Jadi Agen Pekerja Migran Kaburan, Pria Taiwan Dihukum 6 Bulan
Seorang pria bermarga Lü di Keelung sejak Mei dua tahun lalu mulai menyalurkan pekerja migran kaburan kepada majikan yang membutuhkan perawat dan mengambil komisi dari sana. Kasus ini terungkap setelah polisi dan petugas imigrasi menangkapnya pada 12 Januari 2024. Setelah penyelidikan, petugas hukum menetapkan bahwa Lü telah melakukan empat pelanggaran, sehingga dia dikirim ke pengadilan dengan tuduhan kejahatan pelanggaran kepercayaan. Baru-baru ini, Pengadilan Distrik Keelung menyelesaikan sidang dan menjatuhkan hukuman 6 bulan penjara dengan masa percobaan 2 tahun.
Jaksa membuktikan bahwa Lü mengetahui bahwa siapa pun tidak boleh menyalurkan tenaga kerja asing secara ilegal dan bahwa pekerja asing tidak boleh bekerja di Taiwan tanpa izin. Namun, saat menerima permintaan dari majikan bermarga Li dan Cheng untuk mencari perawat, ia malah merekrut pekerja migran kaburan. Lü kemudian mengambil komisi dari gaji mereka, berkisar antara NT$500-1.000 per hari.
Pada 12 Januari tahun lalu, sekitar sore hari, polisi bersama petugas imigrasi melakukan razia di Rumah Sakit Chang Gung Keelung dan menangkap seorang pekerja migran kaburan asal Indonesia bernama Mariyati. Setelah diinterogasi, diketahui bahwa dia bekerja melalui perantara Lü dengan gaji harian NT$2.500 NTD, di mana 500 NTD harus diserahkan kepada Lü.
Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa pada 2023, Lü juga telah menyalurkan tiga pekerja migran kaburan lainnya untuk bekerja sebagai perawat dan tetap mengambil komisi dari gaji mereka, dengan jumlah tertinggi mencapai NT$1.000 per hari.
Hakim menilai bahwa Lü telah melakukan empat pelanggaran dan harus dihukum secara akumulatif. Ia dikenai hukuman atas pelanggaran kepercayaan yang lebih berat, dan mempertimbangkan bahwa ia mengakui perbuatannya, bersikap kooperatif, serta jumlah keuntungan ilegal yang diperolehnya tidak terlalu besar. Oleh karena itu, dia dijatuhi hukuman 6 bulan penjara, yang dapat ditebus dengan denda sebesar NT$180.000.
Karena Lü tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya dan hanya melakukan pelanggaran karena kelalaian sesaat, serta menunjukkan penyesalan selama penyelidikan dan persidangan, pengadilan memutuskan untuk memberikan masa percobaan selama 2 tahun dengan pengawasan perlindungan selama periode tersebut.

(foto: LTN)
Kemendik Taiwan Kirim 60 Ribu Mahasiswa Pertukaran Pelajar ke Luar Negeri dalam 18 Tahun
Kementerian Pendidikan Taiwan menjalankan program "Studi ke Luar Negeri (學海計畫)" untuk mendorong perguruan tinggi memilih mahasiswa berprestasi agar dapat mengikuti studi atau magang di luar negeri. Program ini bertujuan memperluas wawasan internasional dan pengalaman kerja bagi generasi muda. Selama 18 tahun terakhir, sebanyak 60.000 mahasiswa telah dikirim ke 90 negara, dengan Amerika Serikat dan Jepang sebagai tujuan utama. Tapi, ada juga mahasiswa yang dikirim ke negara seperti Serbia atau Uganda. Pendaftaran tahun ini dibuka hingga 31 Maret pukul 12 malam.
Menurut Lin Xiao-ying selaku Kepala Departemen Hubungan Internasional Kementerian Pendidikan, program Studi ke Luar Negeri terbagi menjadi empat sub-program:
- Studi ke Luar Negeri Feiyang (學海飛颺)
- Studi ke Luar Negeri Xizhu (學海惜珠)
- Studi ke Luar Negeri Zhumeng (學海築夢)
- Studi ke Luar Negeri Kebijakan Baru ke Arah Selatan (新南向學海築夢)
Program Feiyang dan Xizhu berfokus pada pengiriman mahasiswa ke universitas luar negeri untuk mengambil kredit, dengan durasi minimal satu semester dan maksimal satu tahun.
Sementara itu, Zhumeng dan Kebijakan Baru ke Arah Selatan berfokus pada pengiriman mahasiswa ke berbagai negara, termasuk negara dalam kebijakan New Southbound Policy, untuk mengikuti program magang minimal 30 hari (khusus Indonesia 25 hari).
Lin Xiao-ying juga menjelaskan bahwa keempat sub-program ini memberikan subsidi tiket pesawat pulang-pergi kelas ekonomi dan sebagian biaya hidup. Sebagai contoh, dalam program Feiyang, Kementerian Pendidikan memberikan subsidi antara NT$50.000 hingga NT$300.000 per mahasiswa. Besaran subsidi dapat disesuaikan berdasarkan anggaran tahunan Kementerian Pendidikan, dan masing-masing perguruan tinggi berhak menentukan jumlah subsidi yang diberikan kepada mahasiswa mereka. Subsidi dapat mencakup tiket pesawat pulang-pergi, biaya kuliah di luar negeri, dan biaya hidup.
Menurut statistik Kementerian Pendidikan, sejak dimulai pada tahun 2007, program ini telah memberikan manfaat kepada hampir 60.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Taiwan, yang telah dikirim ke lebih dari 90 negara. Amerika Serikat dan Jepang menjadi dua tujuan utama, namun ada juga mahasiswa yang dikirim ke negara yang lebih unik seperti Serbia dan Uganda untuk program magang. Program ini telah mendapat sambutan positif dari universitas dan mahasiswa di Taiwan.
Perguruan tinggi di Taiwan dapat mengajukan permohonan untuk mengikuti program ini dengan mengajukan proposal dan daftar mahasiswa terpilih melalui situs resmi Studi ke Luar Negeri. Kementerian Pendidikan akan meninjau proposal dan menentukan jumlah subsidi bagi setiap perguruan tinggi. Untuk informasi lebih lanjut, mahasiswa dapat mengunjungi situs resmi program Studi ke Luar Negeri. (https://www.studyabroad.moe.gov.tw/new/index/portal)\

(foto: LTN)
20 Kota Kuliner Terbaik di Dunia 2025 Diumumkan! Siapakah Juaranya?
Majalah budaya ternama Inggris, Time Out, merilis daftar kota kuliner terbaik dunia untuk tahun 2025. Dari 20 kota yang masuk dalam peringkat, New Orleans, Amerika Serikat, meraih posisi teratas, diikuti oleh Bangkok di peringkat kedua, dan Medellín, Kolombia, di peringkat ketiga.
Time Out mengumpulkan hasil survei dari sekitar 18.500 responden di seluruh dunia dan baru-baru ini mengumumkan 20 kota kuliner terbaik dunia. New Orleans (Amerika Serikat) dinobatkan sebagai juara karena memadukan cita rasa kuliner dari Prancis, Spanyol, Vietnam, dan Afrika. Kota ini menawarkan beragam hidangan klasik di setiap sudutnya. Jika hanya bisa mencicipi satu makanan, maka hidangan wajibnya adalah udang karang (crawfish), meskipun makanan ini bersifat musiman.
Peringkat kedua ditempati oleh Bangkok, Thailand. Time Out menyebut Bangkok terkenal dengan jajanan kaki limanya yang mendunia. Disarankan bagi wisatawan untuk mengikuti arus keramaian untuk menemukan makanan terbaik, atau menjelajahi kawasan kota tua dan Pecinan untuk berburu kuliner.
Di posisi ketiga ada Medellín, Kolombia. Di kota ini, makanan tersedia dalam berbagai rentang harga, dan 89% penduduk setempat mengaku bahwa makan di restoran sangat terjangkau.
Peringkat keempat hingga kesepuluh diisi oleh:
4. Cape Town, Afrika Selatan
5. Madrid, Spanyol
6. Mexico City, Meksiko
7. Lagos, Nigeria
8. Shanghai, Tiongkok
9. Paris, Prancis
10. Jakarta, Indonesia
Sedangkan peringkat ke-11 hingga ke-15 adalah:
11. Marrakech, Maroko
12. Lima, Peru
13. Riyadh, Arab Saudi
14. Mumbai, India
15. Abu Dhabi, Uni Emirat Arab
Terakhir, peringkat ke-16 hingga ke-20 adalah:
16. Kairo, Mesir
17. Porto, Portugal
18. Montreal, Kanada
19. Napoli, Italia
20. San José, Kosta Rika

(foto: Canva)
Kepala KDEI Taipei, Arif Sulistiyo, Bertemu dengan Penulis Taiwan yang Menulis Buku tentang Indonesia
Pada 13 Maret, Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Arif Sulistiyo, bertemu dengan penulis asal Taiwan, Ms. Jennifer Lai, yang baru saja menerbitkan buku berjudul 印尼現在進行式 (Indonesia in Real Time). Buku ini mengupas pengalaman pribadinya selama lebih dari dua dekade tinggal, bekerja, dan beradaptasi di Indonesia, menjadikannya sebagai referensi berharga bagi masyarakat Taiwan yang ingin memahami Indonesia secara lebih mendalam.
Dalam pertemuan tersebut, Arif Sulistiyo selain menyampaikan apresiasinya atas dedikasi Ms. Jennifer Lai yang sangat cinta dengan kebudayaan Indonesia dalam memperkenalkan Indonesia kepada publik Taiwan juga memberikan cinderamata buku mengenai resep dan masakan khas Indonesia yang dapat dijumpai di Taiwan. Sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Taiwan, baik dalam aspek budaya maupun peluang investasi. Arif Sulistiyo berharap buku ini dapat menjadi jembatan untuk lebih mempererat hubungan antara masyarakat Taiwan dan Indonesia.
Buku Indonesia in Real Time menawarkan wawasan yang kaya tentang berbagai aspek kehidupan di Indonesia, mulai dari tradisi masyarakat, tantangan dalam berbisnis, hingga perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi dalam dua dekade terakhir. Dengan gaya penulisan yang ringan namun informatif, Ms. Jennifer Lai berhasil menyajikan pengalaman pribadinya dalam memahami keanekaragaman Indonesia.
(foto: KDEI Taipei)
Jennifer Lai Bagikan Pengalaman Culture Shock di Indonesia Lewat Buku “Indonesia in Real Time”
Di bukunya yang berjudul Indonesia in Real Time, Jennifer Lai menulis betapa terkejutnya dia saat melihat petugas kebersihan perempuan di gedung-gedung, petugas keamanan, hingga kasir di supermarket sering terlihat bekerja dengan riasan tebal, sangat berbeda dengan orang Taiwan yang lebih sering bekerja tanpa make-up atau hanya memakai riasan tipis.
Dia mengaku hampir tidak pernah melihat perempuan di negara lain yang begitu memperhatikan penggunaan riasan tebal sebagai bentuk penghormatan terhadap pekerjaan dan keseriusan dalam menghadiri suatu acara.
Selanjutnya adalah gaya rambut. Dalam acara jamuan/ pesta, perempuan (terutama wanita tua) akan menyasak rambutnya hingga mengembang. Prinsipnya, rambut harus diangkat sekitar 5 hingga 10 cm dari kulit kepala, kemudian disemprot dengan banyak hairspray agar gaya rambutnya tetap kokoh sepanjang acara.
Ketika pertama kali datang ke Indonesia, acara resmi yang dia hadiri adalah pernikahannya sendiri.Saat itu, ia melihat banyak sekali perempuan yang hadir dengan gaya rambut disasak tinggi. Hal ini mengingatkannya pada acara televise Taiwan di tahun 80-an.
Saat ini, generasi muda sudah jarang menyasak rambut mereka tinggi-tinggi, dan memilih mengeriting rambut mereka.
Bukan hanya untuk menghadiri pesta, bahkan saat makan siang santai atau berkumpul di akhir pekan bersama teman-teman perempuan, tatanan rambut yang rapi dan tertata tetap menjadi semacam kesepakatan tidak tertulis.
Untuk acara formal, pria umumnya mengenakan Batik, sedangkan perempuan mengenakan gaun malam yang dihiasi payet, memiliki aksen mencolok, serta desain potongan yang elegan. Menurut Jennifer, ini mirip dengan busana yang dikenakan para bintang di karpet merah sebelum malam penganugerahan Oscar.
Di Taiwan, perempuan bisa mengenakan gaun, setelan, atau pakaian apa pun yang mereka anggap cantik dan nyaman untuk menghadiri acara jamuan. Namun, di sini, pakaian seperti itu akan terasa kurang sesuai dengan suasana acara.
Sejak dulu, Jennifer selalu berpegang teguh pada prinsip menjadi diri sendiri, sehingga dia tetap berpakaian sesuai kebiasaan di Taiwan ketika menghadiri pesta pernikahan atau acara serupa.
Suatu kali, dia mengenakan gaun terusan sederhana yang menurutnya sudah cukup pantas dan indah untuk menghadiri pernikahan adik perempuan seorang teman Indonesia. Namun, ketika temannya datang menyambut dengan gaun besar berwarna kuning keemasan yang mirip dengan gaun Belle dalam film Beauty and the Beast, dia langsung menyadari dari tatapan matanya bahwa gaun sederhana yang dia pakai tampak kurang sopan.
RTI Radio Taiwan International
RTI Radio Taiwan International 
