Konservasionis Berjuang Melawan Erosi di Sandbar Terbesar Taiwan
Konservasionis dan anggota masyarakat baru-baru ini berpartisipasi dalam upaya penanaman untuk melawan erosi di Gosong Pasir Waiyuding (外傘頂洲) di Kabupaten Chiayi.
Badan Konservasi Kehutanan dan Alam Cabang Nantou mengatakan pada hari Rabu (17 Juli) bahwa "anyaman hijau penahan pasir" dari beach bean dan katang-katang telah ditanam di sepanjang gosong pasir, dilansir dari CNA. Sekitar 80 anggota komunitas dan staf berpartisipasi dalam proyek tersebut di lepas pantai Kabupaten Chiayi.
Gosong pasir ini menyusut sebesar 823 hektar antara tahun 2003 dan 2023. Hal ini disebabkan oleh angin kencang dan ombak yang mengikis lapisan atas gosong pasir, menyebabkan pasirnya bergerak ke saluran air sekitar, yang berdampak pada aliran air dan perikanan di daerah tersebut.
Tim konservasi menggunakan tabung bambu untuk melindungi tanaman dari ombak tinggi, angin, dan panas. Permukaan gosong pasir dapat mencapai suhu 70 C, kata badan konservasi tersebut.
Meskipun terjadi erosi, Gosong Pasir Waiyuding seluas 1.000 hektar tetap menjadi yang terbesar di Taiwan. Gosong pasir ini melindungi sebagian besar garis pantai Chiayi dan budidaya tiram berkembang di daerah tersebut.

Taiwan Luncurkan Perawat AI Berbahasa Suku Penduduk Asli Pertama di Dunia
Taiwan akan memasuki masyarakat super tua pada tahun 2025. Tentu saja, hal ini akan menghadirkan tantangan pekerjaan yang berat dan kekurangan tenaga kerja, terutama di bidang kesehatan. Lingkungan kerja yang penuh tekanan menyebabkan turunnya minat masyarakat bekerja di bidang kesehatan, terutama keperawatan. Hanya ada sekitar 60% perawat bersertifikat di Taiwan. Untuk itu, Taiwan Artificial Intelligence Laboratory (Taiwan AI Labs) bekerja sama dengan RS Tzu Chi Hualien untuk menciptakan aplikasi AI medis inovatif untuk membantu perawat di lapangan.
RS Tzu Chi Hualien mengatakan, petugas perawat garis depan menghadapi banyak tantangan di lapangan medis. Kekurangan tenaga perawat, ditambah dengan perawat baru yang membutuhkan waktu beberapa bulan untuk terbiasa dengan pekerjaan, serta pekerjaan administratif medis yang ribet, membuat staf perawat kelelahan.
RS Tzu Chi Hualien mengungkapkan, kebiasaan menulis setiap perawat yang berbeda menyebabkan format catatan perawat tidak konsisten dan sulit untuk dirangkum, bahkan bisa menyebabkan informasi penting terlewatkan. Terutama ketika menangani pasien dengan kondisi medis yang rumit dan waktu rawat inap yang lama, dibutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikan catatan perawat yang lengkap.
Setelah mengidentifikasi kebutuhan lapangan medis, Taiwan AI Labs menggunakan teknologi pengenalan suara AI lokal Taiwan "Ya-Ting" dan AI generatif "FedGPT" untuk membangun asisten perawat profesional yang disebut i-Bodhi Nursing AI Assistant yang sepenuhnya diterapkan di RS Tzu Chi Hualien. i-Bodhi Nursing AI Assistant yang dapat mengenali tiga bahasa: Mandarin, Inggris, dan Minnan.
RS Tzu Chi Hualien menyatakan bahwa AI assistant ini memiliki beberapa keunggulan. Pertama, meningkatkan detail catatan perawat, di mana informasi penting yang mungkin terlewatkan oleh catatan manual perawat dapat tercatat, termasuk kondisi emosional pasien. Jika laporan perawat yang lengkap dan jelas ini dicatat secara manual, diperkirakan akan memakan waktu 2-3 kali lebih lama.
Kedua, dengan bantuan AI generatif FedGPT di dasar i-Bodhi AI Assistant, format catatan perawat menjadi standar, membantu perawat senior saat beralih tugas dengan perawat baru, membantu mereka cepat memahami poin perawatan dan tugas yang harus dilakukan. Ini juga memastikan privasi data medis pasien tetap terjaga.
Taiwan AI Labs juga merancang perawat virtual yang menguasai 18 bahasa termasuk Mandarin, Taiwan, Inggris, dan bahasa suku Taroko yang merupakan pertama kalinya di dunia. Dengan demikian, perawat profesional hanya perlu memasukkan teks edukasi medis, dan dalam beberapa menit video edukasi dalam berbagai bahasa dapat dihasilkan secara otomatis.

(foto: TechNews)
Universitas Yang Ming Chiao Tung Sukses Luncurkan Roket
Universitas Nasional Yang Ming Chiao Tung berhasil meluncurkan roket di Kabupaten Pingtung pada pukul 6 pagi hari Minggu (21 Juli), yang berhasil mencapai ketinggian 3.000 meter, menandai pencapaian baru dalam program eksplorasi luar angkasa universitas tersebut.
Tan Zu Puayen (陳竺博淵), asisten profesor di bidang Sistem dan Aerodinamika Dirgantara (ASARe), mengatakan bahwa peluncuran ini melibatkan tiga tim dengan total sekitar 25 orang. Roket Asfaloth yang diluncurkan kali ini, dinamai sesuai dengan kuda peri dari "The Lord of the Rings," memiliki panjang 5,2 meter, diameter 26,5 cm, dan berat 190 kg, dilansir dari UDN.
Tan mengatakan bahwa muatan bahan bakar untuk penerbangan uji coba ini hanya sepertiga dari kapasitasnya, yang dapat menyediakan dorongan selama sekitar lima detik. Pada peluncuran mendatang, mereka akan menambahkan lebih banyak bahan bakar untuk peluncuran roket penuh, dengan perkiraan mencapai ketinggian 10 km.
ASARe mengatakan bahwa misi uji terbang berikutnya akan membawa perangkat ilmiah bernama AsyncELF, yang diharapkan dapat mencapai kecepatan supersonik. Universitas ini saat ini memiliki tiga tim roket yang mengembangkan berbagai jenis roket, dengan satu tim berharap dapat merancang roket yang mencapai ketinggian 100 km.
Dewan Ilmu Pengetahuan Nasional (NSTC) mengatakan bahwa industri luar angkasa Taiwan telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Taiwan memiliki banyak keunggulan dalam bentuk industri pendukung yang kuat seperti telekomunikasi, semikonduktor, dan mesin presisi.
Selain itu, Badan Antariksa Taiwan (TASA) memiliki pengalaman 30 tahun dalam melaksanakan program satelit dan telah sepenuhnya menguasai pengembangan, pengujian integrasi, dan kemampuan pengendalian satelit. Tahun lalu, TASA meluncurkan rencana pengembangan roket orbit, dengan harapan dapat menguasai teknologi peluncuran dan meningkatkan otonomi program satelit.
Untuk menyediakan situs peluncuran roket yang legal dan aman bagi komunitas akademik dan penelitian dalam negeri, NSTC telah mendirikan situs peluncuran penelitian jangka pendek di Pingtung.
Sejauh ini, sudah ada enam roket berbeda yang diluncurkan dari fasilitas ini, dengan semua peluncuran dilakukan dan dieksekusi oleh universitas di Taiwan.

foto: asareNYCU
Penggunaan Sunscreen Sebabkan Terumbu Karang Rusak?
Bagi penyuka wisata pantai, anda mesti bijak menggunakan ramuan pelindung dari sinar matahari. Pasalnya, para ilmuwan menemukan bahwa beberapa bahan kimia ditemukan dalam tabir surya yang dapat merusak terumbu karang.
Sebagai informasi, terumbu karang merupakan salah satu ekosistem paling berharga di bumi. Keberadaanya bisa memberikan dampak positif bagi ekosistem lingkungan, perlindungan pantai, dan sektor pariwisata.
Akan tetapi, ekosistem karang di seluruh dunia kini menghadapi ancaman serius. Perubahan iklim, penangkapan ikan yang merusak, polutan sampah, pembangunan pesisir tak sesuai kaidah konservasi, hingga penggunaan pelindung kulit berbahan dasar senyawa kimia menjadi ancaman ekosistem terumbu karang.
Dalam penelitian Stanford University yang diterbitkan pada 2 Mei 2022 lalu, diketahui bahwa oxybenzone, kandungan yang terdapat dalam sunscreen dan sejenisnya itu, berkontribusi pada kesehatan terumbu karang. Bahan kimia pada ramuan itu disinyalir mematikan biota laut pada ekosistem terumbu karang.
Setelah menyerap sinar ultraviolet, oxybenzone memang dirancang untuk mengubah energi cahaya ini menjadi panas, yang kemudian dilepaskan. Proses ini mencegah sinar UV dari merusak kulit dan menyebabkan sengatan matahari. Sementara anemon dan karang melakukan metabolisme ketika terkena sinar matahari.
Para peneliti juga berhasil melihat bagaimana mekanisme pertahanan karang. Alga di karang berperan untuk melindungi inang mereka dari racun yang disebabkan oxybenzone. Akan tetapi ketika air laut menghangat, karang kehilangan ganggang tersebut. Dampaknya, kerangka karang memutih seperti tulang. Kondisi itu rentan memicu fenomena pemutihan terumbu karang.

foto;: haereticus-lab.org
SOSOK DIBALIK PABRIK DAGING VEGAN TERBESAR DI TAIWAN, HOYA
Jumlah vegetarian di Taiwan melampaui 3,3 juta orang, menempati peringkat kedua di dunia. Di antara mereka, 41% memilih vegetarian karena alasan keagamaan, 39% karena masalah kesehatan, dan 37% untuk perawatan kesehatan dan gaya hidup sehat. Diperkirakan bahwa pada tahun 2025, peluang bisnis daging nabati akan mencapai 28 miliar dolar AS, dan pada tahun 2029 nilai pasar akan meningkat menjadi 140 miliar dolar AS, yang mencakup 10% dari pasar daging.
Daging nabati memiliki berbagai manfaat seperti nol kolesterol, bebas hormon, dan bebas antibiotik. Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat Taiwan terhadap "sikap ramah lingkungan" telah mempengaruhi konsumen untuk memilih produk daging nabati. Banyak perusahaan besar internasional dan tokoh terkenal juga telah memasuki pasar ini. Konsumsi daging nabati bukan lagi hanya perilaku vegetarian, tetapi telah menjadi tren dan gaya hidup baru, menunjukkan potensi besar pasar daging nabati di masa depan.
HOYA Hongyang Foods, dengan pengalaman lebih dari 30 tahun dalam produksi daging nabati, berkomitmen untuk menyediakan produk daging nabati terbaik di pasar. Mereka menawarkan berbagai produk daging nabati, mulai dari makanan beku hingga camilan siap saji, seperti dendeng daging nabati, kotak makan steak daging nabati, barbeque nabati, patty burger nabati, salad tuna nabati, hingga bakso nabati.
Produk-produk mereka memiliki kandungan protein yang hampir sama dengan daging asli, rendah lemak total, dan mengandung serat makanan. Siapakah orang di balik kesuksesan HOYA? Dia adalah Hsieh Chi-Feng.
Ayah Hsieh Chi-feng pada usia 26 tahun, pindah dari Zhongli ke Beigang untuk menjadi pedagang grosir. Dia membeli telur ayam, telur bebek, minyak wijen, minyak kacang, dan produk pertanian lainnya untuk dikirim kembali ke Zhongli dengan kereta api untuk dijual. Di sinilah dia bertemu dengan ibu Hsieh.
"Ketika saya masih di SMP, ayah beralih ke industri manufaktur. Kami memiliki lingkungan yang lebih baik dibandingkan dengan petani, sehingga saya tidak terlalu suka belajar dan hanya melakukan hal-hal yang menarik bagi saya. Setelah lulus SMA, saya tidak melanjutkan pendidikan dan membantu menjalankan bisnis selama dinas militer. Setelah kembali, saya mempersiapkan diri untuk meneruskan bisnis keluarga."
Chairman Hsieh Chi-feng mengambil alih pabrik makanan milik ayahnya setelah menyelesaikan wajib militer. Pada saat itu, produk utama mereka adalah dendeng daging dan abon daging. Namun, dia terinspirasi untuk membuat makanan vegetarian ketika dia mencicipi mi gluten vegetarian yang dimasak oleh sersan tua saat bertugas di wajib militer. Produk ini kemudian dikenal sebagai "Gluten Vegetarian" (su tijin) yang menjadi sangat populer di pameran makanan sehingga memicu lahirnya kerajaan makanan vegetarian HOYA.
Saat itu, seseorang menyarankan kepadanya, “Kamu bisa membuat daging kering vegetarian atau abon daging vegetarian!” Dia berpikir, “Bagaimana bisa membuat 'daging' tanpa ada 'daging'?” Daging vegetarian semi jadi pada saat itu semuanya diimpor dari Jepang, seharga NT$450 per kilogram, dan hanya ada dua distributor di Taiwan. “Saya hanya seorang anak muda berusia 20-an, bagaimana mungkin mereka membiarkan saya melakukannya? Lalu bagaimana?”
Dia menemukan bahwa ada seorang profesor di National Taiwan University yang mengkhususkan diri dalam penelitian ekstrusi, yang dapat menggabungkan protein nabati menjadi serat. Profesor ini menggunakan mesin untuk mencampur protein dengan tepung seperti menguleni adonan, kemudian menariknya menjadi serat dengan tekanan dan suhu tinggi untuk menyelesaikan proses teksturisasi. Setelah mengunjungi profesor dan menyatakan niatnya untuk bekerja sama dalam mengembangkan produk daging vegetarian semi jadi, profesor tersebut setuju dengan cepat dan mengajukan rencana kepada National Science Council.
Hsieh Chi-feng mengatakan bahwa dia menghabiskan waktu enam bulan untuk penelitian tersebut. Setiap kali mesin dinyalakan, semua kondisi yang dirancang harus diuji ulang untuk menemukan arah yang benar. Dari penelitian awal hingga peluncuran produk, biaya bahan baku yang terbuang (protein kedelai) mencapai lebih dari NT$2 juta.
“Pada tahun 1996, industri makanan vegetarian Taiwan mengalami perubahan revolusioner. Seluruh industri tahu ada 'Xiao Xie' yang membuat ham vegetarian dengan kualitas hampir menyamai impor asli Jepang,” kata Hsieh Chi-feng. Dia mengembangkan bahan baku daging vegetarian yang digunakan untuk membuat ham vegetarian dan membandingkannya dengan tiga jenis ham vegetarian: yang diimpor dari Jepang, yang dibuat di Taiwan dengan bahan baku Jepang, dan yang dikembangkan sendiri. Ham vegetarian buatannya hampir tidak berbeda dengan yang diimpor dari Jepang.
Setelah industri menyadari bahwa bahan baku daging vegetarian dapat diproduksi di Taiwan, pesanan datang seperti salju turun. “Membuka satu jalur produksi memerlukan NT$18 juta, dan pada waktu itu hampir setiap tahun kami harus membuka satu jalur produksi baru! Selain itu, mesin beroperasi selama 24 jam tanpa henti.” Pabrik HOYA pertama kali terletak di Liou Tsuo, Beigang, kemudian dipindahkan ke Kouzhuang pada tahun 2001, dan pada tahun 2006 pindah lagi ke lokasi saat ini di Sihu, kini memiliki 6 pabrik dan 12 jalur produksi.

(foto: Mirror Media)

RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
