Rumah Detensi Ditjen Imigrasi Taipei Ajak WNA Membuat Bakcang
Rumah Detensi Ditjen Imigrasi Taipei pada 1 Juni mengadakan kegiatan budaya “Jalin Rasa dengan Bakcang, Rayakan Festival Perahu Naga Bersama”. Penghuni rumah detensi dari berbagai negara seperti Vietnam, Thailand, Indonesia, dan Filipina diajak merasakan suasana perayaan Festival Perahu Naga, sekaligus bersama-sama belajar membuat bakcang dan melakukan pertukaran budaya, menunjukkan hangatnya semangat keberagaman.
Rumah Detensi Ditjen Imigrasi Taipei, yang terletak di Sanxia, New Taipei, menggantikan kantor penahanan lama di Hsinchu dan Yilan yang dulu dikenal sebagai Rumah Jinglu, kini menampung ratusan warga asing yang menunggu pemulangan. Kegiatan ini membantu mereka, khususnya warga Vietnam, Thailand, Indonesia, dan Filipina, mengurangi rasa rindu kampung halaman saat momen perayaan, sambil mengenal budaya bakcang di luar negeri. Para tahanan pun mengikuti acara dengan antusias dan semangat.
Petugas menjelaskan asal-usul Festival Festival Perahu Naga serta cara membuat bakcang. Awalnya, para tahanan bingung dan canggung karena tidak terbiasa membungkus bakcang, bahkan tertawa geli melihat teman-temannya juga kesulitan. Namun, setelah diajari, mereka mulai menguasai tekniknya, saling belajar, dan berinteraksi hangat. Kegiatan membungkus bakcang ini tidak seru, tetapi juga memperdalam pemahaman mereka terhadap budaya Taiwan.
Rumah Detensi Ditjen Imigrasi Taipei terus memperkuat pendekatan yang lebih manusiawi, memperbaiki lingkungan penahanan, serta rutin mengadakan berbagai kegiatan perhatian sosial untuk menenangkan hati para penghuni yang menunggu pemulangan. Kepala Rumah Detensi Taipei, Zheng Yao-zhen (鄭曜䅞) mengungkapkan bahwa Ditjen Imigrasi menjalankan prinsip “menghormati keberagaman, menghargai perbedaan,” dengan terus menyelenggarakan kegiatan lintas budaya. Ditjen Imigrasi tidak hanya merangkul budaya asal para penghuni, tetapi juga membantu mereka memahami bahwa masyarakat Taiwan menjunjung nilai inklusif dan keberagaman.

(Foto: 記者吳仁捷翻攝/ LTN)
Warga Tainan Nikmati Kuliner Penduduk Imigran Baru di Festival Perahu Naga
Beberapa waktu lalu, Legislator Tainan Huang Zhao-hui (黃肇輝), menggelar acara kuliner internasional bertema Festival Perahu Naga di Pusat Kegiatan Nanwan, Distrik Yongkang. Selain bakcang Vietnam dan Indonesia, tetapi panitia juga menghadirkan aneka hidangan lezat dari India, Vietnam, dan Thailand. Acara ini semakin meriah dengan pertunjukan tari tradisional serta perkenalan adat istiadat Penduduk Imigran Baru.
Penduduk Imigran Baru asal Indonesia memperkenalkan bakcang manis (kicang) khas Indonesia, yang dibungkus dengan daun kelapa — sayangnya sulit ditemukan di Taiwan. Selain itu, mereka juga menyajikan kari ayam dan nasi tumpeng
Sementara itu, penduduk imigran baru asal Thailand memperkenalkan nila goreng saus tiram khas Thailand, ditambah tumis seledri. Mereka juga menjelaskan bahwa masakan khas Thailand lainnya mencakup phat kaphrao (daging babi tumis kemangi), salad pepaya muda dengan saus ikan, serta cocolan gula kelapa.
Huang Zhao-hui mengatakan, makanan yang paling ikonik di Taiwan saat Festival Perahu Naga tentu saja adalah bakcang. Namun banyak orang tidak tahu bahwa negara asal para Penduduk Imigran Baru juga punya festival serupa dan makanan khas mereka sendiri. Karena itulah, kantor layanan mengadakan acara perayaan bersama ini, agar warga lokal bisa saling mengenal dan menjalin pertukaran budaya lintas negara.

(foto:記者周宗禎 UDN)
Daging Fillet Ini telah Kedaluwarsa 2 Tahun, tapi Terjual lebih dari 10 Ribu Potong
Sebuah perusahaan makanan yang berlokasi di Changhua telah mengubah tanggal kedaluwarsa puluhan ribu daging babi goreng, lalu memasukkannya kembali ke toko berantai, pembelian grup Line, dan bahkan menjualnya melalui siaran langsung Facebook. Hal itu baru terungkap tahun 2024 lalu. Akan tetapi, selama kurun waktu tersebut, puluhan ribu daging babi telah dimakan oleh konsumen, dan banyak di antaranya bahkan telah kedaluwarsa selama lebih dari dua tahun. Setelah menyelesaikan penyelidikan per 29 Mei 2025, Kantor Kejaksaan Distrik Kaohsiung mengajukan tuntutan atas pelanggaran Undang-Undang Keamanan Pangan dan meminta hukuman berat selama lebih dari dua tahun.
Kantor Kejaksaan Distrik Kaohsiung menunjukkan bahwa sejumlah daging babi kedaluwarsa dengan masalah keamanan pangan ini dikirim oleh sebuah perusahaan daging di selatan ke Perusahaan Makanan Quan Fangwei (全芳味食品公司) pada bulan April 2022, dengan total 23.160 potong, dan tanggal kedaluwarsanya 16 September 2022. Daging babi ini awalnya dijual oleh Perusahaan Quan Fangwei di toko-toko atau melalui grup pembelian LINE, tetapi penjualannya ternyata sangat buruk. Setelah tanggal kedaluwarsa, hanya kurang dari 2.000 potong yang terjual, dan lebih dari 20.000 potong masih belum terjual.
Bos Quan Fangwei, Tn. Cai, tidak mau menerima kerugian besar, jadi ia mulai mengangkut daging babi goreng di dalam freezer ke gudang mulai Oktober 2022. Ia mempekerjakan pekerja asing sementara untuk menghapus tanggal produksi dan kedaluwarsa dengan penghilang noda dan mencetak ulang tanggal kedaluwarsa palsu. Setelah itu, ia terus menjual daging babi kedaluwarsa ini kepada konsumen yang tidak menaruh curiga di toko-toko perusahaan atau melalui pembelian grup LINE, seharga NT$80 untuk satu bungkus isi 3 potong. Sebanyak 7.560 daging babi terjual, tetapi lebih dari 10.000 potong masih belum terjual.
Tanpa diduga, setelah Juni tahun lalu, ia mengirim 600 potong daging babi lagi ke lelang langsung di Facebook, dan 3.600 potong daging babi ke jaringan supermarket di Tainan dan Kaohsiung. Tanggal kedaluwarsa daging babi yang telah kedaluwarsa ini diubah berulang kali menjadi 19 Juni 2025.
Baru pada bulan Oktober tahun lalu, karyawan pemasok daging fillet hulu secara tidak sengaja menemukan bahwa produk belanja daring dari jaringan toko swalayan itu sebenarnya berisi produk daging babi yang sudah tidak diproduksi oleh perusahaan mereka sejak tahun 2021, dan bahwa kumpulan produk itu seharusnya sudah ditarik dari pasaran pada tahun 2022. Oleh karena itu, mereka mengajukan gugatan hukum ke Kantor Kejaksaan Distrik Kaohsiung dan menuntut bos bermarga Cai, yang membeli barang dari hilir, untuk menarik kembali produk tersebut.
Jaksa Lee Yu-tzu, Wu Shu-yi, Lu Shang-en, dan Chang Liang-jing bersama-sama menyelidiki kasus daging babi kedaluwarsa. Kantor Investigasi Kota Kaohsiung, Brigade Keamanan ke-7, Kepolisian Kota Kaohsiung, serta Biro Kesehatan Kota Kaohsiung dan Biro Kesehatan Kabupaten Changhua melakukan penggeledahan di Perusahaan Quan Fangwei dan menyita rincian impor dan ekspor daging babi, serta sejumlah besar makanan kedaluwarsa yang disimpan di gudang beku yang tersisa.
Diperkirakan puluhan ribu daging babi kedaluwarsa telah dimakan oleh konsumen yang tidak memiliki informasi, yang dapat membahayakan sistem pencernaan orang tua, anak kecil, wanita hamil, dan konsumen yang lemah.
Jaksa menunjukkan bahwa kepala Quanfangwei, Cai, diduga melanggar Undang-Undang Manajemen Keamanan dan Higiene Pangan, yang cukup serius untuk membahayakan kesehatan manusia, dan diduga melakukan penipuan, pemalsuan dokumen, dan penandaan palsu. Dia memalsukan tanggal kedaluwarsa dan menjual makanan kedaluwarsa selama 2 tahun. Lebih dari 10.000 daging babi kedaluwarsa dimakan oleh konsumen, mengabaikan keamanan pangan. Oleh karena itu, dia dituntut dan dijatuhi hukuman lebih dari 2 tahun penjara. Pada saat yang sama, Perusahaan Quanfangwei didenda 5 juta NTD dan penyitaan 300.000 NTD hasil kejahatan.

(foto:爆料社)
TCPA Gelar Lokakarya Pertunjukan Lintas Budaya, Didik Ninik Thowok Ajarkan Tarian Jawa
Perguruan Tinggi Seni Pertunjukan Nasional Taiwan (TCPA) menyelenggarakan "Lokakarya Pertunjukan Lintas Budaya 2025" dengan mengundang para seniman pertunjukan dari Prancis, Belgia, Singapura, dan Indonesia untuk datang dan berbagi di kampus. Melalui pelatihan pertunjukan lintas budaya, para seniman ini membimbing para dosen dan mahasiswa TCPA serta rombongan dari Universitas Paris 8, untuk merasakan secara mendalam daya tarik seni tubuh, seni suara, dan terapi drama.
Rektor TCPA Li Yang (李揚) menyatakan bahwa program lokakarya ini sangat beragam, dengan tema mencakup drama, suara, pengembangan tubuh, serta terapi drama. Ia berharap pertukaran seni pertunjukan dari berbagai negara ini dapat memperluas wawasan dalam seni peran dan sekaligus memperdalam rasa hormat dan pemahaman terhadap keberagaman budaya.
Akademisi dari Fakultas Teater Universitas Paris 8, Giulia Fila-canapa, memperkenalkan pertunjukan topeng komedi yang berasal dari Italia. Ia membimbing peserta untuk mengenali berbagai karakter topeng tradisional, serta menggunakan suara, tubuh, dan ruang untuk membantu peserta masuk ke dalam karakter. Ia menekankan bahwa improvisasi bukanlah kebebasan tanpa aturan, melainkan dibangun atas dasar pemahaman mendalam terhadap karakter, gerakan tubuh, dan interaksi dengan panggung.
Cai Bi-xia (蔡碧霞), Direktur Artistik Pusat Seni Tradisional Singapura, berbagi pelatihan seni pertunjukan xiqu (opera tradisional). Dengan penjelasan yang menarik, ia memperkenalkan gerakan dasar seperti xiao wuhua (tarian kecil), langkah huruf T (dingzi bu), serta latihan tongkat (bazi gong) kepada peserta, agar mereka memahami teknik gerakan khas dalam seni tradisional opera Hokkien Singapura.
Maestro tari nasional Indonesia, Didik Nini Thowok, memperkenalkan topeng tradisional dan tari khas Jawa. Ia membimbing peserta mengenakan dua selendang yang disilangkan di bahu dan diikat dengan sabuk. Sebelum setiap pertunjukan, terdapat ritual berdoa, yang memperkenalkan peserta mengenai ritual dalam tarian Jawa.

(foto:TCPA)
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 

