Kekurangan Tenaga Kerja di Industri Akomodasi Capai 5.000–6.000 Orang, Hanya 1 Mahasiswa Asing Jurusan Pariwisata yang Masuk Sektor Ini
Industri akomodasi diperkirakan kekurangan tenaga kerja sekitar 5-6 ribu orang. Namun saat ini, hanya satu mahasiswa asing dari jurusan pariwisata yang mengajukan permohonan untuk bekerja di sektor ini. Mahasiswa magang asing yang sebelumnya menjadi sumber tenaga kerja penting juga mengalami penurunan jumlah karena masalah identitas palsu. Ditjen Pariwisata Kementerian Transportasi pun sedang berupaya meminta Kementerian Tenaga Kerja untuk melonggarkan persyaratan serta meningkatkan pemahaman lembaga-lembaga Asia Tenggara terhadap jalur magang, guna menarik lebih banyak mahasiswa magang ke Taiwan.
Pada Agustus tahun lalu, Kementerian Tenaga Kerja membuka peluang bagi mahasiswa asing dan Tionghoa perantauan (qiaosheng) untuk bekerja di industri akomodasi. Namun, hanya satu mahasiswa asing dari jurusan pariwisata yang mengajukan permohonan kerja di sektor akomodasi, sementara belasan lainnya yang mendaftar di sektor akomodasi berasal dari jurusan non- pariwisata. Jumlah mahasiswa magang asing yang bekerja masih di bawah 500 orang, jauh dari cukup untuk menutupi kekurangan tenaga kerja.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Hotel dan Penginapan Taiwan, Chuo Chien-hui (卓倩慧) mengungkapkan bahwa sulit mencari warga Taiwan yang bersedia bekerja di sektor layanan. Sebelum ada pembukaan izin bagi pekerja migran, industri untuk sementara bergantung pada mahasiswa asing dan mahasiswa magang dari luar negeri. Namun, mahasiswa magang asing harus kembali ke negaranya setelah memperoleh kredit akademik, dan mahasiswa asing yang berasal dari keluarga mampu juga sulit untuk bertahan di Taiwan. Sementara itu, Jepang semakin agresif merebut tenaga kerja dari Taiwan dan luar negeri, sehingga jumlah mahasiswa yang memilih tetap tinggal di Taiwan tidak sesuai harapan.
Chuo Chien-hui juga menambahkan bahwa kekurangan tenaga kerja tahun ini lebih parah dibanding tahun lalu. Dulu, industri cukup terbantu oleh mahasiswa magang dari Indonesia. Namun, pemerintah Indonesia menemukan bahwa banyak mahasiswa magang dari Indonesia di Taiwan sebenarnya bukan mahasiswa dari sistem universitas yang sah. Pemerintah Indonesia kini tengah melakukan penertiban, yang mengakibatkan penurunan jumlah tenaga kerja hingga dua pertiga. Saat ini, industri akomodasi dan restoran kekurangan lebih dari 50% tenaga kerja. Pelatihan karyawan hingga siap kerja butuh waktu setengah hingga satu tahun. Karena itu, pihaknya berharap masa tinggal pekerja migran dapat diperpanjang menjadi tiga hingga lima tahun.
Gaji Bulanan Hotel Berbintang Sudah Melebihi 40 Ribu Dolar Taiwan
Mengenai kritik terhadap rendahnya gaji di sektor akomodasi, Chuo Chien-hui mengakui bahwa hotel biasa memang memberikan gaji lebih rendah, sehingga menurunkan rata-rata gaji di industri ini. Namun, untuk hotel berbintang, gaji bulanan staf kebersihan atau housekeeping sudah melebihi NT$35 ribu. Ditambah bonus, lembur, dan tunjangan lainnya, total pendapatan bisa melampaui NT$40, jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi, yakni sekitar NT$28 ribu.
Ditjen Pariwisata menyatakan akan terus berupaya meminta pelonggaran persyaratan kepada Kementerian Ketenagakerjaan, seperti memperpanjang masa tinggal tenaga kerja yang ada serta melonggarkan batasan status identitas. Direktur Jenderal Biro Pariwisata, Chou Yung-hui (周永暉), mengatakan bahwa banyak negara Asia Tenggara masih kurang memahami jalur magang ke Taiwan. Oleh karena itu, pihaknya akan meningkatkan komunikasi melalui kantor perwakilan luar negeri, guna memperkenalkan lebih banyak mahasiswa magang ke Taiwan.
Pekerja Migran Indonesia di Taoyuan Tewas Tertabrak Truk Besar saat Menerobos
Sebuah kecelakaan maut terjadi di Jalan Jilin, Distrik Zhongli, Kota Taoyuan, sekitar pukul 07.00 6 Juni. Seorang PMI, sebut saja Yanto (nama samaran) berusia 34 tahun, mengendarai sepeda motor tanpa surat izin mengemudi dan membonceng temannya. Saat lampu merah berubah hijau, ia memaksa menerobos celah sempit di antara truk besar dan trotoar. Tanpa disadari, ia masuk ke dalam titik buta (blind spot) truk besar itu. Sopir truk berusia 63 tahun bermarga Liu, tidak melihat Yanto sehingga terjadilah tabrakan. Yanto terjatuh dan terlindas truk. Ia mengalami henti jantung di tempat dan dinyatakan meninggal setelah dibawa ke rumah sakit. Sementara itu, temannya selamat tanpa luka.
Kepolisian Zhongli mengungkapkan bahwa pada saat kejadian, truk besar sedang mulai berjalan saat lampu hijau menyala dan tidak melanggar aturan. Sementara, Yanto tidak menjaga jarak aman dan berkendara di area titik buta truk, yang akhirnya menyebabkan tragedi ini. Hasil penyelidikan juga menunjukkan bahwa pengendara tidak memiliki SIM Taiwan maupun SIM internasional.
Kepolisian Zhongli terus meningkatkan penindakan terhadap pelanggaran yang dilakukan kendaraan besar. Jumlah penindakan pada tahun ini (Januari–Mei) meningkat 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara jumlah korban kecelakaan lalu lintas mengalami penurunan sebesar 3,7%. Kepala kepolisian Zhongli, Lin Ding-tai, mengimbau bahwa karena kendaraan besar memiliki banyak titik buta, maka pengendara mobil, sepeda motor, sepeda, serta pejalan kaki harus menjaga jarak aman saat berada di jalan dan berpapasan dengan kendaraan besar, guna mencegah terjadinya kecelakaan.
Wawancara Yericha Putri Wijaya: Mengisi Waktu dengan Berbagai Kegiatan dan Organisasi, Bercita-cita untuk Berkecimpung dalam Bidang Kemanusiaan
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
