NVDIA Investasikan 64 Miliar Dolar NTD untuk Bangun Pusat AI di Solo
NVIDIA, perusahaan desain chip IC terkemuka, berencana untuk bermitra dengan operator telekomunikasi Indosat di Indonesia dan menginvestasikan 200 juta dolar AS (sekitar 64 miliar dolar Taiwan) untuk membangun pusat kecerdasan buatan (AI) di Kota Solo, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, tahun ini, sebagai bagian dari upaya mereka untuk memperluas kehadiran mereka di pasar Asia Tenggara.
Menurut laporan Nikkei Asia, kerjasama dengan Indonesia adalah bagian dari upaya NVIDIA untuk terus memperluas jangkauan bisnisnya di Asia Tenggara. Indosat merupakan operator jaringan seluler terbesar kedua di Indonesia, dan perusahaan tersebut menyatakan bahwa kerjasama dengan NVIDIA akan meningkatkan infrastruktur teknologi mereka dan menyediakan sumber daya manusia dengan keterampilan yang diperlukan.
Sebelumnya, pada bulan Januari, perusahaan telekomunikasi Singapura, Singtel, juga mengumumkan kerjasama dengan NVIDIA untuk meluncurkan produk komputasi cloud yang menggunakan chip NVIDIA, memperkuat kerja sama mereka di bidang kecerdasan buatan. Menurut laporan keuangan kuartal ketiga NVIDIA tahun lalu, selain Taiwan, Amerika Serikat, dan Tiongkok, Singapura adalah salah satu sumber pendapatan utama bagi NVIDIA, yang menyumbang sekitar 15% dari pendapatan mereka.
Selain itu, YTL Group, konglomerat terbesar di Malaysia, juga telah menjalin kemitraan strategis dengan NVIDIA, dengan rencana untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan di Malaysia tahun ini.
Perusahaan konsultan Amerika, A.T. Kearney, memperkirakan bahwa pada tahun 2030, kecerdasan buatan akan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara di Asia Tenggara sebesar 10% hingga 18%, atau sekitar 1 triliun dolar AS (sekitar 32 triliun dolar Taiwan). Analisis tersebut menyatakan bahwa Indonesia memiliki populasi terbesar di Asia Tenggara, dengan lebih dari 270 juta penduduk, dan memiliki potensi pengembangan pasar yang besar.

(foto: Reuters)
Mengguncang Fondasi Teknologi: Gempa Bumi di Taiwan dan Implikasi Keamanan Globalnya
Gempa bumi berkekuatan 7,4 SR yang terjadi baru-baru ini di Taiwan pada tanggal 3 April 2024 menunjukkan hubungan yang kompleks antara bencana alam, manufaktur teknologi, serta perdamaian dan keamanan global. Peristiwa seismik ini terjadi di lepas pantai timur Taiwan (Hualien), menewaskan 9 orang, melukai sekitar 1.000 lainnya, dan menyebabkan kerusakan besar pada bangunan dan infrastruktur, termasuk pabrik manufaktur semikonduktor.
Taiwan memproduksi lebih dari 90% pasokan semikonduktor global sehingga bencana alam, seperti gempa bumi dan taifun di Taiwan menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan rantai pasokan dunia.
Gempa bumi baru-baru ini menyoroti pentingnya semikonduktor dalam peradaban modern, yang mempengaruhi segala hal mulai dari barang elektronik konsumen hingga keamanan nasional. Meskipun dampak gempa sangat dahsyat, pemerintah dan masyarakat telah memiliki kesadaran tanggap bencana yang luar biasa sehingga mampu menekan jumlah korban dan memperbaiki infrastruktur yang rusak dengan cepat.
TSMC mengatakan bahwa beberapa jalur produksi di lokasi yang rusak mungkin memerlukan waktu penyesuaian yang lebih lama sebelum kembali berfungsi normal.
John Donigian, Direktur Senior Strategi Rantai Pasokan di Moody’s Analytics, menekankan pentingnya diversifikasi dalam manajemen rantai pasokan, dan menekankan bahwa gempa bumi di Taiwan menyoroti risiko yang terkait dengan konsentrasi pemasok.
Sejarawan Chris Miller juga menambahkan bahwa "kehilangan sepertiga dari produksi daya komputasi setiap tahun bisa menimbulkan kerugian yang lebih besar dibandingkan pandemi COVID dan lockdown, yang berdampak buruk pada aspek ekonomi.”
Setelah gempa bumi yang terjadi baru-baru ini di Taiwan, semakin jelas bahwa ketahanan industri semikonduktor sangat penting untuk menjamin stabilitas dan keamanan di masa depan yang didorong oleh teknologi.
Melalui investasi pada praktik berkelanjutan, mendorong inovasi, dan mendorong kolaborasi internasional, Taiwan dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih stabil dan aman.

(foto: Canva)
Aplikasi Taichung Pass dan Kegiatan Keluarga untuk Edukasi Gempa Bumi akan Berlangsung Minggu Ini
Sejak gempa bumi kuat di Hualien pada tanggal 3 April yang lalu, gempa susulan terus terjadi. Pemerintah Kota Taichung akan mengadakan kegiatan keluarga bertajuk "Petualangan Seru Pahlawan Kebakaran" di Klenteng Chao Tian, Wuri, pada tanggal 14 April. Melalui aplikasi Taichung Pass, mereka akan memperkenalkan pengetahuan evakuasi dan pencegahan kebakaran yang benar kepada masyarakat.
Biro Urusan Digital Kota Taichung, Departemen Pemadam Kebakaran, dan Kantor Distrik Wuri mengadakan konferensi pers 3 hari lalu di kantor pemerintah untuk mengumumkan kegiatan tersebut. Mereka akan menyelenggarakan kegiatan "Petualangan Seru Pahlawan Kebakaran" di Kuil Chao Tian, Wuri, pada tanggal 14 April. Melalui 5 aktivitas dalam aplikasi Taichung Pass, orang tua dan anak-anak dapat mengenal pengetahuan evakuasi gempa bumi dan pencegahan kebakaran yang benar selama kegiatan keluarga ini. Setelah menyelesaikan misi, peserta akan mendapatkan hadiah kecil sebagai penghargaan.
Karena kegiatan ini berlangsung di Wuri, mereka juga mengadakan permainan untuk mengenalkan wilayah Wuri. Dengan cara yang menyenangkan, peserta tidak hanya bisa memahami sejarah tempat kelahiran mereka sendiri, tetapi juga memperoleh kesadaran tanggap bencana. Warga dipersilakan bergabung dalam kegiatan di Kuil Chao Tian, Wuri, pada tanggal 14 April dan mereka juga bisa menyaksikan keluarga YOYO termasuk Banana Brother dan Tomato Sister, serta keluarga macan dari love and life family club.
Kepala Biro Urusan Digital, Lin Gu-long, menyatakan bahwa aplikasi Taichung Tong menyediakan layanan online dari pemerintah kota, termasuk pendaftaran online, pembayaran, diskon khusus, reservasi vaksin, dan informasi sehari-hari, seperti situasi air dan transportasi di Taichung. Ini tidak hanya mencakup layanan makanan, pakaian, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, dan hiburan di Taichung, tetapi juga dapat menjadi alat penting untuk penyebaran pengetahuan bencana.

(foto: Pemkot Taichung)
Jembatan Kuno Jepang Digunakan setelah Gempa Bumi Hualien Runtuhkan Jembatan Baru
Gempa berkekuatan 7,2 skala Richter di Hualien pada hari Rabu (3 April) menyebabkan tanah longsor yang dengan cepat menghancurkan Jembatan Xiaqingshui (下清水橋) di Jalan Raya Suhua (蘇花公路).
Jembatan yang runtuh tiba-tiba tersebut menyisakan sebuah jembatan era Jepang yang tersembunyi di sebelahnya. Ternyata, jembatan tersebut sudah terbengkalai dari 50 tahun. Para insinyur menilainya cukup stabil untuk mendukung struktur baja yang digunakan untuk menopang jembatan sementara.
Runtuhnya Jembatan Xiaqingshui adalah kerusakan paling signifikan di Jalan Raya Suhua, menyebabkan lalu lintas berhenti total. Saat para insinyur mulai khawatir tentang perbaikan, tiba-tiba jembatan lama sepanjang 10 meter, muncul.
Jembatan lama itu dibangun pada tahun 1930. Karena terlalu sempit, Biro Jalan Raya memutuskan untuk membangun Jembatan Xiaqingshui yang lebih lebar di sebelah jembatan lama.
Jembatan baru selesai pada tahun 1971, dan jembatan lama era Jepang tersebut ditinggalkan. Namun, setelah gempa bumi, jembatan lama tersebut muncul kembali sebagai jalan akses sementara dengan sedikit modifikasi.
Para insinyur memperkuat jembatan lama dengan 20 balok I yang membentang 12 meter di dek jembatan, sehingga mampu menahan bobot kendaraan kecil. Proyek perbaikan jembatan telah selesai dan dibuka untuk lalu lintas pada pukul 6 sore pada hari Sabtu (6 April), 3 hari setelah jembatan rubuh.
Hanya kendaraan kecil dengan berat kurang dari lima ton yang diizinkan melewati jembatan ini. Penyeberangan akan dibatasi hanya satu jam pada pukul 7 pagi, 12 siang, dan 5 sore setiap hari.
Biro Urusan Budaya Kabupaten Hualien mengatakan bahwa jembatan lama tidak memiliki status warisan budaya yang dilindungi.

(foto: Facebook, Jack Omnixri)
SOSOK
Yang Cho-cheng, Arsitek Masjid Daan Taipei
Masjid Agung Taipei adalah masjid pertama yang dibangun di Taiwan. Sejak awal, masjid ini telah menjadi jembatan penting dalam membantu Taiwan mengembangkan hubungan diplomatik, budaya, dan ekonomi dengan negara-negara Islam. Mengunjungi Masjid telah menjadi kegiatan yang wajib dilakukan bagi pemimpin dunia Islam yang berkunjung ke Taiwan. Ini bukan hanya tempat ibadah bagi umat Muslim di Utara Taiwan, tetapi juga tempat di mana kelompok-kelompok agama seperti Chinese Muslim Association berada, menjadikannya pusat agama dan administratif dari komunitas Muslim Taiwan. Selain itu, dengan beragam elemen Islamnya, Masjid Agung Taipei telah menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat umum dan sekolah-sekolah di Taipei untuk belajar tentang budaya Islam.
Masjid Agung Taipei dibangun di Jalan Lishui pada tahun 1950-an (1951 - 1961), menggantikan rumah-rumah Jepang yang sebelumnya berdiri di lokasi tersebut. Itu dibangun untuk memfasilitasi interaksi antara Taiwan dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah.
Pembangunan masjid ini diajukan secara bersama-sama oleh ketua Chinese Muslim Association saat itu, Bai Chongxi (1893 - 1966), dan Menteri Luar Negeri Yeh Gong-Chao (1904 - 1981). Proyek ini didanai oleh pemerintah Arab Saudi dan sekutu-sekutu Islam lainnya, sementara bangunannya dirancang oleh arsitek terkenal Yang Cho-cheng (1914 - 2006), yang menggabungkan gaya arsitektur Islam Ottoman dan Persia untuk menciptakan kubah, riwaq (arkade), dan menara-menara yang sangat indah. Sejak dibangun pada tahun 1960, raja-raja, presiden, dan pemimpin negara-negara Islam sering mengunjungi Masjid Agung Taipei selama berada di Taiwan, menjadikannya bangunan Islam paling ikonik dan terkenal di negara itu. Kubah dan menaranya telah menjadi landmark di kota Taipei.
Mengenai Yang Cho-cheng
Yang Cho-cheng (Tionghoa: 楊卓成; pinyin: Yáng Zhuōchéng; 1914 – 26 November 2006) adalah seorang arsitek Tiongkok yang terkenal di dunia internasional. Salah satu karya terkenalnya adalah Chiang Kai-shek Memorial Hall, sebuah landmark utama di Taipei – dengan desainnya dipilih dari entri-entri dalam kompetisi internasional.
Banyak karya lainnya yang telah menjadi landmark terkenal di Taiwan: Grand Hotel Taipei, National Theater and Concert Hall, the Shilin Official Residence, Taipei Grand Mosque, Cihu Presidential Burial Place (Taoyuan), Central Bank of the Republic of China (Taiwan) Building, and the Zhongxing New Village.
Yang telah berkarya selama lebih dari 60 tahun. Meskipun dia terkenal dengan keahliannya dalam arsitektur gaya Tionghoa, dia juga merupakan ahli terkemuka dalam manufaktur, teknologi tinggi, keuangan, seni pertunjukan, dan arsitektur komersial/perumahan. Dia juga merancang fasilitas manufaktur untuk Radio Corporation for America, Philips, Timex, Texas Instruments di Taiwan; serta untuk perusahaan farmasi seperti “Eli Lilly and Company” dan “Roche”
Ketika dia mendekati usia 80 tahun, dia merancang pabrik semikonduktor untuk TI-Acer. Pabrik TI-Acer mungkin merupakan fasilitas awal di dunia semikonduktor, tetapi bangunan itu sendiri masih menjadi salah satu fasilitas semikonduktor terbaik di Taiwan. Ini adalah salah satu dari sedikit pabrik yang mampu memenuhi s standar yang sangat tinggi dalam hal ketiadaan getaran dan spesifikasi ruang bersih Kelas A.
Yang mendedikasikan hidupnya untuk meningkatkan citra internasional Taiwan, dan karyanya secara implisit meningkatkan perkembangan berbagai industri di Taiwan. Selain itu, National Theater and Concert Hall juga memfasilitasi perkembangan seni pertunjukan di Taiwan hingga sekarang..

(foto: https://www.chinese-heritage.com/)
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
