menjadi pusat dari dua perusahaan foundry semikonduktor terbesar di dunia, yaitu TSMC dan UMC.
Taiwan memiliki sistem spesialisasi dalam industri semikonduktor dan konsentrasi tinggi pabrik pengolahan wafer 12 inci, sebagian besar berlokasi di taman ini.
Di sekitar taman terdapat dua universitas ternama di bidang sains dan teknik, yaitu Universitas Nasional Yang Ming Chiao Tung dan Universitas Nasional Tsing Hua. Selain itu, Badan Antariksa Nasional Taiwan juga berlokasi di taman ini.
Masalah Lingkungan dan Solusinya
Taman Sains Hsinchu sempat menghadapi protes dari warga lokal terkait polusi udara dan air. Namun, sejak tahun 1986, taman ini memiliki fasilitas pengolahan limbah industri untuk memastikan keamanan lingkungan. Kualitas udara juga diawasi oleh Departemen Perlindungan Lingkungan Nasional Taiwan untuk menjaga kebersihan udara di kawasan taman dan sekitarnya.

(foto: Wiki)
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
